Author :
Rina Chan
Cast : Kim
Ryeowook
Kang Hyun Sun
Other cast :
cari sendiri.. ^^
Genre :
hurt/comfort, romance, oneshoot
Disclaimers : karya ini murni karya ku, jika ada kesamaan judul
atau yang lainnya, semuanya karena unsur KETIDAKSENGAJAAN. FF ini terinspirasi
dari lagu Kyungsoo feat Ryeowook yang judulnya missing you. Well, mungkin ini
bisa disebut songfict kali ya?. Entahlah, hehe...
oke deh! Selamat membaca & enjoy it, ^^
>>>> beware Typo <<<<
Backsong : kim ryeowook with do kyungsoo – missing you
Kita tidak akan pernah tau seberapa penting sosok orang
lain sebelum kita kehilangan sosok tersebut – Kim Ryeowook
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah, dikediaman keluarga Kim. Semua anggota
keluarga sedang sarapan bersama, tidak jarang juga mereka sedikit banyak
mengobrol tentang kehidupan mereka yang akan dihadapi mereka pada hari itu.
“Bagaimana kabar restaurant dan hotelmu, nak?” tanya seorang
wanita paruh baya yang sudah menginjak kepala empat tersebut. Seorang pria yang
duduk dihadapannya mendongak. Merasa sang ibu sedang bertanya, membalas tatapan
ibunya lalu tersenyum. “Baik, akhir-akhir ini pelanggan yang datang berkunjung
semakin meningkat” jawabnya masih sambil tersenyum
“Sampai kapan kau terus sibuk dengan restaurant dan hotelmu.
Kapan kau akan menggantikan posisi appa-mu ini?” tanya seorang pria yang sudah
nyaris mendekati kepala enam. “Molla....” jawab pria itu singkat.
“Kim Ryewook! Bisa kau lebih sopan saat berbicara padaku?”
sentak pria tersebut yang bernama Kim Hyun-ki
“Sudahlah yeobo, biarkan dia memilih jalannya sendiri” ucap
sang istri menenangkan.
Suasana pagi saat itu yang semula tenang, menjadi sedikit
buruk karena percakapan ayah dan anak yang selalu berakhir dengan percekcokan
kecil. Tanpa memperdulikan pertengkaran tersebut, Ryeowook –nama pria tersebut-
lekas memakai jaketnya dan menuju ke garasi untuk membawa mobilnya pergi dari
kediamannya tersebut.
Mobil audy A5 milik Ryeowook melaju membelah jalan kota
Seoul yang masih sepi, sesaat dia melirik jam dipergelangan tangannya. Masih
jam setengah tujuh, pantas masih sepi pikirnya. Pikirannya sempat memikirkan
perkataan ayahnya, entah kenapa dia belum siap untuk menggantikan jabatan itu
meskipun umurnya saat ini sudah cukup layak untuk mendapatkan posisi tersebut.
Tiiinnnn....!
Ryeowook terkesiap ketika mendengar suara klakson dari
mobil yang berada dibelakangnya. Karena dia melamun, dia bahkan tidak
mengetahui bahwa lampu sudah berubah jadi hijau.
Hyun
Sun POV
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja disebuah hotel
mewah. Ani... lebih tepatnya, aku bekerja menjadi seorang pelayan disalah satu
restaurant yang berada didalam Stars hotel.
“Heh! Anak baru, kau jangan membuat kesalahan dihari
pertama kerja ya, nanti bisa-bisa kau sudah dipecat sebelum genap seminggu kau
bekerja disini” nasehat Ki Jeong –seniorku- ketika aku keluar dari kamar ganti.
“Ye, sunbaenim” dia menepuk pundakku pelan lalu pergi
meninggalkanku sendiri.
Pukul delapan tepat, para karyawan lain sibuk membersihkan
restoran tersebut. Sedangkan aku juga sudah sibuk untuk menghidangkan makanan
ke beberapa meja yang sudah diisi oleh para tamu yang akan sarapan. Sejauh ini
aku bekerja dengan baik, bahkan kepala pelayan memuji hasil kerjaku saat aku
kembali ke dapur untuk membawa piring kotor.
“Terima kasih bantuannya...” ucapku sambil membungkuk
kepada semua para rekan kerjaku yang sudah membantuku hari ini.
Langkahku tiba-tiba berhenti ketika melihat dapur yang
masih menyala, para karyawan lain sempat bilang jika tuan Kim –pemilik hotel-
sering terlihat berada didapur jika sudah jam setengah sebelas malam. Ku
beranikan langkahku mendekati dapur, membuka pintunya perlahan dan melihat
kesekeliling.
“Hallo... apakah ada orang?” tidak ada jawaban, dan
langkahku semakin berani hingga berhenti disalah satu meja. Mataku berbinar
ketika melihat sebuah sorbet coklat favoriteku tersaji dihadapanku. Kepalaku
menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan bahwa tidak ada orang selain
diriku, aku pun memasukkan sesendok sorbet cokelat tersebut kedalam mulutku.
“Ya! Kenapa kau memakannya?!” aku tersedak ketika seseorang
menegurku. Tanganku memukul dadaku pelan mencoba mencari nafas. Langsung saja
ku sambar segelas air yang disodorkan oleh orang yang menegurku.
“Hahh~ gomawo” ucapku lega
Aku menoleh ke orang yang baru saja memberiku segelas air,
“Nuguya?”
“Ya! Seharunya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau orang
baru?” aku mengangguk. “Ahh~ pantas kau tidak mengenalku, naneun Kim Min Seok
imnida. Tapi aku biasa dipanggil Xiumin,” aku mengangguk paham.
“Ah~ naneun Kang Hyun Sun imnida,” ucapku cepat menyadari
tatapannya yang seolah bertanya.
“Ck! Aigoo... bagaimana ini, aku pasti akan dimarahi
olehnya.” Keluhnya sambil menatap nanar sorbet coklat yang ku makan. Merasa
bersalah, aku pun mulai mengambil beberapa alat masak dan mulai membuat sorbet
untuk menggantikan makanan tersebut.
“Ini..” dia menatap makanan yang ku buat, ragu. “Aku tidak
meletakkan apapun, bukankah sejak tadi kau melihat apa saja yang ku masukkan
untuk membuatnya?” lanjutku menjawab tatapan curiga matanya.
Dia menerima makanan tersebut dan tersenyum, “Gomawo...”
ucapnya sambil berlalu pergi.
Ryeowook
POV
Mataku berbinar melihat laporan tentang jumlah tamu yang
hari ini datang berkunjung ke restoranku. Ada satu hal yang mengganjal hatiku,
karena tidak biasanya restoran milikku seramai ini. Meskipun restoran miliknku
sudah dipastikan akan selalu ramai, namun aku tetap penasaran siapa yang telah
menjadikan retoranku seramai sekarang.
Tok.. tok... tok....
“Masuk...” seseorang masuk dengan membawa sebuah nampan.
Aku tersenyum kearahnya lalu berjalan menuju kesebuah meja dan menarik salah
satu kursinya. Orang tersebut membuka penutup nampannya dan memberikan isinya
padaku.
“Kau sudah bekerja sangat keras, apa kau senang dengan
persentase tamu yang datang?” aku tersenyum lalu mengangguk. Tanganku mengambil
cangkir kopi dan menyesapnya pelan.
“Tentu saja, semua pengusaha tentu sangat senang jika
usahanya laris.” Dia ikut tersenyum dan mengangguk setuju. “Tumben sekali, kau
sedikit telat saat mengantarkan jamuannya. Itu bukan gaya seorang Kim Min Seok,
bukan?” dia tersenyum kuda menerima sindiranku.
“Hanya sedikit gangguan,” aku mengangguk tidak penasaran
apa alasan detailnya kenapa dia terlambat mengantar jamuan.
Dia, Kim Min Seok atau biasa ku panggi Xiumin. Sudah
menjadi sekertaris ku yang sangat serba guna. Dia sangat bisa ku andalkan dalam
bidang apapun, bisa juga sebagai teman disaat aku butuh teman ngobrol. Dan aku
sangat senang bisa mengenal orang sepertinya.
“Hemmm.... mashita! Tidak biasanya sorbet ini terasa
berbeda, emm...” pujiku sambil melihatnya sedikit terkejut. “Wae? Apa sorbet ini
bukan kau yang membuat?” dia menggeleng pelan.
“Nuguya?” dia terdiam sejenak, berfikir. “Kang Hyun Sun”
jawabnya singkat
Alisku menyatu mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh
Xiumin. “Apa dia salah satu karyawanku?” dia mengangguk mantap. Aku terdiam dan
kembali menikmati sorbetku setelah Xiumin meninggalkan ku sendiri.
Dua minggu kemudian....
Sekarang aku sudah mengetahui siapa orang yang sukses
membuat resoran ku ramai oleh pengunjung. Ku akui dia memang seorang pelayan,
tapi dia pandai dalam melayani para pelanggan. Sedikit info yang ku ketahui
tentangnya dia adalah lulusan sebuah institut perhotelan yang terkenal di
Busan.
Tok... tok.. tok....
“Apa anda memanggil saya sajangnim?” tanya orang yang baru
saja ku pikirkan. Aku mengangguk lalu menyuruhnya duduk dihadapanku.
.
.
.
Tubuhnya sedikit tidak nyaman, tangan kanannya mencengkram
keras pergelangan tangan kirinya hingga membuatnya memerah. “Kau tidak perlu
gugup seperti itu, lihat itu.” Pandangannya menatap kearah pergelangan tangan
kirinya yang ku tunjuk, dia sedikit terkejut karena pergelangannya memerah.
Author
POV
Ryeowook berdiri lalu mengambil sebuah kotak P3K yang
berada disebuah nakas tidak jauh dari meja kerjanya.
“Kemarikan...” Hyun Sun menatap Ryeowook terkejut begitu
melihat atasannya itu duduk berlutut didepannya dengan mengulurkan tangannya.
“Tanganmu,” lanjutnya membuat Hyun Sun semakin menggenggam pergelangan
tangannya yang sudah memerah. Ryewook menarik paksa tangan kiri Hyun Sun lalu
mengoleskan sebuah krim dipergelangan tangan itu, dengan telaten dia membalut
luka memar tersebut dengan perban tipis.
“Sudah selesai.” Ucap Ryeowook yang kembali ke tempatnya
semula setelah meletakkan kotak P3K ke nakas.
“Kamsahmnida sajangnim,” balas Hyun Sun sedikit membungkuk
dalam duduknya.
“Aku yang harus berterima kasih padamu”
“Ne?”
“Berkat pelayananmu yang baik, pelanggan ku jadi semakin
meningkat. Bahkan para pelayan lain, mengikuti caramu.” Hyun Sun menunduk malu
mendengar pujian atasannya itu. Ryeowook tersenyum melihat respon pujiannya
tersebut, lalu matanya menatap pergelangan tangan kanan Hyun Sun yang
menggunakan sebuah gelang.
“Apa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?” tanya
Hyun Sun membuat Ryeowook sedikit tergagap. Sejenak dia memikirkan suatu hal
setelah melihat gelang tersebut. “Jadilah asisten pribadiku,”
“Mwo?”
“Ne, aku mengangakatmu menjadi asisten pribadiku. Bisa?
Jika kau tidak ingin aku tidak memaksa. Jika kau mau, kau bisa kemari lagi
untuk memberi jawabannya.” Hyun Sun berdiri membungkuk memberi hormat lalu
berjalan keluar dengan penawaran atasannya yang tiba-tiba itu.
“Kau akan menjadikannya asisten pribadimu?” Ryeowook
menutup telinganya sejenak ketika mendengar suara Xiumin.
“Ya! Pelankan suaramu, hanya karena saat diluar kantor kita
menjadi teman bukan berarti kau bisa membentakku sesukamu.” Sahut Ryeowook
tidak suka.
Saat ini mereka berdua, sedang berada diapartement milik
Ryeowook. Xiumin juga ikut tinggal diapartement itu, karena jika Ryeowook
pulang kerumah apartement itu diurus oleh Xiumin. Mereka berdua sedang asyik
menikmati salad buah butan Ryeowook dan membicarakan perbincangan Ryeowook
dengan Hyun Sun tadi pagi.
“Tapi tetap saja, dia... yang berawal dari pelayan biasa
langsung kau angkat jadi asisten pribadi. Apa yang menyebabkanmu menjadikannya
seperti itu, aku tau itu bukan gaya Kim Ryeowook” Ryeowook terkekeh mendengar
kalimat terakhir yang Xiumin ucapkan.
“Molla... gelang itu... sepertinya tidak asing untukku,”
“Gelang?”
“Ne, gelang kayu... sama seperti...” Ryeowook berjalan
memasuki kamarnya dan membuka setiap laci diruangan tersebut.
Sudah ku duga, batin Ryeowook ketika sudah menemukan apa yang dicarinya.
Hyun
Sun POV
Langkahku berhenti tepat saat didepan sebuah toko es krim.
Mataku menelisik kedalam toko tersebut dan melihat bahwa toko sedang tidak
ramai dikunjungi orang.
“Annyeong ahjussi....”
“Oh, kau sunie~ah. Ingin memesan apa kali ini? Atau kau
ingin memesan semua rasa?” tawarnya dengan senyum renyah khas seorang Han
ahjussi.
Mataku melihat setiap tulisan yang terpasang didepan
mangkuk-mangkuk es krim yang berjejer dietalase. Pandanganku berhenti pada
sebuah es krim rasa chery, pikiranku kembali melayang mengingat bahwa dulu ada
seseorang yang juga suka rasa itu. Tapi siapa? Aku tidak ingat.
“Sudah menentukan ingin pesan apa?” tanya Han ahjussi
membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, “Aku pesan rasa strawberry dan coklat”.
Han ahjussi tersenyum lalu mengambil sebuah gelas untuk meletakkan es krim
pesananku. Aku sudah duduk manis dihadapannya sambil melihat orang-orang yang
juga sedang menikmati es krim.
“Ini pesanannya, selamat menikmati” aku tersenyum lalu
mengucapkan terima kasih.
Setelah puas menikmati es krim kesukaanku, ku lanjutkan
perjalananku menuju ke sebuah taman yang sedang dipenuhi oleh anak-anak kecil
yang sedang bermain.
Tiba-tiba sebuah bola plastik menggelinding padaku dan aku
mengambilnya, seorang anak laki-laki mendekatiku sambil tersenyum kikuk.
Seperti mengerti akan tatapannya, aku memberikan bola tersebut.
“Kamsahamnida, noona” serunya sambil kembali ke
teman-temannya.
Setelah puas menikmati mereka semua bermain, langkahku
kembali dilanjutkan menuju apartementku.
Setibanya diapartement, aku langsung mengganti bajuku dan
menyiapkan makan malam. Orang tuaku tinggal di Busan, jadi aku berada di Seoul
sendirian. Sebenarnya, orang tuaku melarangku untuk bekerja dan berpisah dengan
mereka. Namun setelah meyakinkan mereka berdua, supaya tidak perlu terlalu
khawatir, akhirnya mereka berdua rela melepaskanku.
Alasan yang mereka gunakan adalah, karena mereka tidak
ingin aku kembali mengalami kecelakaan yang ku alami dulu saat aku masih
dikelas satu senior high school (SHS).
Kecelakaan? Ya, kecelakaan yang membuatku tertidur selama
tiga bulan lamanya. Batinku sambil memejamkan mata ketika mengingat kejadian itu.
_flashback ON_
Aku berjalan dengan riang menuju ke sebuah taman yang
berada disekolahku. Tepat seperti dugaanku, seseorang telah menungguku disana.
Dia tersenyum dan menganyunkan tangannya menyuruhku mendekat. Saat itu yang ku
rasakan adalah gugup, karena sejujurnya aku ingin mengungkapkan perasaanku
padanya.
“Aku tidak bisa menerimamu” jawabnya cepat setelah lima
detik aku menyatakan perasaanku.
“Ke.. kenapa?”
“Karena bagiku, kau sudah ku anggap sebagai teman. Bukankah
kau tau, bahwa aku sudah menyukai seseorang yang bernama Park Haera?” ungkapnya
membuatku menunduk sambil menggenggam gelang pemberiannya.
“Dan... kalaupun aku selama ini dekat denganmu, karena kita
sudah dekat sejak kecil. Aku sangat senang bisa berteman denganmu, tapi kau
sudah merusaknya dengan pengakuanmu barusan. Aku pergi,”
Setelah dia mengatakan itu, aku berjalan gontai menuju
gerbang sekolah. Saat menyebrang jalan, tiba-tiba saja gelangku terlepas.
Ketika aku akan mengambilnya kembali, ternyata lampu sudah berubah menjadi
merah dan detik berikutnya setelah berhasil mengambil gelang tersebut, tubuhku
melayang. Dan semuanya menjadi gelap.
_flashback OFF_
KLONTANG...!
Pisau yang ku pegang jatuh ke lantai karena pikiranku tidak
fokus ketika ingatan itu kembali teringat. Sayangnya... aku tidak ingat siapa
namja itu!
Ryeowook
POV
Mataku menyisir menatap setiap fotoku dengannya. Yeoja yang
sempat menghilang dari kehidupanku, aku tidak pernah sekalipun melupakannya
karena dia sudah sangat dekat denganku.
Sejak dia mengungkapkan perasaannya, dia menghilang. Sedih
rasanya tidak bertemu dengannya saat itu, bahkan saat aku mengunjungi rumahnya,
dia dikabarkan sudah pindah bersama keluarganya.
Tanganku kembali meraba gelang kayu yang saat ini sudah
kembali ku pakai, entah kenapa sejak melihatnya tadi pagi, aku menjadi semakin
yakin bahwa itu adalah dirinya. Tapi kenapa dia bersikap biasa saja? Apa dia
sudah melupakan perkataanku saat itu?. Ataukah... arkh! Kenapa perasaan rindu itu
kembali menguak.
“Hyung... kau kenapa, eoh? Tidak biasanya kau seperti ini.
Kau frustasi, karena apa?” tanya Xiumin bertubi membuatku menatapnya tajam
hingga kata maaf terucap lirih darinya.
“Gadis itu.... aku kacau sejak bertemu langsung dengannya
tadi pagi, kenapa hatiku selalu mengatakan bahwa itu ‘dia’?!”
Xiumin menggumam tidak jelas melihat ekspresi sahabat
sekaligus atasannya itu, “Kenapa kau tidak mencari tahunya saja?” tubuhku
menegap mendengar sarannya dan menatapnya penuh harap. Dia mengehembuskan nafas
perlahan, “Arra.. arra... aku akan membantumu” dengus Xiumin sangat hafal
dengan ekspresi yang diberikan olehku.
Selama bekerja, aku sedikit-sedikit mencuri pandang untuk
menatap sosoknya. Bahkan aku sering makan di restoranku, demi untuk menatapnya
meyakinkan diriku bahwa itu memang yeoja yang selama ini membuatku tersiksa
dalam rindu.
“Ahh... tumben sekali sajangnim makan disini” ucapnya
sambil menghidangkan makanan yang ku pesan. Aku melipat koran yang ku baca dan
menatapnya menata makanan dimeja.
Dia membungkuk hormat sebelum kembali mendorong trolly yang
baru saja membawa makananku. Tanpa menunggu lama aku melahap semua makanan yang
sudah tersaji sambil sesekali melihatnya yang juga sedikit bercengkrama,
seketika kedua tanganku semakin mencengkram garpu dan pisau yang saat ini ku
pegang ketika melihat seorang pria meraba lengannya halus.
Brakk..!!!
“Omo! Ya! Kau membuatku jantungan!” tidak ku pedulikan
pekikan Xiumin, langkahku berjalan menuju kulkas mini dan mengambil sebuah bir
lalu meminumnya hingga setengah.
“Apa yang terjadi dibawah sehingga kau menjadi kacau
setelah bertemu dengannya?”
Aku mendengus pelan sambil menyilangkan kedua tanganku
didada setelah menyenderkan tubuhku disofa. “Aku harus memilikinya,
secepatnya!” tekanku pada kata terakhir.
Xiumin mendesis pelan lalu menggaruk kepalanya dengan jari
telunjuknya. “Aku membawa info yang ingin kau tau” aku menoleh kearahnya merasa
tertarik dengan yang baru saja dikatakan olehnya.
“Apa yang ingin kau tau?”
“Sialan, kau Kim Min Seok! Cepat ceritakan semuanya!”
paksaku membuatnya mendengus sebal.
Dia mulai bercerita semua perihal yang bersangkutan dari
orang yang selama ini ku cari. Ku tekankan lagi, SEMUANYA. Dari sekolahnya,
orang tuanya, dan alamat rumah kedua orang tuanya. Aku menyimak semua yang
dikatakan oleh Xiumin dengan cermat.
.
.
.
Seorang yeoja sedang berdiri didepan sebuah SHS yang dulu
ditempatinya. Ya, dulu. Dulu sekali sebelum dia hilang tanpa jejak. Matanya
menatap sendu ke arah anak-anak sekolah yang berjalan keluar gerbang dengan
berbagai macam ekspresi. Bukankah dulu aku pernah menjadi posisi mereka?,
gumamnya lirih.
Entah apa yang mendorongnya hingga dia memberanikan dirinya
untuk memasuki gedung sekolah yang saat ini sudah sepi. Hanya terlihat beberapa
mobil milik sang guru yang lembur. Tubuhnya memutar menatap suasana sekitar.
“Benar-benar tidak berubah” ucapnya tersenyum.
Sejujurnya yeoja itu sudah dilarang keras masuk ke area
tersebut oleh orang tuanya. Hanya saja, entah kenapa saat dia berjalan-jalan
kemari dan melihat sekolah ini. Hatinya berdesir, menyuruhnya untuk masuk
kedalamnya.
Pandangannya kosong ketika langkahnya berhenti disebuah
taman yang milik sekolah tersebut, tiba-tiba sekelebat bayangan masa lalunya
kembali memaksa keluar.
“Aku tidak bisa menerimamu...”
“Aku sudah menyukai gadis lain, bukankah kau tau itu?”
Yeoja itu mencengkram rambutnya keras. Menggerang menahan
rasa nyeri yang tidak tertahankan saat kenangan itu muncul. Semua kenangan
tersebut muncul saat dia mulai bekerja di Stars hotel, namun dia selalu tidak
menganggap rasa sakit itu.
“Tidak... aku mohon, jangan usik aku lagi. Aku tidak ingin
ingat, aku tidak bisa mengingatnya... jangan paksa aku lagi.” Ujarnya parau
sambil terjatuh dengan kedua lututnya yang menjadi penopang tubuhnya.
Tangannya bergetar mengambil obatnya dan meminumnya
langsung tanpa air. Dia bernafas lega ketika rasa nyeri itu sudah berangsur
menghilang. Ekspresinya kembali seperti semula, dan dia bangkit berlari
meninggalkan tempat yang menakutkan itu baginya.
“Aigoo... hey, nona Kang. Kenapa wajahmu berubah kusut
sekali hari ini?” tanya Xiumin sambil menatap wajah Hyun Sun yang sedikit
terlihat pucat.
“Kau sakit?” Hyun Sun menggeleng pelan lalu menerima
segelas coklat hangat pemberian Xiumin.
“Sepertinya ada yang mengganggumu, apa itu?” Hyun Sun
mendengus pelan sambil meletakkan mug-nya. Matanya menatap Xiumin yang selalu
setia menjadi temannya berbagi, sejak insiden malam itu. “Oppa... kenangan itu
selalu memaksa keluar,”
Xiumin mengangguk mengerti, karena sejujurnya dia
mengetahui masa lalu gadis itu. “Lantas kenapa tidak kau biarkan keluar?” Hyun
Sun kembali menggeleng. “Tidak bisa, terlalu sakit” jawabnya sambil menangis,
bahkan dia sendiri tidak mengerti kenapa air matanya sampai keluar.
“Arraso... tenangkanlah dirimu, jangan terlalu memaksakan
jika itu membuatmu terluka. Aku akan pulang, apa kau masih ingin disini?” Hyun
Sun mengangguk sambil mengusap air matanya. Xiumin tersenyum lalu mengusap
rambut Hyun Sun lembut, “Jangan terlalu lama disini.” Hyun Sun mengangguk
menatap kepergian Xiumin yang sudah menghilang dibalik pintu dapur.
Ryeowook
POV
Ku hempaskan tubuhku yang pegal ke kasurku yang nyaman dan
hangat. Pikiranku masih tidak bisa melepaskan bayangannya yang menangis
ditambah lagi dengan perkataan Xiumin tentang penyebab kenapa gadis itu bisa
menangis.
“Apa kalian dulu saling mengenal?” tanya Xiumin membuatku
membuka kembali mataku yang sempat terpejam. Lalu mengangguk.
“Tapi kenapa dia seperti tidak mengenalmu?” aku bangkit dan
duduk bersila menatap Xiumin yang sudah duduk dikursi kerjaku dengan posisi
dagunya menopang disenderan kursi. “Molla... yang aku tau, setelah aku
menolaknya dia dan keluarganya lenyap.”
Xiumin mendongakkan wajahnya merasa tertarik dengan
ceritaku, “Lalu?”
“Aku tidak tau, dia dan keluarganya berada dimana. Bahkan
hubungannya dengan keluargaku pun sudah tidak ada, dan sejak saat itu aku sadar
bahwa aku menyukainya. Ani! Aku mencintainya, aku merasa sangat kehilangan
sosoknya saat dia tiba-tiba menghilang seperti itu.” Jelasku panjang lebar
“Memangnya kenapa kau menolaknya? Dia baik, perhatian dan
periang.”
Aku membuang mukaku sejenak dan kembali menatap Xiumin
sendu, “Karena saat itu aku sudah menyukai gadis lain. Aku menolaknya karena
aku tidak ingin merusak pertemanan kami yang sudah terjalin sejak kami kecil,”
Xiumin mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak dari
duduknya. “Tidurlah... jangan terlalu dipikirkan, jika memang kalian berjodoh
maka akan bersatu.” Ucapnya sambil berlalu keluar dari kamarku.
Mataku beralih menatap jendela yang sedang menampakkan
bulan yang bersinar dengan cerah. Entah kenapa mengingat bahwa dia sudah tidak
ingat apapun tentangku lagi, membuat dadaku sesak. Mungkin aku harus datang
berkunjung ke rumahnya. Ya! Aku harus.
Mobilku berjalan perlahan memasuki kawasan pedesaan yang
dihiasi oleh hamparan sawah dan perkebunan disekelilingku. Mata dan mulutku
tidak berhenti bergumam mengagumi keindahan alam yang tidak ku temui di Seoul.
Sesekali aku menghentikan laju kendaraanku untuk berfoto ria mengabadikan
moment tersebut.
Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa
rumah yang ada dihadapanku kini adalah rumah keluarga Kang. Mataku menelisik
halaman rumah tersebut, rumah yang berinterior tradisonal tapi terkesan elegan.
*bayangin rumahnya Jihu di BBF*
Setelah mengumpulkan keberanianku, kakiku akhirnya berpijak
pada halaman rumah tersebut dan sudah
berhenti didepan pintu utama rumah tersebut.
Ting nong... ting nong....
“Nuguseyo?” tanya sebuah suara dari intercom yang tidak
jauh dari tempat ku berdiri.
“Annyeong haseyo, naneun Kim Ryeowook. Apa benar ini
kediaman keluarga Kang?” tanyaku sopan detik berikutnya tidak terdengar jawaban
apapun hanya derap langkah kaki yang berjalan menuju pintu.
Aku membungkuk hormat ketika dua orang yang sudah sangat ku
kenal sedang berdiri dihadapanku kini. “Annyeong haseyo, ahjumma... ahjussi...
neomu bogo....”
PLAKKK...!!
“Untuk apa kau datang kemari, aku sudah tidak mau melihat
wajahmu lagi!” bentak Kang ahjussi. Aku menatapnya sambil memegangi pipi
kananku, perih.
“Yeobo, tenanglah... tidak baik membentaknya seperti itu.”
“Memangnya kenapa jika aku mebentaknya? Dia pantas
diperlakukan seperti itu, gara-gara dia.... apa kau lupa bahwa anak kita
kecelakaan karena dia!” tunjuk Kang ahjussi padaku
“Tapi itu sudah lama, yeobo. Tidakkah kau sudah berjanji
untuk melupakannya?”
“Ye, kau benar. Aku sudah melupakannya, saat dia tidak
dihadapanku. Tapi sekarang, dia kembali membuatku mengingat kembali masa dimana
anak kita kecelakaan dan koma!”
Koma? Kecelakaan? Apa yang sebenarnya mereka katakan? Aku
benar-benar tidak mengerti.
“Ya! Pergi dari rumahku sekarang juga, sebelum kau pulang
dalam keadaan babak belur!!”
“Ta.. tapi...”
“NA KARAGO!!”
Tanpa pikir panjang, ku putar tubuhku cepat dan menuju
tempat mobilku diparkir.
Hyun
Sun POV
Hari ini aku sangat senang karena aku sedang pulang kerumah.
Alangkah senangnya bertemu dengan appa dan eomma yang sudah tidak ku temui
selama tiga bulan.
Langkahku ku ayun riang menyusuri jalan menuju rumahku,
namun pandanganku tiba-tiba menangkap sebuah mobil yang sudah tidak asing
bagiku dari kejauhan. Ku hentikan langkahku begitu mobil itu semakin dekat
dengan ku. Mataku membulat sempurna ketika melihat bahwa pengemudi mobil itu
adalah Kim Ryeowook, atasanku.
“Dia... habis dari mana? Apa dari rumahku? Mungkinkah,
tapi...” aku menggeleng cepat lalu melanjutkan perjalananku kerumah sambil
menenteng beberapa kantong belanjaan yang ku beli dipasar.
“Apa benar Kim sajangnim kemari?” tanyaku ketika kami
sedang makan malam, seketika itu reaksi appa berubah dan menatapku tajam.
“Kim sajangnim? Apa kau bekerja ditempatnya?” aku
mengangguk.
“Bukankah sudah ku katakan bahwa aku bekerja menjadi
pelayan disebuah hotel terkenal?” cibirku sambil kembali memasukkan lauk
kedalam mulutku tidak memperdulikan tatapan tajam appa.
“Keluar dari pekerjaanmu”
“Mwo?!”
“Aku bilang keluar dari pekerjaanmu, aku tidak suka kau
bekerja diperusahaan atau apapun milik keluarga Kim.”
Tubuhku berdiri dan membalas tatapan tajam appa, “Shireo!
Aku sudah mendapatkan pekerjaan itu dengan usahaku. Dan aku tidak mungkin
keluar begitu saja, jangan kau paksa aku. biarkan kali ini aku yang menentukan
sendiri jalanku,” balasku sambil berlalu menuju kamarku dilantai dua.
Mataku sembap karena semalaman menangis, lihatlah... bahkan
kini ekspresiku sangat kacau karena perkataan appa. Ku telusuri wajahku yang
terpampang dicermin sambil mengusap bagian disekitar mata. Kenapa appa
melarangku? Memangnya apa salahnya jika bekerja di salah satu usaha milik
keluarga Kim?, gumamku lirih.
“Sunie~ah, lebih baik kau menuruti perkataan appa, nak.”
Aku menggeleng cepat ketika eomma meletakkan nampan berisi sarapan pagiku.
Sejak malam dimana appa menyuruhku keluar, aku tidak ingin bertemu dengannya.
“Dia melakukan ini demi kebaikanmu,” aku menoleh menatap
eomma meminta penjelasan. “Dia tidak ingin kau mengalami kecelakaan lagi,”
dahiku berkerut semakin tidak mengerti. “Kau kecelakaan dan koma, itu
karena.... menyelamatkan gelang itu,” tunjuk eomma pada gelangku.
“Aku tidak mengerti dengan apa yang eomma katakan, kenapa
tidak kau jelaskan secara langsung?” keluhku jengkel mendengar perkataan eomma
yang setengah-setengah.
“Kau... berteman dekat dengan wookie, Kim Ryeowook.” Aku
tersentak ketika mendengar nama Kim sajangnim disebut.
“Saat kalian duduk dikelas satu SHS, kau mengungkapkan
perasaanmu padanya karena kalian sudah saling kenal sejak kecil. Namun, dia
menolakmu. Menurut saksi yang melihat kejadiannya, saat itu kau berjalan dengan
sempoyongan dan saat menyebrang jalan gelangmu itu terlepas...” eomma berhenti
sejenak mengambil nafas.
“Kau mengambil gelang itu tanpa tau bahwa lampu sudah
berubah menjadi merah, dan.. dan... tubuhmu terlempar setelah sebuah sedan
menabrakmu nak...” eomma terisak. Tubuhku refleks memeluknya dan
menenangkannya. “Bahkan kau koma selama tiga bulan karena kecelakaan itu, maka
dari itu appa dan eomma memutuskan untuk pindah dan menghapus semua kenanganmu
tentang namja itu.”
“Jadi aku sempat amnesia?” eomma mengangguk dalam
pelukanku. “Dan, amnesiaku dimanfaatkan oleh kalian berdua untuk menghapus
jejaknya?” eomma mengangguk lagi sambil mengucapkan kata maaf dengan sangat
lirih namun masih bisa ku dengar. Ku eratkan pelukanku pada tubuhnya.
Aku mengerti, eomma. sekarang aku mengerti semuanya.
Baiklah, aku akan menuruti permintaan appa. Aku tau kalian ingin melindungiku.
.
.
.
Hyun Sun berjalan menyusuri setiap meja dan berhenti dimeja
yang memiliki nomer dua belas itu. Dia sudah keluar dari restoran milik
Ryeowook, dan dia memutuskan untuk menjadi salah satu pelayan di toko es krim
milik Han ahjussi.
“Dua skup es krim chery, dan satu skup es krim coklat.
Selamat menikmati,” ucapnya sambil tersenyum setelah meletakkan pesanan milik
pelanggan tersebut.
“Chakkaman” Hyun Sun menoleh ketika si pelanggan
menahannya. “Ada yang bisa saya bantu lagi tuan?”
“Duduklah, temani aku”
“Nde?” awalnya Hyun Sun bingung, namun akhirnya dia
menuruti permintaan si pelanggan.
Pelanggan tersebut membuka topi dan kaca matanya. Hyun Sun
langsung membulatkan matanya tidak percaya, bahwa pelanggan yang sering datang
itu adalah mantan bos-nya, Kim Ryeowook.
Ryeowook tersenyum melihat Hyun Sun yang terkejut,
“Bagaimana kabarmu?”
“Sedang apa anda kemari, bukankah restoran anda sedang
sibuk?” Ryeowook tidak memperdulikan pertanyaan Hyun Sun, dia asyik menyuapkan
sesendok es krim coklat ke mulutnya dengan santai.
“Apa kau sudah ingat?” Hyun Sun mendengus mendengar
pertanyaan Ryeowook. “Kalau iya, kenapa?”
“Kalau begitu, maukah kau....”
“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, tidakkah kau sadar
bahwa perkataanmu itu selalu menyakitiku. Bahkan disaat aku amnesia pun,
perkataanmu yang selalu ter.. ani! Bukan hanya perkataanmu. Tapi bayanganmu
saat mengucapkan kata-kata itu,” potong Hyun Sun cepat
“Tapi itu sudah sangat lama. Aku sadar bahwa saat itu aku
sudah salah, dan aku ingin memperbaikinya sekarang.”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi, Ryeowook~ssi. Urusan
kita selesai, dan aku harus kembali bekerja.” Ucap Hyun Sun beranjak dari
duduknya.
“Ahh~ dan jangan sekali-kali kau memperlihatkan wajahmu
itu, kau sudah sangat membuatku menderita. Tidakkah kau merasakan rasa sakit
yang ku rasakan?” Sambung Hyun Sun dan mulai melangkah meninggalkan Ryeowook
yang mematung dengan perkataan Hyun Sun.
THE END