Be you’re hero (sequel daydream [part 5])
Author : Rina Chan
Cast : Lee Hyuk Jae
Kang Rae Hwa (OC)
Park Chanyeol
Other cast : Lee Donghae, Kim Yoora, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin, Byun Baekhyun
Do Kyungsoo, Kang Rae Suk
(OC), Kang Hyun Sun (OC), etc....
Genre : NC 17, tragedy, romance, chapter
>>> Typo bertebaran!! <<<
Desclimer : mungkin ini akan jadi par terakhir disequel ini,
dan ku harap kalian menyukainya. Terima kasih jika sudah mau membaca karya gaje
ini. ^^
Aku juga ingin minta maaf, jika ada kesamaan alur, tokoh atau apapun.
Semuanya karena unsur ketidak kesengajaan kok, *bukan berarti aku plagiator ya*.
Oh! Kalaupun nc-nya sangat gak ada, itu karena aku lebih menekankan pada sudut
tragedynya (mungkin dipart ini ada). Maaf sekali lagi jika mengecewakan
*bungkuk 90
berkali-kali*. Oke deh... sampai jumpa dikarya
ku yang lain, *bow*
======== Happy Reading ========
“____aku akan memegangmu, aku akan memelukmu, aku harap hal ini dapat
membuatmu sedikit nyaman. Tidak apa-apa meskipun kau tidak tau bagaimana aku
ingin selalu memberimu lebih____” (Super Junior
– no other)
Seorang gadis kecil tengah menangis dengan keras ditengah-tengah lobi
di rumah megah tersebut. Dia beberapa kali memukuli tubuhnya dengan tangan
mungil tersebut dengan sangat keras hingga menyebabkan memar karena pukulannya
tersebut. Seorang gadis kecil lain mendekatinya dan menahan kedua tangan
tersebut agar berhenti untuk memukul tubuhnya sendiri.
“Lepaskan! Apa kau tidak tau, bagaimana rasa sakit yang aku rasakan.
Eoh?!” bentaknya tidak suka sambil berusaha sambil meronta supaya kedua
tanganya terlepas dari tangan gadis yang berumur satu tahun lebih tua darinya.
“Yoora~ya... berhentilah menyakiti dirimu sendiri, kau tidak sendiri.
Kau masih ada aku, dan juga kedua orang tuaku. Kami sudah menganggapmu seperti
keluarga dan juga adikku,” sahut gadis tersebut berusaha tegar melihat kondisi Yoora
–gadis yang menangis- yang saat ini menyedihkan.
“Lusa kita akan memakamkan kedua orang tuamu Yoora~ya, kau bisa tinggal
dirumah kami sementara waktu.” Ajak seorang pria yang ternyata ayah dari Rae
Hwa –gadis yang lebih tua 1 tahun- tersebut. Sejenak Yoora terdiam sambil
mencerna perkataan pria tua tersebut dan menggeleng lemah.
“Gomawo ahjussi, tapi aku akan tinggal disini saja. Aku masih merasakan
kehadiran appa dan eomma,” balas Yoora lirih dan itu membuat ketiga orang yang
berada ditempat tersebut kembali menangis.
“Kalau begitu, aku akan selalu menemani Yoora. Supaya Yoora tidak
kesepian,” ucap Rae Hwa sambil menggenggam tangan Yoora. Yoora mengangguk
senang mendengar itu.
Author POV
Yoora sedang berjalan menyusuri sebuah lorong yang mengarah kesebuah
pintu yang sudah sangat lama tidak dibukanya. Perlahan dia memasuki ruangan
tersebut yang ternyata adalah sebuah kamar, milik mendiang kedua orang tuanya.
Ruangan tersebut selalu saja bersih dan rapih karena Yoora selalu
membersihkannya, tidak jarang juga dia menangis ketika membersihkan ruangan
tersebut.
Tangannya yang kurus terulur membuka sebuah lemari besar yang berada
didinding. Dia membukanya dan sedikit terbatuk, karena debu yang berasal dari
lemari tua tersebut. Perlahan tapi pasti, tangannya mengambil salah satu dress
yang masih terlihat baru meskipun sudah tidak dipakai selama tujuh belas tahun.
Tidak lupa juga dia mengambil sebuah jas, lengkap dengan dasi, celana, dan
kemeja putihnya. Kondisinya pun tidak berbeda jauh dengan drees tadi.
Setelah itu, dia meletakkan kedua baju tersebut ditempat tidur
berukuran king size yang berada tidak jauh dari lemari tersebut. Sesaat dia
terpekur sambil menatap kearah kedua pasang baju tersebut dan juga sepatu yang
diletakkanya dibawah tempat tidur king size tersebut, tepat dibawah baju yang
ada diatas tempat tidurnya.
Dia menangis tertahan melihat kedua baju tersebut. Awalnya dia berusaha
kuat untuk menceritakan perasaanya saat ini. Tangisannya semakin keras ketika
tangannya memaksakan untuk meraba dengan perlahan kedua pasang baju tersebut.
“Appa... eomma.... haruskah seperti ini jalan hidupku?” ucapnya parau
sambil mengusap air matanya cepat. Ketika dia merasakan sebuah tangan kekar
milik seorang pria yang sudah resmi menjadi suaminya sudah melingkar
dipinggangnya.
“Uljimma.... kau jangan memendam semuanya sendiri, sayang.” Ujar pria
tersebut sambil membalikkan tubuh Yoora dan memluk tubuhnya erat.
“Mianhae oppa.... aku... masih belum bisa melepas mereka, hiks...
aku... hiks... hwanie.... hiks....” sahutnya parau. Eunhyuk –suami Yoora-
mengusap kepala istrinya sayang mencoba menguatkan istrinya yang ternyata
sangat rapuh. Bahkan lebih rapuh dari Rae Hwa.
Sekarang Eunhyuk paham kenapa Rae Hwa meminta dirinya untuk menikahi
gadis yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya tersebut.
“Ahh... sekarang, kembalikan semua baju tersebut kembali ketempatnya
semula. Kajja! Kita diundang makan malam oleh seseorang.”
“Nuguya?” tanya Yoora yang masih sedikit terisak.
Eunhyuk tersenyum lalu mengusap pipi istrinya sayang dan mencup dahinya
pelan, “Rahasia” jawabnya singkat.
Rae Hwa POV
Tanganku masih sibuk menata baju-baju kemeja milik seorang pria yang
sudah resmi menjadi suamiku tiga hari yang lalu. Mulutku masih tidak berhenti
karena terus mengomel tidak jelas akibat tingkahnya yang benar-benar menguji
kesabaranku.
Cklek....
Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sosoknya yang melemparkan
senyum tiga jarinya kearahku. Sedangkan aku hanya menatapnya sekilas sambil
mendengus pelan, lalu kembali subuk menata kemeja miliknya.
“Ya! Kenapa kau malah mengacuhkan aku, eoh?!” protesnya sambil
menghentakkan kakinya mendekat kearahku dan berkacak pinggan disamping tubuhku.
“Untuk apa aku memperhatikanmu yang sejak tadi terus menerus berganti
pakaian, kau itu seorang namja atau yeoja. Park Chanyeol?” jujur saja aku
jengkel ketika melihatnya yang dengan santainya berkata seperti itu setelah
berhasil membuatku jengkel.
Tiba-tiba ku rasakan tangannya telah memelukku dengan erat dari
belakang. Dan menyandarkan dagunya dibahu kananku. Aku tau dia sedang merajuk,
tapi aku memang sudah berniat untuk menjahilinya dan tidak akan memafkannya
dengan mudah, kkkkk~.
“Yeobo.... mianhae, aku tau kau pasti sangat kesal karena aku sudah
membuat semua baju-baju itu berantakan.” Sesalnya dengan suara seperti anak
kecil. Ku lepaskan kedua tangannya yang melingkar dipinggangku dan menutup
pintu lemari, lalu berjalan keluar kamar tidak menghiraukan dirinya yang
berusaha terus membujukku.
Ku dudukkan tubuhku disofa setelah mengambil sekaleng jus jambu.
Chanyeol oppa duduk disampingku dan masih berusaha membujukku supaya aku
memaafkannya. Jujur saja, hati ku saat ini sedang tertawa keras melihat sikapnya yang ternyata sangat
menggemaskan. Haha...
“Omo! Yeollie oppa... ada apa dengan ekspresi wajahmu itu, eoh?” aku
menoleh dan melihat ke arah Rae Suk bersama Donghae oppa yang datang dengan
tatapan berbeda. Jika Rae Suk adalah tatapan heran dan terkejut, sedangkan
Donghae oppa adalah tatapan geli.
“Tumben sekali kalian bermain kemari, bahkan sekarang sejak kau menjadi
yeojachingunya, Donghae oppa sudah tidak pernah bermain kemari lagi.” Ujarku
sambil berjalan menuju Rae Suk yang masih berdiri lalu menariknya untuk duduk
dikursi ruang makan, sedangkan aku duduk disampingnya.
“Wae? Apa kau ingin aku masuk kedalam apartementmu seperti dulu, ck!
Kau sudah menikah dan punya privacy. Tentu saja karena aku khawatir saat itu,
lagipula saat ini kau sudah ada......” sahut Donghae oppa menggantung sambil
menatap kearah Chanyeol oppa yang memasang wajah suntuk karena terus diacuhkan
olehku. Aku mengikuti pandangan Donghae oppa dan kembali memalingkan wajahku
kearah Donghae oppa.
Chanyeol POV
Sikapnya benar-benar membuatku jengkel. Apa dia sedang balas dendam
karena sikapku tadi?. Well, aku memang sadar jika aku salah. Hehe...
Tapi aku berniat membereskannya
langsung sebelum dia marah besar seperti ini. Aish! Jinjja?!. Kepalaku menoleh
kearah Donghae hyung yang saat ini duduk dihadapan Rae Hwa. Melihatnya yang
sejak tadi asyik mengobrol dengan istriku benar-benar membuatku iri.
Ku putuskan untuk kembali ke kamar dan tidur dengan selimut menutupi
seluruh tubuhku. Aku lelah, dan tidak peduli jika Rae Hwa masih jengkel
denganku.
-oOo-
Cklek....
Aku merasakan sisi kasur yang lain bergerak, dan bisa ku pastikan bahwa
saat ini dia sedang berbaring disampingku. Meskipun aku tidak melihatnya, namun
aku bisa merasakan usapan tangannya dikepalaku dan terkadang merapikan
anak-anak rambutku.
“Kau tau, oppa? Rumah tanpa ocehanmu serasa sepi. Aku tidak bermaksud
bersikap seperti itu, tapi kau meresponnya serius.” Tuturnya membuatku
menggeliat perlahan dan merubah posisi ku menjadi telentang. Dia menyingkap
selimutku dan mendekat meringkuk sambil bergelayut manja dilengan kiriku.
“Kalau sepi, kenapa kau tidak hamil saja?” balasku masih dengan mata
terpejam. Dapat ku rasakan dia bangkit duduk dan menatap wajahku, dia juga
mengibaskan tangannya dihadapan wajahku.
“Ini aneh! Yeollie oppa tidur, lantas siapa yang baru saja berbicara?”
ujarnya sambil langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan hanya
menyisakan setengah dari wajahnya. Aku yang juga sudah bangkit melihatnya
dengan menahan tawa, lalu refleks aku merangkulnya dan membuatnya menjerit.
“Waeyo, heum? Kenapa kau bersikap seolah-olah kau baru saja melihat
hantu?” tanyaku sambil menopang daguku dibahunya dan mengirup feromonnya.
“Y.. ye... tadi aku baru saja mendengar suara yang menakutkan” aku
mendecakkan lidahku sebal mendengar perkataanya.
“Itu suaraku, itu suara suamimu...” ucapku penuh penekanan sambil
mengecupi lehernya, tubuhnya langsung menegang dan bergetar entah karena
merasakan nikmat atau geli.
Ku eratkan pelukanku sehingga menepis jarak diantara kami berdua,
sesekali ku rasakan dia menggeliat mencoba meronta. Namun usahanya sia-sia,
bahkan tanganku kini sudah beraksi menggoda beberapa titik sensitiv ditubuhnya
sehingga membuatnya mendesah tertahan.
“Hwanie~ah...” panggilku ketika menghentikan kecupanku dilehernya dan
tersenyum bangga ketika sudah meninggalkan beberapa tanda kepemilikkanku
disana. Langsung ku putar tubuhnya hingga kini dia sedang menatapku dan kedua
tanganya melingkar dileherku begitupun dengan kedua tanganku yang melingkar
dipingganya.
Author POV
Kedua pasangan tersebut saling menatap memancarkan tatapan cinta satu
sama lain, lalu menempelkan dahi mereka. Memberikan kesan intim bagi pasangan
yang baru saja resmi menikah tiga hari yang lalu.
“Ne, oppa...” jawab Rae Hwa
Chanyeol terdiam sesaat, mencoba menimbang-nimbang hal yang akan
diucapkannya. Tapi, dengan cepat dia kembali tersadar ke dunia nyata setelah
tangan Rae Hwa mengusap pipinya.
“Waeyo, oppa?” tanya Rae Hwa sedikit khawatir melihat ekspresi suaminya
yang tiba-tiba berubah. “Bolehkah aku.... memintanya?” pinta Chanyeol hati-hati
Sesaat wajah Rae Hwa bersemu merah mendengar permintaan suaminya
tersebut lalu mengangguk cepat. Dengan sigap Chanyeol membaringkan tubuh
istrinya, dan....
>>>>
SKIP <<<<
At restoran....
Rae Hwa berjalan dengan anggun sambil melangkahkan kakinya dan tangan
kanannya yang merangkul lengan Chanyeol. Mereka berdua berjalan dengan santai
menuju sebuah meja yang sudah lebih dulu terisi oleh kedua orang yang sudah
sangat dikenal oleh mereka berdua.
“Kau yakin, tidak apa-apa dan bisa betahan menggunakan sepatu terkutuk
itu?” bisik Chanyeol seolah mengejek Rae Hwa yang mencoba menahan jengkelnya.
“Tunggu balasanku!” desis Rae Hwa mengancam suaminya yang saat ini
sedang menahan tawa.
Ketika mereka berdua sudah duduk, seorang pelayan datang dengan
mengantarkan menu. Setelah mereka selesai memesan, suasana selanjutnya yang
tercipta adalah hening.
“Ekhm! Eunhyuk hyung, bagaimana kabarmu dan istrimu?” tanya Chanyeol
membuka percakapan sambil menatap kearah Yoora –istri Eunhyuk- yang saat ini
berbeda.
Eunhyuk mengikuti arah pandang Chanyeol, “Aku dan dia baik-baik saja
yeollie~ah. Seperti permintaan istrimu itu, aku sudah menjaganya. Walaupun
terkadang dia kembali terpuruk”
Rae Hwa tersenyum kearah Eunhyuk lalu kembali menatap Yoora dan
menggenggam tangan kirinya erat, “Ku harap kau selalu bahagia. Yoora~ya,” pinta
Rae Hwa. Yoora mendongakkan kepalanya dan mengangguk, tapi tidak janji.
Saat ini keadaan Yoora benar-benar menyedihkan, badannya kehilangan
banyak berat badan. Dan... cekungan dimatanya, lalu pipi tirus itu. Semuanya
membuat Rae Hwa khawatir, dia tidak bisa membayangkan wajah sahabat kecilnya
berubah seperti itu.
Merasa tatapan Rae Hwa pada Yoora berubah kasian, dengan cepat Chanyeol
menggenggam tangan kanan istrinya itu. Berusaha meyakinkan, bahwa Eunhyuk pasti
akan mengembalikan Yoora menjadi seperti sedia kala. Detik berikutnya mereka
sudah menikmati makanan mereka sambil sesekali berbincang-bincang ringan.
-oOo-
Eunhyuk POV
Ku ikuti langkah istriku yang bisa dibilang sangat lambat. Dia berjalan
bagaikan sebuah zombie, sama seperti ku saat itu. Saat dimana Rae Hwa lebih
memilih namja lain dari pada diriku, tidak apa-apa, mungkin ini yang terbaik.
Lagipula aku sudah sedikit demi sedikit mencintai, menyayangi dan melindunginya
seperti janjiku pada Tuhan.
Langkahnya berhenti ketika sudah berada didepan tangga besar yang akan
menuju lantai dua. “Waeyo?” tanyaku sambil menghadapnya.
“Hari ini.... adalah ulang tahunku, dan... apa tadi adalah kejutan
untukku oppa?” tanyanya dengan suara parau. Oh tidak! Jangan menangis, aku
sudah berjanji apda Rae Hwa untuk tidak membuatmu menangis.
Ku rengkuh tubuhnya yang kurus, memeluknya dan mencoba menyalurkan
kekuatanku padanya. Mungkin dulu aku juga bernasib sama dengannya, tapi itu
dulu... sebelum aku merenung dan berubah menjadi Hyuk Jae yang lebih baik dari
sebelumnya. Dia terisak tertahan dipelukanku.
“Uljimma.... kau tau, kau tidak cantik lagi jika sudah menangis seperti
itu.” Tuturku membuatnya semakin menangis. “Gojitmal.... aku tau aku tidak
cantik, lagipula penampilanku saat ini pun sudah bukan seperti gadis lainnya.
Tubuhku.. wajahku... semuanya hampir berkerut karena terus-menerus terpuruk,”
Aku mendesah perlahan dan mengusap air mata yang mengalir dikedua belah
pipinya, lalu tersenyum padanya. “Kau cantik, Lee Yoora... hanya saja, kau
tidak tau itu. Jangan pedulikan masalahmu, ahh~ apa kita akan membeli beberapa
kosmetik dan lainnya untuk membuatmu cantik kembali? Ani! Karena kau sangat
cantik ketika mendesah untukku,” godaku yang sukses membuatnya malu. Akhirnya
dia pun melepaskan pelukanku dan berjalan cepat menuju kamar kami.
Menunggu istriku yang saat ini sedang memasak makan malam dibantu
dengan pembantu kami, bibi Han. Mataku sedang asyik mencari-cari suatu buku
bacaan diperpustakaan pribadi milikku. Aku tau Yoora senang membaca, maka dari
itu aku membuat perpustakaan ini.
Mataku memicing ketika mendapat sebuah buku yang sangat terlihat usang,
ku tiup sejenak untuk menghilangkan debu yang menempel. Dan menuju sofa untuk
membaca buku tersebut.
Ini terlihat seperti sebuah diary mungkinkah, ini milik
istriku?. Batinku.
Halaman pertama ku buka, dan sedikit terkejut karena sejujurnya
tulisannya sangat tidak bisa dibaca.
“Ck! Pantas saja tidak bisa dibaca, ini tulisannya ketika dia berumur
lima tahun” gerutuku sambil mencoba membaca huruf demi huruf
Eomma... appa...
bogoshipo, tidakkah kalian tau aku kesepian? Kenapa kalian pergi meninggalkanku
sendiri?
Eomma... appa...
kenapa kalian mengorbankan diri kalian padaku? Kenapa lebih memilih
menyelamatkan aku dari pada diri kalian? Apa kalian tau, betapa terkejutnya aku
ketika mendengar apa penyebab kalian meninggal.
Kalian meninggal
karena aku! lebih baik aku yang pergi, aku lebih bahagia jika kalian berdua
yang hidup... bukan aku.
Eomma... appa...
hwanie, dia selalu berada didekatku. Tapi semua berubah ketika anak laki-laki
yang bernama Eunhyuk itu datang. Hwanie tidak pernah bermain denganku lagi, dan
aku benci itu!
Apa yang harus ku
lakukan supaya hwanie mau melihatku lagi? Apa aku harus menyakitinya, agar dia
tidak melupakanku?
Dengan cepat ku
tutup buku usang itu dan meletakkan kembali ketempatnya semula. Berharap apa
yang baru saja ku baca tidak memperngaruhiku saat bertemu dengan Yoora.
Rae Hwa POV
Ahh~ yey! Akhirnya
kami berdua bulan madu, sebenarnya tidak bisa disebut bulan madu karena mereka
semua ikut. Kalian pasti tau siapa yang ku sebut dengan ‘mereka’.
Yap! Benar, siapa
lagi kalau bukan Hyun Sun, Rae Suk, Baekhyun oppa, Dio oppa dan tidak lupa juga
si namja ikan yang bernama Donghae oppa. Ahh~ ditambah dengan tunangannya Hyun
Sun yang bernama Kim Ryeowook.
Berkali-kali aku
membenarkan posisi earphoneku berusaha menghalau suara Hyun Sun, Rae Suk dan
Baekhyun oppa yang sejak tadi berteriak saat bermain bola volly. Pandanganku
masih tidak terusik menatap kearah suamiku, siapa lagi kalau bukan namja yang
bernama Park Chanyeol. ^^
“Kenapa kau tidak
ikut bermain dengan mereka?” tanya
Donghae oppa saat duduk disampingku dan memberiku sekaleng soda dingin
“Gomawo, aku lebih
senang menonton mereka bermain” jawabku sambil tersenyum dan membuka kaleng
soda tersebut lalu meminumnya. “Ahh~ segarnya,” ujarku
“Ku dengar beberapa
hari yang lalu kalian makan bersama dengan Eunhyuk. Bagaimana keadaanya dan
Yoora sekarang?” ku hembuskan nafasku perlahan sambil membenarkan letak kaca
mata coklat tuaku.
“Sudah lebih baik,
maksudku... setidaknya kehadiran hyukie oppa bisa menjadi penguat bagi diri
Yoora yang saat ini sangat rapuh.”
Donghae oppa
tersenyum, lalu meminum kembali sodanya. “Bukankah hidup ini penuh kejutan?
Kita tidak akan tau kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya, hidup itu
sebuah perjalanan yang kita tidak tau kemana arahnya. Tapi perjalanannya selalu
mengikuti arah langkah kaki kita,” tuturnya membuatku kembali tersenyum.
Kau benar oppa,
hidup itu penuh kejutan. Dan akan semakin berwarna jika kita terus melangkah,
gumamku lirih.
Angin pantai yang
besar dan kencang menerbangkan semua yang dilewatinya, refleks ku pegang erat
topi pantai yang ku gunakan untuk menghalau panas.
Suasana malam itu
benar-benar romantis, menikmati banyaknya bintang yang berkelap-kelip mewarnai
langit malam yang berwarna hitam. Tanganku masih asyik mencuci beberapa selada
untuk makan malam kami. Kali ini menu makan malam kami adalah BBQ, Dio oppa dan
Chanyeol oppa bertugas untuk memanggang daging. Sedangkan Ryeowook oppa yang
ternyata bisa memasak memilih menyiapkan hidangan penutup dan beberapa cemilan
dibantu dengan Hyun Sun tentunya.
Donghae oppa dan
Baekhyun oppa sibuk menata meja makan. Karena kami akan makan malam diluar
ruangan, tepatnya dihalaman belakang resort milik Donghae oppa yang tidak jauh
dari bibir pantai.
Ku kibaskan
tanganku yang basah, sehingga membuat Rae Suk terkejut karena ulahku. “Ya!
Kenapa kau melakukan itu, eoh?!”
“Salahkan dirimu,
yang berdiri mematung menatap namja ikan itu yang sudah selesai menyiapkan mejanya
dan sedang menunggumu memberikan beberapa piring yang kau bawa.” Balasku sambil
berjalan menuju meja makan dan memberikan beberapa gelas kosong dan juga
semangkuk selada segar.
Auhtor POV
“Ck! Apa kau
benar-benar terpesona pada namja ikan ini, sehingga sejak tadi tidak
memperdulikan teriakanku?!” gerutu Baekhyun yang jengkel ketika Rae Suk
meletakkan piring-piring kosong yang dibawanya. “Mianhae...” ujar Rae Suk
lirih. Baekhyun hanya membalasnya dengan dengusan kasar lalu berlalu mendekati
Chanyeol dan Dio.
Donghae mendekati
Rae Suk dan merangkulnya erat, “Gwaenchana.... dia memang seperti itu bukan?
Hehe... jangan menjadi yeojaku yang cengeng,” ujarnya sambil mencubit pipi Rae
Suk gemas dan dibalas pukulan ringan ditangan lengan Donghae.
-oOo-
Suasana hangat saat
ini mewarnai meja makan tersebut, tidak sedikit canda tawa menghiasi
disela-sela acara makan mereka. Sehingga berkali-kali mereka tersedak.
Chanyeol tidak
henti-hentinya membully Baekhyun tentang masa-masa pendekatannya dengan seorang
yeoja bernama Taeyon. Dan itu sukses membuat Baekhyun bungkam beberapa kali,
bahkan hanya bisa membalas Chanyeol dengan pukulan.
“Kau senang?” tanya
Chanyeol yang masih asyik membakar daging. Rae Hwa yang saat itu sedang
menemaninya mengangguk, puas.
“Syukurlah kalau
begitu, ahh~ bagaimana kalau malam nanti kau temani aku.” usul Chanyeol membuat
Rae Hwa penasaran, lalu mengangguk lagi.
“Lebih baik
sekarang kau masuk, nanti aku menyusul. Udara semakin dingin dan aku tidak
ingin kau sakit,” ujarnya perhatian. Rae Hwa berdiri dan mengecup pipi Chanyeol
sekilas lalu berjalan masuk kedalam resort.
Setengah jam
kemudian,
Rae Hwa
melangkahkan kakinya mendekati Chanyeol yang sudah duduk diberanda kamar
mereka. Chanyeol menoleh ketika Rae Hwa meletakkan secangkir teh hangat
untukknya dan untuk dirinya sendiri.
“Kau masih khawatir
dnegan keadaan Yoora?” tanya Chanyeol sambil sesekali memetik senar gitar. Rae
Hwa menghembuskan nafasnya pelan, lalu menatap lurus kedepan dan tersenyum
penuh arti.
“Ne, kau benar....”
Chanyeol meletakkan gitarnya ke samping kursi lalu menarik Rae Hwa supaya
berdiri. “Mwo?” tanya Rae Hwa heran
Chanyeol hanya
tersenyum lalu menarik Rae Hwa mendekatinya, hingga dia duduk dipangkuannya dan
memeluk istrinya erat. “Bukankah kau percaya pada Eunhyuk hyung, heum?
Sudahlah... kau tenang saja, dan jangan terlalu khawatir. Arrachi?” bisik
Chanyeol lembut sambil merangkul istrinya mencoba menenangkannnya. Rae Hwa
mengangguk sambil menghirup aroma parfum musk milik suaminya. Dirinya secara
perlahan memejamkan matanya karena mendengarkan Chanyeol menyanyi.
Cheoeum neol mannaneun nal
noran sesongi jangmireul deulgo
Lulu lala sincheoneul
hyanghaneun nae gaseum manyang dugeun dugeun
Saengmori hwinalrimyeon
nareul hyanghae soneul heundeuneun neo
Meoriesseo balkkeutkkaji
nareul saro jabne iya ero
Rae Hwa semakin
merekatkan pelukannya pada Chanyeol ketika dia merasakan tubuhnya dibawa masuk
ke kamar dan direbahkan oleh suaminya itu. Sejujurnya dia masih merasakan
usapan tangan suaminya yang membenarkan letak rambutnya dan mengecup dahinya
lembut.
“Jaljayo....”
ucapnya
Chanyeol POV
Hari ini aku
mengajaknya berjalan-jalan. Kami hanya berbulan madu di Jeju, karena dia tidak
ingin keluar negri. Bulan madu? Bisakah disebut seperti itu, melihat saat ini
kami satu mobil dengan kedua ketiga temanku ditambah Donghae hyung tentunya.
“Apa Hyun Sun tidak
ikut bersama juga?” tanyaku sambil menatap jalan dihadapanku
“Anni.... dia sudah
punya jadwal sendiri,” sahut Rae Suk
“Wahh.... daebak!
Mereka yang baru tunangan saja memiliki jadwal sendiri untuk mereka berdua,
kenapa kalian yang sudah menikah sepertinya tidak memiliki jadwal sendiri?”
sindir Baekhyun
“Karena akan lebih
menyenangkan jika bersama-sama” balas Rae Hwa. Sekilas aku melirik Baekhyun
yang tampak mendesis kecil karena jawaban istriku.
“Byun~ah, kenapa
ekspresimu seperti itu?” sahut Dio
“Anni.... hanya
saja kami takut mengganggu privacy kalian saja,” jawab Baekhyun bijak
“Tsk... ya! Sejak
kapan kau bisa berbicara sebijak itu, apa jatuh cinta membuatmu berbeda?”
ejekku menahan tawa
“Diam kau! Dasar
dumbo!” umpatnya tidak suka
“Hahaha..... aku
benar bukan, baby smurf!” balasku yang semakin membuatnya jengkel namun tidak
bisa memukulku karena aku sedang menyetir.
Two weeks
later.....
Ku pandangi setiap
batu nisan yang berjejer rapi dipemakan ini. Semuanya tertutup oleh rumpuh yang
menghampar luas, bagaikan permadani. Angin musim dingin berhembus membuatku
merapatkan jaket yang ku gunakan. Tangan kananku menggenggam tangannya erat
sedangkan tangan kiriku memegangi sebuah buket bunga berwarna putih.
Langkah kami
berhenti didepan dua buah batu nisan lalu meletakkan buket bunga yang ku bawa ditengah-tengah
kedua batu nisan tersebut. Kami terdiam beberapa saat untuk berdo’a dengan
khusyuk.
“Apa kau dulu
sering kemari?” tanyaku padanya yang juga sudah selesai berdo’a dan duduk
disampingku. Didepan kedua makam tersebut.
“Ne, aku selalu
menceritakan semuanya disini.” Jawab Rae Hwa sambil mengusap salah satu nisan
tersebut.
Aku menoleh
padanya, “Kalau sekarang? Apa kau akan
sering kesini lagi?”
Dia menggeleng dan
membalas tatapanku, “Aku kan sudah punya oppa. Bukankah oppa yang menyuruhku
untuk tidak memendamnya sendiri?” aku tersenyum dan mengacak rambutnya. Dia
menekuk wajahnya dan membenarkan rambutnya yang sudah berantakan karena ulahku.
Refleks aku berdiri dan berlari menjauh ketika dia juga ingin membalas
perbuatannya.
____Masih
lekat dalam ingatanku, saat menolongmu dari sekelompok pengganggu
Sejak saat itu, aku berani menunjukan isi hatiku bahkan memberimu satu ciuman...
Sejak saat itu, aku berani menunjukan isi hatiku bahkan memberimu satu ciuman...
Hatiku
terbang terlempar ke puncak awan
Bagiku kau
lebih cantik dari Wendy atau Cinderella
Hanya dirimu satu – satunya yang membuat hatiku berdebar____
Hanya dirimu satu – satunya yang membuat hatiku berdebar____
___epilog___
Seorang wanita
berumur dua puluh empat tahun duduk disisi ranjangnya. Wanita itu sedang asyik
bermain dengan seorang bayi mungil yang sejak tadi tidak berhenti tertawa
karenanya.
“Aigoo.... anak
appa, bagaimana kabarmu? Kau tau appa sangat rindu denganmu,” ucap seorang pria
yang tiba-tiba masuk ke kamar itu dan merebut bayi mungil tersebut kedalam
gendongannya.
“Ya! Kembalikan
anakku,” pinta wanita tersebut mencoba merebut kembali bayi mungil yang saat
ini sedang tertawa riang karena diayun-ayunkan oleh pria tersebut.
“Mwo? Ya! Dia juga
anakku, apa kau lupa bahwa aku adalah ayahnya?” elak pria itu sambil kembali
mengayun-ayunkan bayi mungil tersebut.
“Kau baru sampai,
cepatlah mandi! Bukankah besok kau libur, kau bisa bermain dengannya besok.”
ucap wanita itu sinis dan berhasil merebut bayi mungil terebut yang bernama Park Cheonsa.
Pria tersebut
mendengus dan hendak protes namun dibalas dengan tatapan tajam dari sang wanita
sebelum pergi mengilang dibalik pintu kamar bayi mungil tersebut untuk
menidurkannya.
Setelah menidurkan
malaikat kecil mereka, si wanita tersebut kembali ke kamarnya dan duduk dimeja
rias. Tangannya meraih kotaknya yang berharga lalu membukanya dan membaca
selembar kertas yang ada didalamnya.
>>>Aku punya sesuatu yang ingin ku katakan,
akankah kamu mendengarkannya? Aku akan mengungkapkan perasaan ku sekarang.<<<
>>>Ketika bertemu denganmu, aku merasa berjalan
dibawah sinar matahari yang hangat.<<<
>>>Hatiku berdebar-debar....<<<
>>>Kamu menangkap hatiku dari ujung kepala sampai
ujung kaki<<<
>>>Hallo malaikatku, bagaimana kamu sudah mencuri
hatiku?<<<
Aku suka kamu, sangat suka... ^^
>>>Aku akan memberikan semua hatiku padamu<<<
>>>Kamulah satu-satunya yang ada dalam hatiku, aku
tidak ingin menghiasnya dengan yang lain <<<
SELAMANYA.....
KAMU dan AKU bersama selamanya....
Terima kasih telah
mencintaiku, terima kasih telah mengkhawatirkanku, terima kasih telang
memperhatikanku, terima kasih sudah membuatku merasakan perasaan seperti ini
ini..... ^^
___Bahkan jika aku akan mengatakan ini sampai kapanpun, biarkan aku
mengatakannya hari ini, bahwa aku selalu berterima kasih padamu... ^^___
Wanita tersebut tersenyum ketika membaca tulisan tersebut, dan menoleh
ke belakang begitu merasakan ada seseorang yang sedang memeluknya dari belakang
dan mengecup pipinya.
“Kau sedang apa, nyonya Park? Aigoo.... kau masih suka membaca surat
itu?” tanya pria tersebut menahan malu.
“Oppa.... kenapa kau berterima
kasih padaku? Seharusnya aku yang berterima kasih untukmu,” sahutku.
Chanyeol –pria itu- tersenyum dan mengecup pipi istrinya, “Molla....
aku juga tidak tahu. Yang jelas.... saat itu aku senang,”
“Jinjja? Ahh.... kau aneh,” ujar wanita tersebut sambil beranjak menuju
ranjangnya.
“Ya! Park Rae Hwa, kau tidak boleh tidur duluan! Tidakkah kau tau aku
merindukanmu, selama aku berada di Italy?” rujuk Chanyeol sambil meringkuk
manja. Rae Hwa menggeliyat pelan lalu memutar tubuhnya menghadap tubuh sang
suami.
“Nado oppa, neomu bogoshipo....” balas Rae Hwa.
Chanyeol tersenyum dan mengecup dahi Rae Hwa lama dengan sayang.
THE END
0 komentar