it's my new world

follow your heart

Latest Posts




Author : Rina Chan
Cast : Cho Kyuhyun
           Kim Shin Yeong
           Cho Yoon Bi
           Cho Yoong Ji
Other cast : silahkan dicari, ^^
Genre : fantasy, romance, family, oneshoot

Annyeong... ^^
Aku kembali membawakan kelanjutan Kyu-Shin series.... meskipun cukup lama aku menundanya karena mungkin aku sedikit bosan, (jujur loh!). jadi, aku harap kalian menyukai ff ini meskipun mungkin sudah menghilang cukup lama?

Have enjot it and don’t forget to RCL......


>>>> beware typo <<<<

Seorang gadis berumur lima belas tahun sedang berjalan ditrotoar dengan langkah santai namun pasti. Sesekali mulut gadis itu menggumam menyanyikan lagu yang tengah didengarnya melalui earphone yang terpasang dikedua telinganya. Kepalanya menoleh kekanan dan ke kiri berharap orang yang sedang ditunggunya datang.

Dari kejauhan tampak seorang pemuda berusia sekita dua tahun lebih tua dari gadis, datang dan mendekati tempat dimana gadis itu berdiri. Keduanya sudah berada disebuah halte dan sedang menunggu bis yang akan mengantar mereka ke sekolah.

Sang gadis sesekali mencuri pandang ke arah pemuda yang saat ini sedang serius membaca sebuah note kecil yang selalu dibawa pemuda itu kemanapun. Dan ketika sang pemuda menatap balik ke arah gadis itu, dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain hingga membuat pemuda itu tersenyum simpul melihat tingkahnya.

Tanpa gadis itu sadari, dua pasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya dengan tatapan sinis dan tajam. Beruntungnya pemilik dua pasang mata itu duduk tidak jauh dari tempat gadis itu berdiri.

“Jie~ya, haruskah kau selalu membuntuti yonie noona?” tanya namja yang duduk tepat disampingnya. Namja yang bernama lengkap Cho Yoong Ji itu hanya mengangguk mantap membalas ucapan Oh Sehun, sahabatnya itu. “Kenapa kau selalu ingin tau apa dan kemana kakakmu pergi? Meskipun sudah jelas, mereka akan pergi ke sekolah.” Cibir Sehun sambil menyenderkan punggungnya dengan malas ke senderan kursi.

“Karena aku tidak ingin yonie noona dihukum lagi,” ucap Yoong Ji lesu dan ikut menyenderkan punggungnya. Saat ini, anak kedua dari pasangan Cho Kyuhyun dan Kim Shin Yeong itu sudah berumur sepuluh tahun dan sedang duduk kelas lima SD. Sedangkan sang kakak, Cho Yoon Bi, gadis itu saat ini sudah berumur lima belas tahun dan sedang duduk dijenjang pertama SMA.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya gadis itu turun bersama denga pemuda yang juga ikut turun bersamanya karena mereka satu sekolah. Kedua anak berusia sepuluh tahun itu pun ikut turun dengan sedikit tergesa, takut jika kehilangan jejak mangsanya.

“See? Mereka sudah masuk, sekarang lebih baik kita kembali ke sekolah sebelum akhirnya Lee saem menyadari kita sudah menghilang selama... setengah jam?!” Sehun memekik kaget ketika melihat arlojinya.

“Tapi aku harus....”

“Tidak ada tapi-tapian...!!” potong Sehun cepat sambil menyeret paksa sahabatnya itu untuk cepat kembali ke sekolah.

__oOo__

Yoon Bi POV
Aku kembali melangkah ke arah gerbang sekolahku untuk memastikan bahwa bocah kecil itu sudah tidak membuntutiku. Cih, dasar bocah tengik! Apa kau tidak lelah selalu memata-mataiku, eoh? Awas saja, kau akan tau akibatnya nanti.

Setelah yakin bahwa bocah tengik itu yang tidak lain adalah adikku yang bernama Cho Yoong Ji, tidak ada, aku kembali kedalam halaman sekolah dan berjalan tergesa sebelum bel masuk berbunyi.

Pelajaran kali ini bisa dibilang sangat membosankan, terutama pelajaran sejarah bangsa Korea. Tsk, membosankan dan membuatku ngantuk.

Kepalaku menoleh keluar jendela dan mataku membulat sempurna begitu melihat sosok yang tadi pagi berangkat bersama dan bahkan akhir-akhir ini menarik perhatianku. Sunbaeku.... cinta pertamaku... Im Siwan.

“Yoon.... gwaenchana?” tanya Eunji sahabat yang duduk disampingku sambil mengibaskan telapak tangannya tepat dihadapan wajahku. Aku tergagap sekilas dan menoleh padanya. “Nde? N.. ne, nan gwaenchana.”

Eunji ikut melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang membuatku terdiam selama beberapa saat. Dia kembali ke tempatnya semula dan mendecakkan lidahnya setelah melihat ke arahku. “Kau sudah tergila-gila padanya, eoh? Hingga tidak memperdulikan pelajaranmu,” desisnya dan kembali memegang buku tebal pelajaran yang sejak tadi ku acuhkan. Aku mendesah pelan dan mengikutinya memegang buku pelajarana tersebut, meskipun sesekali pandanganku menatap keluar jendela.

(( at Kyu – Shin home.... ))

Ku rebahkan tubuhku yang sedikit pegal karena baru sampai di rumah. Tidak biasanya aku pulang pukul lima sore.

Tok... tok... tok...

“Nona muda, anda ditunggu oleh tuan dan nyonya.” Ucap bibi Jung

Dengan malas, aku turun ke lantai dasar, setelah sebelumnya berganti baju dengan pakaian santai.

“Bagaimana harimu, sayang?” tanya eomma begitu aku sudah duduk dihadapan mereka berdua. Ku lihat, Yoong Ji juga ada dan duduk disamping appa. Apa dia sedang melaporkan semua yang ku lakukan hari ini?

“Yonie?” aku menoleh dan menatap eomma yang sedang menatap khawatir ke arahku. “Oh? Eh... baik, sangat baik” ucapku disertai senyuman

“Tentu saja sangat baik, dia bahkan rela terlambat agar bisa bersama pria itu,” timpal Yoong Ji membuatku menatapnya tajam. “Mwo?” balasnya berani. “Neo....”

“Ada yang ingin kau jelaskan pada kami, nona Cho?” tanya appa.

“Aaa... itu...”

“Kau sudah melewatkan tugasmu lagi, nona Cho” sahut Sungmin ahjussi ketika bergabung bersama kami. Baiklah... sepertinya persidangan akan segera dimulai.

Shin Yeong POV
Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini Yoon Bi menjadi anak yang lalai seperti sekarang. Meskipun aku tau apa penyebab yang menjadikannya menjadi seperti itu, namun tetap saja itu membuatku kecewa dan khawatir. Oh dear, ada apa denganmu nak?

“Eomma....” aku menoleh ketika anak bungsuku, Yoong Ji memanggil.

“Ada apa sayang?” tanyaku ketika melihatnya mendekatiku. “Apa noona akan dihukum?” tanyanya. Aku mendesah pelan kemudian menggendikkan bahuku, tidak tau. “Kenapa noona masih menyukai pria itu? Padahal... dia juga tau kematian pria itu tinggal menghitung bulan.”

Aku tersenyum mendengar penuturannya. Tanganku terulur merapikan beberapa anak rambut yang sedikit acak-acakan. “Dia cinta pertama kakakmu, jadi wajar saja jika dia sulit untuk melepaskannya.”

Yoong Ji mendesis pelan. “Cih, jangan bilang jika nanti dia juga menghindar dari tugasnya lagi gara-gara pria itu adalah cinta pertamanya.” Cibirnya sinis. Aku terkekeh pelan dan mengacak rambutnya yang tadi sudah ku rapikan. “Jangan seperti itu. Kau sendiri? Bagaimana dengan tugasmu?”

“Aku sudah menyelesaikannya dengan baik. Eomma tau sendiri bukan, aku tidak ceroboh seperti dirimu. Kekeke~” ucapnya bangga

“Aish! Kau sombong sekali, seperti ayahmu. Ckck...”

“Aku memang seperti appa, bahkan aku lebih tampan darinya.”
 
“Mworago?!” kepala kami berdua menoleh ke sumber suara yang tiba-tiba muncul dari arah pintu. Disana –diambang pintu- suamiku, sedang melipat kedua tangannya dan menatap ke arah Yoong Ji.

“Mwoya? Aku hanya bilang, jika aku lebih tampan dari appa.” Ulang Yoong Ji polos.

Kyuhyun oppa berjalan mendekati kami. “Ckckck.... apa kau lupa siapa yang membuatmu tampan?”

“Tuhan...” jawab Yoong Ji polos membuat Kyuhyun oppa mengusap wajahnya kasar. “Tapi kau berasal dari benihku!” pekik Kyuhyun oppa

“Benih? Eomma... apa kau tau apa yang appa katakan?” aku menatap ke arah Kyuhyun oppa dan mendorongnya keluar dari kamar kami sambil memberinya beberapa pukulan ringan. “Kau gila!” desisku jengkel.

__oOo__

Kyuhyun POV
Aku berjalan menuju kamar Yoon Bi setelah tadi diusir oleh istriku sendiri. Memangnya perkataanku ada yang salah?

“Hei sayang, kau sibuk?” tanyaku ketika membuka pintu kamarnya dan melihatnya sedang tersenyum dan sesekali memekik sambil menatap layar Iphone-nya. Gadis gila, gumamku

“Appa! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu, eoh?” pekiknya begitu menyadari aku ada didalam kamarnya.

“Aku sudah mengetuk pintu kamarmu lima kali, karena tidak ada jawaban makanya aku langsung membukanya dan melihat kau sedang cekikikan tidak jelas dengan Iphone-mu.” Jelasku dengan nada datar

Dia mempoutkan pipinya jengkel karena ucapanku. Aku tidak memperdulikan ekspresinya dan lebih memilih mendekati meja belajarnya. Ada seseuatu yang sejak tadi membuatku tertarik ketika tadi masuk ke sini, yaitu... sebuah pigura dengan foto seorang pemuda tampan didalamnya.

“Aigoo.... jadi dia yang membuatmu lalai dalam tugas?” tanyaku mengejek dengan mengacungkan pigura tersebut ke arahnya. Sontak dia melompat turun berusaha merebut pigura yang aku pegang.

“Appa! Kembalikan... itu milikku,” rengeknya sambil sesekali melompat berusaha menggapai lenganku.

Aku hanya tersenyum evil melihat usahanya. Hingga akhirnya aku meletakkan kembali pigura tersebut ke atas meja. “Jangan kecewakan orang lain, aku tau kau saat ini sedang dalam masa pubertas. Tapi... kau harus bisa mengaturnya, hingga tidak mengecewakan orang lain lagi. Arraso?”

“Arra...”

Ku usap kepalanya pelan sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.

(( At family room... ))

Sejak tadi aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku karena suara kedua anakku yang sedang bertengkar. Aish! Jinjja.... istriku dan Sungmin hyung sedang pergi melakukan tugas mereka. Sedangkan Yoon Bi dan Yoong Ji libur sekolah dan sedang tidak ingin melakukan tugas mereka.

Prakk...

Aku langsung keluar dari ruang kerjaku dan melihat remote tv yang sudah hancur tergeletak di lantai. Aku mendongak dan menatap mereka berdua meminta penjelasan.

Mereka saling pandang kemudian saling menunjuk satu sama lain. Aku mendesah pelan kemudian mendekati Tv, mematikannya dan mencabut kabel powernya. Setelah itu mengambil remote yang sudah rusak itu dan membuangnya.

“Kalian berdua, kembalilah ke kamar kalian.” Titahku dingin tanpa menoleh pada mereka. Aku kesal? Jelas, mereka bukan anak-anak lagi yang harus selalu diawasi 24 jam bukan?

__oOo__


Yoon Bi POV
Ingin rasanya aku meminta maaf pada appa, tapi aku takut jika appa tidak akan mudah memaafkanku. Aku tau aku selalu tidak ingin mengalah pada Yoong Ji, tapi tidak ada salahnya bukan, jika aku ingin mendapatkan jatah menonton Tv ku?

“Apa kau akan meminta maaf pada appa, noona?” aku menoleh dan menatap Yoong Ji yang menyender di salah satu pilar yang menempel di dinding. “Memangnya kau tidak ingin meminta maaf?”

“Tentu saja ingin, tapi tidak sekarang. Saat ini mungkin appa tidak ingin diganggu,”

“Tsk! Bocah tengik, kau tidak tau apapun!” cibirku. Dia menggendikkan bahunya tidak ingin ikut campur. “Kalau begitu, berhati-hatilah.” Serunya ketika dia menjauhiku.

Tok... tok... tok...

“Masuk...”

Setelah mengumpulkan keberanianku, aku perlahan membuka kenop pintu ruang kerja appa. Sejak tadi jantungku terus berdegup tak menentu memikirkan hal apa yang akan terjadi.

“Jika kau ingin meminta kabel power Tv, maka aku akan dengan tegas menolaknya.” Ucap appa tanpa menoleh sedikitpun padaku.

“Appa.... mianhae, aku tau aku salah... aku...”

“Kau bukan anak kecil lagi, yeon. Bahkan terkadang sikapmu lebih kekanakan dibandingkan dengan Yoong Ji,” potong appa sambil menatap ke arahku.

Kedua tanganku terkepal ketika appa membandingkan aku dengan Yoong Ji. Aku kesal jika kami selalu dibandingkan meskipun aku tau pasti selalu Yoong Ji yang lebih unggul.

“Apa aku anak appa?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Kenapa appa selalu membandingkan aku dengan yoongie? Meskipun aku tau pasti dia yang lebih unggul dariku. Dia mewarisi gen appa dan eomma, berbeda denganku.”

“Apa kau sedang mencoba merendahkan dirimu?”

Kedua mataku berair ketika mendengar perkataan appa. Dan memang benar apa yang dikatakannya, aku memang sedang merendahkan diri. Aku iri pada appa dan eomma yang selalu bangga terhadap yoongie.

Ku bungkukan tubuhku sejenak meminta maaf sebelum akhirnya pergi meninggalkan appa kembali bekerja.

(( At night... ))

“Noona, makan malam sudah siap. Aku disuruh eomma untuk mengajakmu masuk dan makan malam bersama,” ucap Yoong Ji sedikit berteriak karena posisiku sedikit lebih jauh dari tempatnya berdiri.

“Aku sedang tidak ingin makan...” balasku cukup keras supaya dia bisa mendengarku.

“Arraso...!” ucapnya dan berlalu masuk ke dalam rumah.

Author POV
Yoon Bi memainkan kakinya yang dia celupkan ke dalam kolam kecil yang berisi ikan-ikan kecil yang saat ini sedang mengerumuni kakinya. Saat ini kedua kakinya sedang dibersihkan oleh ikan-ikan kecil (author gak tau apa nama ikannya) berwarna hitam yang suka membersihkan kulit-kulit mati.

Sesekali bibirnya tersenyum ketika merasakan rasa geli yang tiba-tiba dirasakannya.

“Butuh teman, nona Cho?” kepala gadis itu mendongak dan tersenyum kemudian mengangguk. “Apa yang sedang kau pikirkan sampai kau tidak makan?” tanya Sungmin sambil menawarkan sepiring pancake pada Yoon Bi.

“Gomawo. Molla, aku hanya merasa iri saja dengan yoongie.” Ucapnya sambil memasukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.

“Mwo? Kau sedang iri dengannya? Aigoo... kau bukan anak kecil lagi..”

“Dan itulah yang dikatakan oleh appa,” potong gadis itu sambil kembali memasukkan pancake ke dalam mulutnya.

Sungmin terkekeh pelan. “Kau benar-benar gadis manja yang sedang puber.”

Yoon Bi menoleh malas pada pamannya itu. “Jangan katakan apapun jika menyangkut tentang pubertasku.” Ancam gadis itu

“Aku hanya ingin mengatakan padamu....” Sungmin menggantungkan kalimatnya. Kepalanya mendongak menatap langit malam yang cerah dan dipenuhi oleh bintang. “Jangan terlalu dalam menyukai pemuda itu sebelum kau menyesal.”

“Aku tidak mengerti.” Sungmin menurunkan pandangannya menatap kakinya yang juga dikerumuni oleh ikan-ikan kecil itu. “Kau tidak merasakan bahwa akan ada jiwa yang akan mati?”

Yoon Bi terdiam sejenak dan menggumam tidak jelas. “Aku merasakannya, dan kemungkinan besar dia masuk ke neraka. Tapi aku tidak tau siapa itu,”

“Jika itu terjadi pada pemuda yang kau sukai... apa yang akan kau lakukan?” tanya Sungmin sambil menatap keponakannya tersebut. Yoon Bi berusaha terkejut sesaat kemudian kembali memasukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya. “Itu tidak mungkin. Dia anak yang baik dan aku sama sekali belum pernah dengar kabar buruk tentangnya.”

“Jinjja? Kita lihat saja nanti. Aku pergi dulu, jangan terlalu malam berada disini. Jika kau sakit, aku tidak akan memaafkanmu, nona Cho.” Ucap Sungmin setelah mengacak rambut keponakannya itu.

__oOo__

Yoon Bi berjalan dengan tergesa melalui beberapa koridor dan menaiki beberapa anak tangga dengan nafas tersengal. Dia harus sampai dikelas pria itu sebelum semuanya terlambat. Dia tau, seharusnya dia tidak mendekati pria itu sejak awal. Namun dia juga tidak bisa membohongi hatinya, bahwa dia memang tulus menyayangi pria itu.

Perkataan kedua orang tua dan pamannya dua hari lalu selalu saja terngiang di kepalanya. Hari ini adalah hari dimana pria itu harus pergi, dia tidak menyangka bahwa harus dia yang harus mengantar pria itu ke neraka. Siapa sangka pria yang selama ini dinilainya baik memiliki sifat seperti itu.

“Andwae....!!” pekiknya begitu tubuhnya jatuh saat akan menaiki tangga terakhir yang menuju ke kelas pria itu. Kepalanya mendongak menatap tangga yang sepertinya berbayang baginya. Gadis itu tidak kuat menahan tugas itu, namun itu adalah kewajibannya.

__flashback ON__

“Kau harus melakukannya, sayang. Ini semua tahap menuju kenaikan tingkatmu,” ucap Shin Yeong ibu gadis itu. Yoon Bi melihat ibunya sekilas dan kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. “Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan mau,”

“Ya! Neo... apa kau lupa jika kau sering tidak melakukan tugasmu hanya karena pria itu. Apa salahnya jika saat ini kau yang mengantar pria itu ke neraka, heum?” Yoon Bi menatap pamannya sinis dan tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkan olehnya. “Ahjussi!!”

“Wae? Sebenarnya, kau juga sudah merasakan kapan kematian pria yang kau sukai itu bukan? Ckckck.... kisah cinta yang berakhir tragis.”

“Hyung!” pekik Kyuhyun begitu melihat putrinya berdiri dengan kedua tangan terkepal disisi tubuhnya. Tubuh gadis itu bergetar dengan mata berkaca. “Ye, kau benar ahjussi. Aku memang sudah merasakan itu, namun aku mencoba tidak merasakannya. Wae? Disaat aku menyukai seseorang, selalu berakhir dengan kematiannya.” Ucap gadis itu bergetar dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu.

“Oppa! Kenapa kau tega mengatakan hal sekejam itu pada keponakanmu sendiri?” tanya Shin Yeong heran

Sungmin melirik ke arah sepupunya dengan tatapan datar. “Kau saja yang terlalu lembut padanya, see? Dia menjadi gadis lemah. Itu resiko yang harus ditanggung oleh seorang catcher neraka, yeong. kami tidak seperti catcher surga yang selalu bisa berada dikedua sisi baik dan jahat, terkadang kami lebih dominan disisi jahat meskipun itu sangat sulit.” Ucap Sungmin lalu beranjak dari ruangan itu.

__falshback OFF__

Shin Yeong POV
Aku tau ini mungkin akan membuat Yoon Bi sangat terluka, tapi aku juga tidak ingin jika dia dihukum untuk ke sekian kalinya. Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan?

“Oppa... aku harus menyusulnya,” ucapku namun belum sempat aku melangkah Sungmin oppa sudah menarikku untuk duduk kembali di bangku taman. “Diam dan tunggu saja. Anakmu sedang dalam masa yang sangat sulit, seperti aku dulu.” Ucap Sungmin oppa sambil menerawang.

“Tapi ini berbeda! Saat itu oppa sudah bisa dibilang sedikit remaja, tidak dalam posisi yoonie yang sedang dalam posisi labil dalam hal emosional.” Belaku berharap Sungmin oppa mengijinkanku untuk masuk.

“Jika kau membantunya apa kau akan tega melihat kematian pemuda itu? Ck, apa kau lupa, bahwa saat yoonie kecil seperti itu kau sudah pucat?” aku terdiam mendengar rentetan pertanyaannya. Aku tau apa yang dikatakannya memang benar, tapi... tetap saja aku tidak tega melihat anakku kesulitan.

Berjuanglah nak, eomma selalu mendukungmu.

Yoon Bi POV
Andwae... andwae... aku tidak kuat lagi, tapi aku harus tetap maju sebelum semuanya terlambat.

“Arkh!” pekikku ketika merasakan pergelangan kakiku yang mungkin terkilir. “Aish! Jinjja... kenapa harus terjadi hal seperti ini?”

“Ayo aku bantu,” aku mendongak ketika mendengar suara seseorang yang sejak tadi aku cari. Aku mendongak dan terdiam beberapa saat melihatnya tersenyum manis ke arahku. Dengan sigap, tangannya terulur dan menarik tangan kananku untuk dikalungkaan ke bahunya.

Dia... Siwan, orang yang sejak tadi membuatku berlari menaiki anak tangga agar bisa mencapai kelasnya.

“S-sunbae.... gomawo, aku pasti sudah menyusahkanmu.” Ucapku ketika sudah sampai di ruang kesehatan. Dia tersenyum simpul kemudian mendekati lemari obat untuk mencarikan obat untukku.

Aku menatap gerak-geriknya dari kejauhan. Menurut info yang aku dapat, dia akan tewas karena terpeleset dan tertancap pisau yang saat itu sedang dibawanya, diruangan ini. Satu hal yang membuatnya harus masuk ke neraka adalah.... karena dia sudah membunuh ibu kandungnya sendiri, ada yang mengatakan bahwa dia memiliki kelaianan, yang dimana dia akan membunuh orang-orang yang dia sayangi. Ckckck... aneh sekali.

“Tahan sebentar, mungkin akan sedikit sakit.” Ucapnya sambil memijat kakiku dengan lembut. Mungkinkah orang seperti dia melakukan hal sesadis itu?

“Cha! Sudah selesai, kau merasa lebih baik?” aku mengangguk membenarkan.

Dia kembali mendekatiku dengan membawa sebilah pisau. Astaga! Kapan dia membawa benda tajam itu, dan kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?

“Aku dengar... kau mencintaiku, apa itu benar?” aku mengangguk membenarkan. “Kalau begitu, kau harus bernasib sama dengan ibu dan adikku.”

“Mwo? Tapi kenapa?”

“Karena aku tidak suka melihat orang yang menyayangiku juga menyayangi orang lain.”

Aku melongo mendengar ucapannya. Perlahan tapi pasti dia mendekat ke arahku, dengan tertatih aku menuju pintu ruangan tersebut.

“Pintunya terkunci.” Ucapnya membuatku terkejut

“Buka pintunya sekarang!”

“Shireo! Aku tidak akan membukanya sebelum kau terbunuh.” Tubuhku bergeser menuju jendela.

Dia semakin mendekat dan mendekat sedangkan aku hanya bisa memejamkan mataku. Namun....

“Arrrrkkkhhh....!!”

Aku membuka mataku perlahan ketika merasakan sesuatu mengenai wajahku. Mataku membulat sempurna ketika melihatnya sudah tewas dan... cipratan darahnya mengenai wajahku. Tubuhku merosot dan bergetar ketika melihatnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

“Haruskah secepat ini? Astaga...”

Aku berdiri dan menatap sinis arwah Siwan yang sedang tersenyum sinis ke arahku. “Ckckck... kau menangisiku?” cibirnya. Ku usap kasar wajahku dari air mata yang tadi nyaris jatuh.

“Berhentilah berbicara, apa permintaanmu?”

Dia terdiam sejenak dan berfikir.”Permintaanku? bisakah kau sering mengunjungi rumah ku, dan beri makan anjing kami Zero?”

“Hanya itu?” dia mengangguk kemudian berbalik dan menghilang.

Setelah membersihkan sisa darah yang menempel ditubuhku, aku langsung menyusul eomma, paman Sungmin dan yoongie. Eomma langsung memelukku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.

“Kekeke~ ternyata usahaku tidak sia-sia,” ucap yoongie ketika kami sudah berada didalam mobil. “Maksudmu?”

Dia menoleh dan menatapku. “Neo... apa kau tidak tau siapa yang membuat lantai itu licin?” aku menggeleng cepat. “Memang ada yang membuat lantai itu licin, hanya saja... wajah orang itu tidak terlalu jelas. Omo! Jangan-jangan kau....”

“Memang aku,” sahutnya cepat sambil kembali fokus pada PSP-nya. Kedua tanganku terangkat hendak mencekiknya, namun  ku urungkan karena mendengar ucapannya. “Dia bukan pria baik, maka dari itu aku melakukannya karena tidak ingin kau terluka.”

Aku memandanganya haru, benarkah dia bocah tengik yang menyebalkan itu?

“Cih, dasar cengeng!” cibirnya namun sama sekali tidak ku pedulikan. Aku langsung memeluknya erat hingga membuatnya meronta.

“Ya! Noona, kau menggangguku. Lepaskan pelukanmu!!”

“Shireo!”

“Noona...!!”

“JIKA KALIAN BERDUA TIDAK DIAM, MAKA AKU TIDAK AKAN SEGAN MENURUNKAN KALIAN BERDUA DI JALAN!!” bentak paman Sungmin yang sukses membuat adikku terdiam.

Gomawo... bocah tengik,



THE END


Author : Rina Chan
Cast : Cho Kyuhyun
           Kim Shin Yeong
Other cast : silahkan dicari, ^^
Genre : fantasy, romance, family, oneshoot

>>>> beware typo <<<<

Yoon Bi berjalan dengan tergesa melalui beberapa koridor dan menaiki beberapa anak tangga dengan nafas tersengal. Dia harus sampai dikelas pria itu sebelum semuanya terlambat. Dia tau, seharusnya dia tidak mendekati pria itu sejak awal. Namun dia juga tidak bisa membohongi hatinya, bahwa dia memang tulus menyayangi pria itu.

Perkataan kedua orang tua dan pamannya dua hari lalu selalu saja terngiang di kepalanya. Hari ini adalah hari dimana pria itu harus pergi, dia tidak menyangka bahwa harus dia yang harus mengantar pria itu ke neraka. Siapa sangka pria yang selama ini dinilainya baik memiliki sifat seperti itu.

“Andwae....!!” pekiknya begitu tubuhnya jatuh saat akan menaiki tangga terakhir yang menuju ke kelas pria itu. Kepalanya mendongak menatap tangga yang sepertinya berbayang baginya. Gadis itu tidak kuat menahan tugas itu, namun itu adalah kewajibannya.

__flashback ON__

“Kau harus melakukannya, sayang. Ini semua tahap menuju kenaikan tingkatmu,” ucap Shin Yeong ibu gadis itu. Yoon Bi melihat ibunya sekilas dan kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. “Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan mau,”

“Ya! Neo... apa kau lupa jika kau sering tidak melakukan tugasmu hanya karena pria itu. Apa salahnya jika saat ini kau yang mengantar pria itu ke neraka, heum?” Yoon Bi menatap pamannya sinis dan tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkan olehnya. “Ahjussi!!”

“Wae? Sebenarnya, kau juga sudah merasakan kapan kematian pria yang kau sukai itu bukan? Ckckck.... kisah cinta yang berakhir tragis.”

“Hyung!” pekik Kyuhyun begitu melihat putrinya berdiri dengan kedua tangan terkepal disisi tubuhnya. Tubuh gadis itu bergetar dengan mata berkaca. “Ye, kau benar ahjussi. Aku memang sudah merasakan itu, namun aku mencoba tidak merasakannya. Wae? Disaat aku menyukai seseorang, selalu berakhir dengan kematiannya.” Ucap gadis itu bergetar dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu.

“Oppa! Kenapa kau tega mengatakan hal sekejam itu pada keponakanmu sendiri?” tanya Shin Yeong heran

Sungmin melirik ke arah sepupunya dengan tatapan datar. “Kau saja yang terlalu lembut padanya, see? Dia menjadi gadis lemah. Itu resiko yang harus ditanggung oleh seorang catcher neraka, yeong. kami tidak seperti catcher surga yang selalu bisa berada dikedua sisi baik dan jahat, terkadang kami lebih dominan disisi jahat meskipun itu sangat sulit.” Ucap Sungmin lalu beranjak dari ruangan itu.

__falshback OFF__


TBC








Auhtor : Rina Chan
Cast : Cho Kyuhyun
           Kim Shin Yeong
Other cast : silahkan dicari, ^^
Genre : fantasy, romance, family, little horor, oneshoot.

Annyeong^^....
Maaf sudah membuat kalian menunggu, aku membawakan kelanjutan ceritanya.

Summary : Shin Yeong berharap kehadiran Sungmin dapat membantu keadaan Yoon Bi semakin membaik, akankah demikian? Atau... ada maksud terselubung dibalik kembalinya Sungmin secara tiba-tiba?

Check this out..!!

Have enjoy it and don’t forget to RCL....

Backsong : Super Junior – Island & Shinee – Haru

>>>> beware Typo <<<<

Sejak Sungmin kembali setelah beberapa tahun menghilang bagai ditelan bumi, dia sedikit banyak membantu keadaan Yoon Bi dan juga membantu Shin Yeong dalam meringankan tugasnya. Bagi Shin Yeong, Sungmin bisa dibilang pahlawan yang muncul disaat yang tepat.

Namun, tidak bagi Kyuhyun. Baginya, kehadiran Sungmin membuat perhatian semua anggota keluarganya beralih kepada Sungmin. Bisa dibilang mungkin dia... cemburu?

Seperti saat ini, Sungmin sampai dirumah Kyu-Shin setelah menjemput anak dari si tuan rumah. Yoon Bi yang kini sudah terbiasa dengan kehadiran Sungmin pun semakin dekat dengannya dan itu membuat sikap cemburu Kyuhyun keluar kembali.

“Oo... anak appa sudah pulang?” sapanya ketika melihat Yoon Bi berlari kearahnya dan duduk dipangkuan sang ayah. “Eum! Tadi Sungmin ahjussi menemaniku bermain,”

“Jinjja?” Kyuhyun menatap kearah Sungmin yang duduk tidak jauh dari tempatnya. “Hyung, kau semakin mirip baby sister bagi yoonie.” Cibirku dan dibalas tatapan sinis olehnya.

“Ya! Setidaknya kau beruntung, aku sudah mau membantumu.” Balasnya

Aku mengernyitkan dahi. “Memangnya siapa yang meminta bantuanmu?”

“Mworago?! Ya! Kau.... aish! Sudahlah, percuma berdebat denganmu. Aku tau, aku akan selalu kalah.” Kyuhyun tertawa dengan cukup keras mendengar nada kalah dari ucapan Sungmin.

Bukk...!

Sebuah bantal sofa sukses mengenai wajah Kyuhyun dan membuatnya berhenti tertawa. Dia hanya menatap tajam ke arah Sungmin yang sudah berlalu meninggalkan ruang tengah menuju dapur.

Shin Yeong POV
Seperti inilah suasana rumahku setelah kehadiran Sungmin oppa. Aigoo... rumah jadi bertambah ramai dari biasanya. Beberapa kali aku harus melerai perdebatan konyol diantara dua pria tua itu dan menasehati mereka, namun tetap saja mereka tidak mendengarkannya.

Terkadang aku tidak peduli dengan tingkah mereka itu, hanya saja... suara mereka berdua selalu membuat Yoong Ji bangun dan itu membuatku kesal, bahkan sangat kesal.

“Eomma.... ada yang bisa aku bantu?” aku menoleh ketika celemek yang ku pakai ditarik oleh gadis kecilku. Aku menunduk dan tersenyum padanya. “Bisakah kau menjaga appa dan Sungmin ahjussi agar tidak bertengkar?” pintaku to the point. Dia merengut dan melipat kedua tangannya didepan dada, pertanda protes.

“Shireo! Eomma saja tidak bisa melerai mereka, apalagi aku?” timpalnya. Aku hanya terkekeh pelan dan menggaruk tengkukku mendengar nada ucapannya yang mungkin sedikit menyindirku.

Ku hela nafasku panjang lalu memerintahkannya untuk menjaga Yoong Ji. Kali ini, dia tidak protes bahkan langsung berlari ke kamar adiknya itu. Aku sadar, putri kecilku sudah berumur enam tahun dan sebentar lagi dia sudah masuk sekolah dasar.

“Hahh~ aku semakin tua saja,” gumamku pelan.

“Memang kau sudah tua, kau baru sadar?” aku menoleh ke belakang dan menatap tajam Sungmin oppa yang sedang menyender didepan pintu kulkas sambil meminum air. Lalu kembali membuang mukaku untuk fokus ke masakanku.

__oOo__

(( in University of Seoul... ))

“Jadi... Changmin itu kekasihmu?” tanyaku pada arwah seorang gadis yang saat ini sedang menangis ditaman belakang kampus. Dia mengangguk lemah sambil sesekali menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.

“Ne, dia kekasihku. Hanya saja... dia tidak mencintaiku, dia selalu menipuku dan aku benci itu.” Ucap gadis yang bernama Eunji itu.

“Lalu apa permintaanmu?” tanyaku to the point. Dia menoleh padaku, “Bisakah.... bisakah kau juga menyiksanya agar dia merasakan apa yang aku rasakan?”

Aku terkejut mendengar permintaannya itu. “Ahh~ kalau begitu, kau berurusan denganku nona Lee.” Sahut Sungmin oppa yang membuat kami berdua menoleh padanya.

“Oo... anakmu sudah menunggumu. Urusan arwah ini adalah milikku,” aku mengangguk paham karena sejujurnya memang itu adalah tugasnya. Toh, arwah itu akan masuk neraka karena dendamnya itu. Ckck... tragis sekali.

Author POV
Setelah menjemput Yoon Bi, mereka berdua mampir sejenak ke swalayan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Shin Yeong tidak perlu terburu-buru pulang, karena putra kecilnya saat ini sedang berada dirumah neneknya.

Mereka berdua terlihat sangat senang saat memilih beberapa barang, bahkan beberapa kali mereka berdua bercanda sambil menirukan iklan barang yang mereka ketahui.

“Ng? Ada apa, sayang?” tanya Shin Yeong begitu melihat anakknya tiba-tiba berhenti tertawa dan pandangannya menerawang menatap lurus kearah lorong yang ada dihadapannya.

“Eomma... bagian itu, bukankah bagian peralatan dapur?” tanyanya. Shin Yeong mengangguk, membenarkan. “Kalau begitu dugaanku benar!” serunya.

DEG...

Bergegas Shin Yeong membawa trolly belanjaannya menuju bagian peralatan dapur yang ternyata ramai oleh beberapa pengunjung swalayan.

“Chogiyo, ahgassi. Apa ada yang terjadi, kenapa ramai sekali?” tanyanya begitu sampai dikerumunan itu.

“Seorang pelayan  yang sedang membereskan beberapa pisau tiba-tiba saja dia terpeleset dan beberapa pisau yang saat itu dibawanya menusuknya hingga dia....” tubuh gadis itu bergetar karena ketakutan. Shin Yeong mengangguk paham lalu berusaha untuk melihat jenazah di pelayan.

“Eomma, apa aku melakukan kesalahan lagi?” tanya Yoon Bi khawatir melihat raut wajah sang ibu ketika mereka berdua sudah masuk kedalam mobil. Shin Yeong menghela nafas sejenak lalu, menggeleng pelan.

“Tidak sayang, ini bukan salahmu.” Sahutnya sambil memberikan pelukan agar anaknya tidak khawatir. Yoon bi mengangguk paham lalu kembali menikmati es krim-nya, sedangkan Shin Yeong hanya fokus untuk menyetir.

(( at Kyu-Shin house... ))

Sungmin menjatuhkan bokongnya tepat disamping Kyuhyun yang sedang asyik menikmati acar Tv. Kyuhyun melirik malas ke arah Sungmin yang sedang menyenderkan lehernya di punggung sofa, lalu matanya beralih menatap jam dinding yang ada diatas Tv.

“Tumben sekali kau baru pulang, hyung” ucap Kyuhyun membuka percakapan. Sungmin menegakkan tubuhnya lalu mendesah pelan. “Semakin hari semakin banyak yang mati karena rasa dendam. Aigoo... aku sampai kewalahan mengurus mereka,” Kyuhyun hanya mengangguk paham.

“Itu sudah menjadi resiko seorang catcher, bukan?” celetuk Kyuhyun dan hanya dibalas kekehan pelan oleh Sungmin. “Kau benar, sudahlah. Aku ingin tidur dulu, katakan pada istrimu aku tidak makan malam.” Ucapnya lalu pergi menuju kamar.

__oOo__

Kyuhyun POV
Terkadang... aku penasaran kenapa tubuh anakku bisa bertahan selama itu dengan dua jiwa yang ada didalamnya. Padahal, menurut kakek tua itu, seorang catcher tidak akan kuat jika harus memiliki dua jiwa sekaligus. Tapi... anakku?

Ku gelengkan kepalaku cepat mengusir hal-hal buruk yang tiba-tiba saja masuk ke pikiranku saat memikirkan Yoon Bi. Aku tau dia adalah anak yang kuat seperti ibunya, ya... dia sangat kuat.

“Sepertinya, ada yang mengganggu pikiranmu, tuan Cho.” Aku mendongak menatap Kwang Ji yang berdiri disebrang mejaku dengan membawa berkas-berkas yang baru. Ku hempaskan punggungku hingga menyender disandaran kursi. “Anni, aku hanya merindukan keluargaku saja.”

“Aigoo... ayah yang baik sekali. ckck,” godanya sambil meletakkan berkas-berkas itu. Aku hanya tersenyum miring sambil melambaikan tanganku mengusirnya hingga dia mendengus pelan karena itu.

“Well, let’s work again...”

Selama perjalanan pulang, pikiranku terus saja tertuju dengan Yoon Bi. Entah kenapa, aku semakin mengkhawatirkannya akhir-akhir ini. Aku takut jika suatu saat nanti akan ada hal yang bisa membahayakannya.

“Dimana yoonie?” tanyaku ketika istriku menghampiri untuk mengambil tas dan jas kerjaku. “Dia sedang bersama dengan Sungmin oppa dihalaman belakang,” jawabnya tenang.

Aku menghela nafas lega ketika mendengar jawabannya. “Gwaenchana? Sepertinya kau khawatir sekali,” tanya Shin Yeong curiga. Aku hanya menggeleng pelan meyakinkan dirinya.

(( at night... ))

Saat ini aku sedang membaca buku dihalaman belakang. Menikmati semilir angin malam yang sesekali berhembus menerpa kulitku. Jujur aku menyukai suasana tenang seperti ini, sambil menyesap kopi mocha favoriteku.

“Kyu, kau sibuk? Ada yang ingin aku katakan padamu,” aku menggeleng pelan ketika Sungmin hyun datang dan menarik kursi disampingku. “Wae?”

“Emm... sepertinya yoonie diincar oleh Lucifer,” aku mengernyit tidak mengerti dengan perkataannya. “Lucifer, adalah kelompok yang mengincar catcher yang memiliki dua jiwa. Mereka selalu mengorbankan tubuh catcher yang memiliki dua jiwa untuk ritual mereka,”

Mataku membulat sempurna mendengar penjelasannya. Meskipun sedikit banyak aku tidak mengerti, namun intinya anakku sedang dalam bahaya. Astaga! Berarti kekhawatiranku selama ini benar terbukti.

Ku pijit keningku pelan mengusir rasa panik yang tiba-tiba datang menyerang. “Apa yeongie sudah tahu?” tanyaku. Dia menggeleng pelan, “Aku tidak mungkin memberitahukannya pada istrimu. Aku tidak tega,”

“Hanya ada satu cara supaya anakmu terbebas dari incaran mereka.” Sambungnya. Aku menyeret kursiku mendekat padanya, penasaran dengan usul darinya. “Pindahkan salah satu jiwa catcher yeonie ke yoonggie,”

Pletakk...!!

“Ya!! Kenapa kau memukulku?!” sentaknya

“Ide gila,” desisku lalu menyeret kursiku menjauh kembali ke tempat semula.

__oOo__

Shin Yeong POV
Ada apa dengan Sungmin oppa, kenapa semakin hari dia selalu mengikuti Yoon Bi? Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?

“Omo!” pekikku ketika sebuah tangan yang sudah tidak asing bagiku merangkulku dari belakang. “Jangan melamun ketika sedang memotong, aku tidak ingin jarimu terluka, sayang.” Ucap Kyuhyun oppa lembut lalu mencium pipiku kilat dan berjalan meninggalkanku. Sesaat aku tersipu karena ulahnya yang tiba-tiba, namun aku menyukainya.

“Eomma....” aku menunduk ketika gadis kecil ku menarik celemek. “Ada apa sayang?” tanyaku ketika tinggi kami sudah sejajar. “Ayo jalan-jalan....” pintanya sedikit merengek.

Aku tersenyum simpul sambil mengacak rambutnya pelan. “Kau jalan-jalan saja bersama paman,” ucap Sungmin oppa yang tiba-tiba muncul dibelakang Yoon Bi. Yoon Bi menoleh ke arahnya lalu kembali menoleh kearahku. “Aku bosan jika harus bersama Sungmin ahjussi,” rengeknya lagi.

“Tunggulah sebentar lagi, setelah makan siang kita jalan-jalan bersama.” Dia melompat senang dan berlari kembali menuju ruang tengah.

“Aish! Anak itu....”

“Kenapa memangnya? Akhir-akhir ini, kau sering sekali bersamanya. Wajar jika dia bosan, oppa” ucapku ketika melihat wajah Sungmin oppa yang sedikit... kesal?

“Nde? Ahh... anni,” jawabnya cepat kemudian berlalu pergi.

(( One week later... ))

Sejak tadi sikap Yoon Bi benar-benar aneh. Dia selalu saja duduk dengan gelisah sambil sesekali melihat keluar jendela. Ada apa dengannya?

“Gwaenchana?” tanyaku saat berhenti dilampu merah. Dia menoleh kearahku dan mengangguk cepat. Bohong, aku tau pasti dia menyembunyikan sesuatu dariku.

Setelah kami sampai dirumah, dia langsung keluar dan berlari menuju rumah dengan tergesa-gesa.

“Ada apa?” tanya Sungmin oppa kepadaku ketika tidak sengaja Yoon Bi menabraknya hingga dia terhuyung sejenak. Aku hanya menggendikkan bahuku sebagai jawaban. “Justru aku yang bertanya padamu, sebenarnya anakku kenapa?” balasku.

“Ahh.... itu....”

“Waeyo? Katakanlah, aku tidak suka jika ada sesuatu tentang Yoon Bi yang kau sembunyikan!” paksaku sedikit membentak

Dia menghela nafas dalam dan panjang. “Sepertinya Lucifer sedang mengincar, yoonie.” Ujarnya

“MWORAGO?!” aku terkejut ketika dia menyebut nama Lucifer. Memang nama itu tidak asing bagiku, dan bahkan mungkin sudah sangat akrab ku dengar. Siapa yang tidak mengenal Lucifer? Tentu saja semua catcher mengenalnya, dia adalah kelompok yang mengincar catcher yang memiliki dua jiwa.

Dua jiwa?! Oh astaga, kenapa aku baru sadar?!

“Yeongie~ah, gwaenchana?” Sungmin oppa mengguncang tubuhku cukup kuat hingga tubuhku bergoyang. Sejujurnya aku cukup syok ketika baru sadar anakku memiliki dua jiwa, dan.... saat ini Lucifer mengejar mereka. “Eottoke?” desisku lirih  

Sungmin oppa memelukku ketika aku menangis. Refleks aku menumpahkan tangisanku didalam pelukannya. “Gwaenchana, kita masih ada jalan lain.” Ucapnya mencoba menenangkanku.

Auhtor POV
Sejak saat itu, Yoon Bi lebih dijaga ketat oleh Sungmin. Bahkan mungkin bergantian dengan Shin Yeong sesekali. Yoong Ji diasuh oleh Kyuhyun. Dan Kyuhyun pun dengan sukarela membantu, karena semua ini demi anaknya.

“Yoonie~ya.... jika kau sudah pulang, lekas hubungi paman, ne?” ucap Sungmin ketika mereka sudah sampai didepan sekolah Yoon Bi.
Yoon Bi mengangguk patuh lalu bergegas berlari ke dalam sekolah bersama teman-temannya. Sungmin menatap punggung kecil itu lalu mendesah pelan sebelum akhirnya dia menuju tempat parkir.

Langit sudah berubah warna menjadi kecoklatan sedangkan Yoon Bi sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya saat ini. Sesekali dia menatap keluar jendela, melihat warna langit yang berwarna sangat indah baginya.

“Oow.... kenapa kau belum pulang, gadis kecil?” ucap sebuah suara yang membuatnya langsung menoleh kearah pintu menatap seseorang yang berdiri disana.

“Memangnya kenapa?” tanya Yoon Bi polos. Orang itu tersenyum lalu berjalan mendekat kearahnya kemudian berlutut hingga sejajar dengan Yoon Bi. “Berbahaya, jika Lucifer mengincarmu.” Bisiknya kemudian menarik Yoon Bi dengan pelan hingga gadis kecil itu berjalan mengikuti langkahnya.

“Chogiyo, kita akan kemana?” tanya gadis kecil itu ketika mereka sudah berada dihalaman gedung sekolah.

Jordan –orang itu- berbalik dan menatap Yoon Bi dalam. Tangan kanannya terulur memegang kepala Yoon Bi. Detik berikutnya, gadis itu merasakan nyeri yang amat sangat hingga dia kehilangan kesadarannya.

__oOo__

Kedua pria dewasa dan seorang wanita dewasa sedang memandangi sosok mungil yang saat ini berbaring ditengah-tengah mereka bertiga. Raut yang ditampilkan oleh wajah mereka pun sama, yaitu kekhawatiran.

Sosok mungil yang sejak dua hari yang lalu tidak sadarkan diri sejak dirinya bertemu dengan pria yang membuatnya menegang takut.

Pria yang seharusnya tidak bertemu dengan gadis mungil itu karena itu bisa membahayakan kondisi gadis mungil itu sendiri. Namun, siapa sangka bahwa akhirnya gadis kecil itu bertemu dengan pria itu juga.

Pria berwajah imut mendongakkan pandangannya menatap mimik kedua wajah orang tua si gadis kecil dengan iba. “Yeongie~ah, Kyunie~ah, kalian berdua adalah orang tuanya. Jadi kalian harus pilih salah satu dari kedua jiwa yang ada dalam tubuh anakmu,” ucapnya setelah untuk beberapa saat mereka semua terdiam.

“Haruskah? Tapi bagaimana caranya?” tanya sang ibu dengan wajah ragu.

“Emm.. kita harus mengekstrak salah satu jiwanya. Ah! Aku memiliki kenalan yang bisa melakukan ini,”

“Jadi maksudmu.... salah satu jiwanya akan dipindahkan ke putraku?” kini sang ayah yang membuka suaranya. “Kau gila!”

Sungmin –pria wajah imut- itu hanya mendengus pelan sambil meraba wajah Yoon Bi –gadis mungil- itu khawatir. “Lalu apa kau akan membiarkan anakmu terus menderita, apa kau tidak tau kenapa pria itu terus saja mengawasi anakmu?” balasnya

Kyuhyun –sang ayah- menunduk sambil kedua tangannya mencengkram sprei itu dan menangis tertahan.

“Oppa.... maafkan aku, jika saja... jika saja kau tidak menikahiku. Maka, kau tidak harus berada disituasi sulit seperti ini.” Ucap Shin Yeong –sang ibu- sambil mengusap lengan suaminya. Kyuhyun mendongak dan memegang kedua tangannya erat.

“Tidak. Jika kau berfikir bahwa aku menyesal menikahimu dan memiliki keluarga seperti ini, maka singkirkanlah pikiran itu. Justru aku sangat senang karena memiliki keluarga yang berbeda dari keluarga lainnya, dan itulah yang membuatku menyayangi kalian.” Ucapnya tanpa ragu.

Kedua mata istrinya itu berkaca dan jatuhlah beberapa tetes air mata dari kedua mata indahnya itu. Kyuhyun tersenyum dan mengusap air mata istrinya lalu mengecup kedua mata istrinya itu. “Uljimma...” Shin Yeong mengangguk mengerti.

“Baiklah, kami setuju dengan usulmu. Lakukanlah jika memang itu yang terbaik baginya,” ucap Kyuhyun tegas. Sungmin mengangguk paham lalu dia mengambil handphone-nya untuk menelfon kenalannya itu.

Kyuhyun POV
Saat ini kami masih setia menjaga Yoon Bi hingga dia sadar. Sambil menunggu kedatangan seseorang yang berharap bisa membantu keadaan kami saat ini. Meskipun sejujurnya aku tidak mengerti, namun aku selalu berusaha agar aku berguna bagi mereka. Aku tidak mungkin membiarkan istriku melakukan semuanya sendiri.

Cklek....

Pintu kamar terbuka hingga membuat kami bertiga menoleh kearah ambang pintu. Menatap seorang gadis yang saat ini sedang menatap kearah kami.

“Sungmin oppa...!!” pekiknya ketika sudah berada disamping Sungmin hyung.

“Ya! Dimana sopan santunmu? Sapa mereka,” titahnya kepada gadis itu.

Gadis itu berdiri dan membungkuk hormat. “Annyeong haseyo, naneun Lee Eunji imnida.” Ucapnya riang

“Kau... murid SMA?” tanya Shin Yeong ragu setelah kami berkenalan, namun dibalas anggukan oleh Eunji.

“Kalau begitu, bisa kita lakukan sekarang?” pintanya. Aku dan Shin Yeong saling bertatapan kemudian mendesah pelan lalu mengangguk pasrah.

Baiklah.... saat ini ruang inap anakku sudah berubah menjadi tempat ritual yang aku sendiri tidak mengerti apa arti semuanya. Yang aku tau, hanya saat ini kedua anakku dibaringkan di dua ranjang yang berbeda namun jarak ranjang mereka dekat satu sama lain.

“Emm.... jiwa apa yang akan kau tinggalkan pada yoonie?” tanyaku was-was. Eunji menoleh kearahku dan menatapku dalam. “Jiwa neraka...” ucapnya lirih sambil mendekatkan cahaya lilin ke wajahnya hingga terkesan horor. Aku hanya bergidik ngeri.

“Mwo?! Jiwa neraka?!!” ucapku ketika sudah tersadar. Aku menatap ke arah Sungmin hyung. “Jiwa neraka tidak seburuk yang kau pikir!” sahut Sungmin hyung seolah mengerti tatapanku. “Lagipula, jiwa neraka lebih mendominasi.” Sambungnya.

Aku hanya mengangguk pasrah menginginkan yang terbaik saja untuk kedua buah hatiku.

Selama acara ritual pemisahan jiwa, kami –aku dan istriku- dilarang untuk masuk. Entah apa yang mereka berdua lakukan. Aku hanya bisa merapal do’a supaya tidak terjadi hal yang buruk pada kedua anakku.

Ya Tuhan, tolonglah mereka....

__oOo__

Shin Yeong POV
Dua jam empat puluh menit, namun ritual itu masih belum selesai. Oh astaga, ingin sekali rasanya aku melihat kedalam. Namun aku juga tidak ingin mengganggu. Lalu apa yang harus ku lakukan?

Aku menoleh ketika Kyuhyun oppa menggenggam kedua tanganku berusaha menyalurkan kekuatan. Meskipun aku tau, dia juga merasakan hal yang sama denganku saat ini. Namun tetap saja, dia selalu berusaha  menguatkanku.

Pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok Eunji yang tersenyum puas. Diikuti oleh Sungmin oppa yang berjalan dibelakangnya dengan sesekali menyeka keringat didahinya. Refleks kami berdua berdiri dan mendekati mereka.

“Kalian lama sekali,” cibir Kyuhyun oppa sambil merangkul bahuku yang masih sedikit bergetar.

“Bagaimana?” tanyaku gugup. Eunju tersenyum kearahku sambil mengacungkan jempol kanannya. Senyumku mengembang dan langsung aku menerobos masuk ke dalam diikuti oleh Kyuhyun oppa.

“Daebak! Anakmu benar-benar kuat, eonnie.” Ucap Eunji ketika mendekati kami. Aku hanya tersenyum simpul sambil membelai rambut Yoon Bi. Sedangkan Kyuhyun oppa menggendong Yoong Ji yang sudah bangun dan melihatku heran.

“Jadi... dia juga bisa melihat arwah?” tanya Kyuhyun oppa. Eunji dan Sungmin oppa mengangguk kompak. “Tapi tidak untuk saat ini, mungkin nanti.” Sahut Sungmin oppa.

Aku kembali menghembuskan nafas lega dan senang ketika mendengar itu. “Untuk sementara yoonie masih bisa membantu arwah untuk kembali ke surga. Mungkin.... saat dia dewasa dia akan menjadi catcher neraka,” timpal Eunji

(( Five days later....))

Yoon Bi berlari ke arahku dengan perasaan riang. Hari ini dia lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya.

“Ada apa sayang? Kau senang sekali hari ini,”

“Eomma.... tadi aku sudah bisa membantu menemani arwah bermain sebagai permintaannya. Aku hebat bukan?” aku tersenyum dan mengacak rambutnya. “Ne, kau sangat hebat.”

“Ahh~ apa appa melewatkan sesuatu?” tanya Kyuhyun oppa yang duduk disamping Yoon Bi. Gadis kecil itu menggeleng cepat kemudian menceritakan apa yang baru saja dia ceritakan padaku, Kyuhyun oppa menanggapi ceritanya dengan berbagai mimik yang sangat lucu.

Pandanganku menatap kearah Yoong Ji yang sedang asyik menyusun beberapa lego dan tanpa sengaja menghancurkannya. Sesekali dia memekik kesal karena ulahnya sendiri dan itu membuatku meraih tubuhnya dan memeluknya erat.
Aku tidak menyangka bahwa keluargaku akan menjadi seunik ini. Tapi tak apa, aku bahagia. Karena mereka lah pelengkap hidupku.

Tuhan... tolong jaga suamiku yang selalu ada untukku. Aku sangat menyayangi dan mencintainya.

Tuhan... tolong jaga kedua buah hatiku. Tegur mereka jika mereka salah menggunakan kekuatannya, kekeke....



THE END