it's my new world

follow your heart

Latest Posts
Maknae Girls' Generation yang juga anggota sub-unit TaeTiSeo, Seohyun akhirnya bergabung di Instagram.

Setelah sebelumnya anggota Girls' Generation lainnya membuat akun Instagram, kini giliran Seohyun yang bergabung di media sosial yang satu ini. Untuk akun Instagramnya ini, Seohyun menggunakan username @seojuhyun_s. Akun ini kemudian dikonfirmasi langsung oleh Sunny, Sooyoung dan berbagai selebriti yang memfollow akun miliknya tersebut.

Hingga saat dituliskannya artikel ini, Seohyun sama sekali belum mengupload satupun foto. Namun, walau baru saja dibuat, akun Instagram Seohyun ini sudah hampir mencapai angka 100 ribu followers. Angka ini akan terus bertambah, mengingat Girls' Generation memiliki penggemar yang cukup luas. Terlebih lagi belum lama ini Seohyun melakukan promosi sebagai anggota TaeTiSeo.

Sementara itu, hingga saat ini hampir seluruh anggota Girls' Generation memiliki akun Instagram. Yoona jadi satu-satunya anggota Girls' Generation yang masih belum memiliki akun Instagram. Kira-kira, apakah Yoona juga akan mengikuti anggota lainnya ya?


Foto: Seohyun Girls' Generation Bergabung di Instagram

Maknae Girls' Generation yang juga anggota sub-unit TaeTiSeo, Seohyun akhirnya bergabung di Instagram.

Setelah sebelumnya anggota Girls' Generation lainnya membuat akun Instagram, kini giliran Seohyun yang bergabung di media sosial yang satu ini. Untuk akun Instagramnya ini, Seohyun menggunakan username @seojuhyun_s. Akun ini kemudian dikonfirmasi langsung oleh Sunny, Sooyoung dan berbagai selebriti yang memfollow akun miliknya tersebut.

Hingga saat dituliskannya artikel ini, Seohyun sama sekali belum mengupload satupun foto. Namun, walau baru saja dibuat, akun Instagram Seohyun ini sudah hampir mencapai angka 100 ribu followers. Angka ini akan terus bertambah, mengingat Girls' Generation memiliki penggemar yang cukup luas. Terlebih lagi belum lama ini Seohyun melakukan promosi sebagai anggota TaeTiSeo.

Sementara itu, hingga saat ini hampir seluruh anggota Girls' Generation memiliki akun Instagram. Yoona jadi satu-satunya anggota Girls' Generation yang masih belum memiliki akun Instagram. Kira-kira, apakah Yoona juga akan mengikuti anggota lainnya ya?

Source : Kpop Chart
Link : http://www.kpopchart.net/2014/10/seohyun-girls-generation-bergabung-di.html#ixzz3GzBqjQPB 

'' Pinke Bomi ''

Source : Kpop Chart
Author : Rina Chan
Cast : Kim Ryeowook
          Kang Hyun Sun
Other cast : silahkan dicari... ^^
Genre : hurt/comfort, romance, oneshoot

>>>> Beware typo <<<<

Backsong : Kim Ryeowook feat Do Kyungsoo – missing you

Biarkan waktu yang menjawabnya, apakah aku akan kembali padamu atau bahkan aku menghilang dan tidak akan kembali.. –Kang Hyun Sun-
.
.
.
.
.
Sejak saat itu, Ryeowook tidak pernah lagi terlihat di toko es krim tempat Hyun Sun bekerja. Tentu saja hal itu membuat Hyun Sun sangat nyaman, namun entah kenapa dia merasakan bahwa ada sesuatu yang kembali hilang dalam dirinya.

Refleks tangannya mengusap perlahan gelang kayu tersebut. Eh, gelang kayu? Kenapa aku masih memakai ini?, pikirnya bingung. Namun entah kenapa dia sama sekali tidak berniat melepas ataupun membuang gelang tersebut, meskipun dia tau bahwa gelang tersebut pemberian dari orang yang sudah membuatnya terluka.

“Ya! Apa kau merindukan mantan bos mu?” bisik Han ahjussi membuat Hyun Sun menoleh kearahnya yang saat ini sedang tersenyum ramah pada dirinya. Hyun Sun hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaannya, tidak berniat menjawab.

“Apa kau menyuka.. ani! Mencintainya?”

Hyun Sun kembali tersenyum tipis lalu menggendikkan bahunya, tidak tahu. “Tapi kau masih menyimpan gelang pemberiannya, bukankah itu artinya kau mencintainya?” mata Hyun Sun menatap gelang yang sedang ditunjuk oleh Han ahjussi. “Molla...”

Hyun Sun POV
Ku rebahkan tubuhku dikasur saat aku sudah kembali ke apartement. Jujur saja, pekerjaanku kali ini termasuk pekerjaan yang sangat menyenangkan meskipun tidak sesenang bekerja menjadi pelayan restaurant Stars hotel.

Setelah puas berbaring sejenak, aku langsung berjalan menuju kamar mandi untuk berendam sejenak.

“Aku ingin memperbaikinya sekarang...”

Sudut bibirku tertarik, tersenyum sinis ketika perkataan Ryeowook oppa kembali terdengar dalam otakku. Semudah itukah dia kembali dan berkata akan memperbaikinya?.

Ting nong.... ting nong....

Ku langkahkan kakiku menuju pintu begitu selesai meletakkan piring terakhir yang berisi lauk, untuk makan malamku.

“Annyeong....” aku tertegun sejenak saat melihat orang yang sudah sangat dekat denganku datang berkunjung. “Kau... tidak menyuruhku masuk?” sedikit tergagap aku langsung mempersilahkannya masuk.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Xiumin oppa –orang yang dekat denganku- ketika kami sudah duduk di ruang tamu.

“Baik, oppa sendiri?” Xiumin oppa hanya tersenyum pertanda bahwa kabarnya juga baik. Detik berikutnya, kami berdua terjebak dalam suasana diam.

“Hyun Sun~ah...” aku mendongak ketika Xiumin oppa memanggilku. “Nde?”

“Emm.... bisakah kau memaafkan Kim sajangnim?” dengan cepat aku menggeleng. “Wae?”

Ku genggam erat gelang kayuku, dan menarik nafas dalam menguatkan diri. “Dia... tidak merasakan penderitaan yang aku rasakan,” jawabku lirih

Xiumin oppa berdiri lalu mengusap wajahnya kasar, sesekali dia mendengus berusaha mengontrol emosinya. “Perlu kau tau jika dia sudah merasakan akibatnya, apa kau tau? Sejak percakapan terakhir kalian, sajangnim berubah.” Aku menaikkan salah satu alisku tidak mengerti. “Dia... menjadi lebih terpuruk dari sebelumnya,”

“Aku tidak mengerti dengan yang oppa katakan”

Xiumin oppa menatap tajam ke arahku sambil memegang kedua bahuku, “Dengar.... pikirkan ini baik-baik. Jika memang kau tidak menyukainya, lantas kenapa kau selalu memakai gelang pemberiannya. Tidakkah kau sadar bahwa itu membuatnya sakit, kau sudah berhasil menyakitinya. Tidakkah kau membuka sedikit hatimu untuk memaafkannya?” aku membalas tatapan tajam Xiumin oppa lalu menghempaskan kedua tangannya yang berada dibahuku.

“Oppa... jika kedatanganmu untuk membelanya, maka lebih baik kita tidak usah bertemu lagi. Meskipun namja itu merasakan rasa sakitnya, tapi itu tetap tidak akan membuatku merubah pikiranku, aku tetap tidak memaafkannya.”

“Geure... jika keinginanmu seperti itu. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku pergi,” ucap Xiumin oppa sambil berlalu meninggalkanku sendiri. Setelah kepergian Xiumin oppa aku kembali menuju meja makan dan menatap semua makanan dengan tatapan tak bernafsu.

Ryeowook POV
Langkahku ku percepat turun ke lantai satu, ketika melihat mobil milik sekertarisku, Xiumin, datang. Senyumku merekah begitu melihat sosoknya yang sudah berjalan masuk ke rumahku. Refleks kedua tanganku terbuka dan memeluknya erat.

“Aigoo... kau kemana saja, heum?” tanyaku to the point begitu mempersilahkannya untuk duduk. Dia hanya memandangku sekilas lalu menatap secangkir teh yang baru saja diberikan oleh bibi Han.

“Wae? Apa kau ada masalah kenapa wajahmu seperti itu?” tanyaku lagi. Dia mendengus pelan lalu menatapku sendu. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kenapa wajahmu sekarang terlihat sangat senang?” balasnya.

Aku hanya memutar bola mataku malas. “Aku senang, karena kau kemari pasti akan membawa kabar gembira untukku.” Dia mendengus pelan lalu mengambil cangkir teh-nya dan menyesap isinya.

“Lebih baik kau mencari yeoja lain,” ucapnya kemudian setelah meletakkan cangkir teh-nya. Wajahku yang semula berseri, langsung berubah ketika mendengar perkataannya. “Mworago?!”

“Kau harus melepasnya...” ulangnya membuatku refleks berdiri dan menatapnya tajam. “Ya! Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku melepaskannya?”

“Dia tidak memaafkanmu, lalu apa yang akan kau lakukan?” sahutnya. Sesaat aku terdiam. Benar, yang dikatakan olehnya tapi... bukan berarti aku harus melepasnya kan?, pikirku.

Ku putar tubuhku menuju kamarku dan langsung berlari keluar rumah setelah memakai jaket dan membawa kunci mobilku. “Ya! Neo, eodiga?” tanyanya

“Tidak akan lama, percayalah...” jawabku cepat sambil mulai menyalakan mesin mobil.

“Ya! Kau... ti—“ perkataanya tidak terdengar lagi setelah mobilku melaju meninggalkan halaman rumahku.

Setelah dua puluh menit berkendara, akhirnya saat ini aku sampai didepan pintu apartementnya. Dia... gadis yang selama ini membuatku... tersiksa.

Berkali-kali tanganku ragu untuk memencet bel yang terletak disamping pintu. Bayangan akan kata-katanya terus saja terngiang dikepalaku.

Jangan sekali-kali kau memperihatkan wajahmu itu, kau sudah sangat membuatku menderita

“Mianhae...” ujarku lirih. Tanpa sadar sebutir air mata jatuh dari sudut mata kiriku, mengalir membasahi pipi dan jatuh ke lantai.

Tidakkah kau merasakan rasa sakit yang aku rasakan?

Tes...

Air mata yang lain jatuh menyusul dari mata kananku, dan semuanya membasahi kedua belah pipiku lalu jatuh ke lantai yang dingin. Tubuhku merosot jatuh dan hanya ditopang oleh kedua lututku.
.
.
.
Tanpa Ryeowook sadari, pintu dihadapannya sudah terbuka sejak tubuhnya sukses merosot jatuh. Hyun Sun –penghuni apartement itu- menatap bingung sosok namja yang sedang jatuh terpuruk didepan pintunya ketika dia sedang berniat untuk membuang sampah.

Sesaat tubuh Hyun Sun mematung, tidak berniat kembali menutup pintu atau menyuruh namja tersebut pergi. Sejujurnya dia cukup terkejut ketika melihat siluet tubuh namja tersebut yang sudah sangat dikenalnya.

“Sampai kapan anda akan berada didepan pintu, Ryeowook~ssi?” kata Hyun Sun akhirnya memecah suasana hening yang sempat tercipta.

Sontak Ryeowook mematung dan cepat-cepat menghapus air matanya, lalu berdiri dihadapan Hyun Sun masih dengan menundukkan pandangannya. “A.. annyeong,” sapanya dengan suara serak.

Hyun Sun tidak menjawab, karena dia langsung masuk kedalam. Ryeowook pun mengikuti langkah gadis dihadapannya dalam diam. Saat Hyun Sun berhenti melangkah, refleks kedua tangan Ryeowook terulur memeluk tubuh gadis itu erat dari belakang.

“Mianhae... jeongmal mianhae,” ucapnya parau. Hyun Sun hanya memandang kosong pemandangan yang disajikan oleh jendela besar di apartement-nya. “Oppa... lepaskan”. Ryeowook sedikit tersentak karena mendengar gadis itu kembali memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

“Oppa.... apa yang harus aku lakukan?” tanya Hyun Sun datar.

“Kau tidak perlu melakukan apapun. Aku akan memperbaikinya. Segera,” Hyun Sun tertawa miris mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ryeowook. Dengan sekali hentakan dia sukses melepas pelukan namja itu dan berputar menjauh.

“Memperbaiki? Semudah itukah?” ujar Hyun Sun yang duduk di meja makan setelah mengambil dua kaleng soda. Ryeowook duduk dihadapan Hyun Sun sambil membuka soda miliknya. Detik berikutnya, suasana kembali menjadi hening. Hyun Sun sibuk dengan memainkan kaleng sodanya yang sudah kosong, sementara Ryeowook hanya memandangi gadis dihadapannya tanpa berpaling sedikitpun.

“Lebih baik sekarang oppa pergi” ucap Hyun Sun akhirnya.

“ Apa kau baru saja mengusirku?” Hyun Sun mendecak sebal karena tuduhan yang Ryeowook berikan padanya. “Oppa, aku sudah bersikap baik padamu. Kenapa kau malah menuduhku seperti itu? Aku menyuruhmu untuk kembali bekerja karena Xiumin oppa mengatakan bahwa kau berubah sejak percakapan terakhir kita” jelas Hyun Sun panjang lebar.

Diam-diam sudut bibir Ryeowook tertarik, dia tersenyum puas dengan apa yang dikatakan oleh Hyun Sun. Itu berarti, dia sudah mulai mengkhawatirkan diriku, pikir Ryeowook optimis.

Ryeowook berdiri dan kembali merubah ekspresi wajahnya, “Geurom... jika itu kemauanmu. Maka aku akan menurutinya,” sahutnya lalu pamit pergi dari apartement Hyun Sun.

“Ada apa dengannya? Aneh, sekali” gumam Hyun Sun setelah Ryeowook menghilang dibalik pintu apartementnya.

Hyun Sun POV
Sejak hari itu, entah kenapa perasaanku kepadanya semakin tidak menentu. Ya, aku tau niatnya baik. Tapi, entah kenapa sulit sekali rasanya untuk memaafkan sikapnya itu. Bayangan wajahnya yang tulus saat meminta maaf, masih sering melintas dalam pikiranku. Oh Tuhan, apa kau sedang mengujiku?

Ku dudukkan bokongku ke kursi pelayan setelah selesai mengantarkan pesanan pelanggan toko. Entah kenapa semangatku tiba-tiba saja menguap sejak pertemuan kami saat itu. Apa aku mencintainya?, pikirku.

Sejujurnya aku memang masih menyayanginya. Untuk perasaan cinta atau semacamnya.... entahlah, semuanya begitu membuatku bingung. Sebagai teman bermainnya sejak masih kecil, tentu saja aku sedikit banyak tau tentang sikap namja itu. Bahkan sampai tumbuh perasaan ingin memiliki lebih dari seorang teman.

Mataku menatap setiap pelanggan yang sedang memakan es krim dengan perasaan yang senang, tidak sedikit sebagaian dari mereka yang datang adalah sepasang kekasih. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana dulu aku dan namja itu selalu makan es krim bersama. Tapi itu dulu, dan sekarang aku tidak ingin membahasnya lagi.

“Apa kau sedang sibuk?” tanya seseorang yang membuatku mendongakkan kepalaku menatapnya. Senyumku mengembang begitu melihatnya membawa dua gelas milkshake coklat.

“Anni, waeyo?”

“Bisakah kita mengobrol sebentar?” ku lirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku lalu mengangguk, setuju.

Xiumin oppa –orang itu- dan aku, saat ini sedang menikmati waktu istirahat kami yang berharga sebelum kembali disibukkan oleh pekerjaan yang menumpuk. Ku akui dia memang sangat menyenangkan, walaupun saat itu dia sempat membuatku jengkel. Namun, tetap saja dia adalah sosok yang menyenangkan bagiku.

“Bagaimana pekerjaanmu, oppa?” tanyaku pada Xiumin oppa yang sejak tadi asyik memakan cake yang dibelinya.

Sesaat dia menggumam lalu menatapku, “Baik. Tidakkah kau tau, para pelayan merindukanmu? Aigoo... kau itu sosok yang menyenangkan, tapi kenapa kau malah memutuskan untuk keluar?” aku mendengus pelan mendengar penuturannya. Bukankah sudah jelas, aku keluar karena tidak ingin bertemu dengan namja itu.

“Mianhae... aku tidak bermaksud menyinggungmu lagi,” sahutnya cepat ketika melihat perubahan ekspresi wajahku. “Gwaenchana”. Detik berikutnya kami sudah kembali asyik dengan percakapan lain.

Xiumin oppa melirik arloji yang terpasang ditangan kirinya dan tersenyum padaku, aku mengerti dan mengangguk pelan. “Terima kasih karena sudah menemaniku, oppa” ucapku cepat lalu memeluknya sejenak sebelum dia pergi.

Ryeowook POV
Mataku menatap sendu ke arah sosok yang saat ini duduk bersama Xiumin. Aku iri dengan sekertarisku, dia bisa dengan bebas bercanda dan mengobrol dengannya. Sedangkan aku? harus memutar otak untuk mencari bagaimana caranya untuk menemaninya sejenak.

Ku pejamkan mataku sejenak untuk mengusir rasa kantuk yang tiba-tiba datang menyerang.

“Whoa.. mianhae, kau pasti menunggu lama.” Aku membuka kembali mataku dan menatap lurus kedepan. “Jika kau sudah tau, lantas kenapa perlu bertanya?” Xiumin tersenyum kecut lalu memukul bahuku pelan.

“Mana pesananku?” pintaku padanya. Dengan cepat dia menyodorkan sebuah magkuk es krim berukuran sedang, dengan cepat aku langsung merebutnya dan membuka tutupnya.

“Aigoo... ya! Kau seperti orang kelaparan saja, liat itu..” tidak ku dengarkan sindiran Xiumin karena tata cara makan es krimku. “Jangan pedulikan aku, jalankan saja mobilnya. Lalu kita kembali ke kantor,” balasku. Xiumin mendengus pelan lalu mulai melajukan mobilku, untuk kembali ke kantor.

Well, kegiatan ku akhir-akhir ini lebih sering ku habiskan diluar kantor. Mengintai gadisku yang hanya bisa ku lihat dari kejauhan saja. Tidak apa, hanya dengan melihatnya selalu bisa tersenyum saja itu sudah membuatku bahagia.

Tok.. tok... tok...

Ku turunkan kaca mobilku untuk melihat siapa orang yang baru saja mengetuk.

“Permisi tuan, maaf saya mengganggu anda. Toko kami sedang mengadakan promosi—,” aku tersenyum menatap orang yang sejak tadi ku perhatikan. “Ya! Sedang apa kau disini?” sentakknya cepat membuatku merengut karena perubahan ekspresinya yang cepat berubah. “Ahh~ apa kau sedang menguntitku tuan Kim?”

“Ya! aku hanya ingin beristirahat sejenak disini, kenapa kau malah menuduhku yang tidak-tidak” selaku cepat sebelum dia kembali menuduhku yang tidak-tidak. Dia terkejut dan mundur beberapa langkah ketika aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan menatapnya tajam.

“Wa.. waeyo? Kenapa kau menatapku seperti itu?” aku tersenyum miring mendengar ucapan protesnya. Dia... tidak berubah, sikapnya yang terkadang manja dan membuatku jengkel selalu membuatku merindukannya.

“Kau sibuk?” tanyaku mencoba mengalihkan suasana yang tidak nyaman antara aku dan dia. Dia mengangkat salah satu alisnya. “Aku... ingin mengajakmu jalan-jalan”

“Apa kau sedang mencoba mengajakku untuk berkencan?” aku hanya menggendikkan kedua bahuku mendengarkan tebakannya yang memang benar. “Molla... jika kau tidak sibuk, akhir pekan ini aku akan menjemputmu.” Potongku cepat ketika melihatnya membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, lalu kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya.
.
.
.
Seiring perjalanan waktu, kedua insan itupun kembali seperti semula. Meskipun awalnya tidak mudah, namun karena sikap Ryeowook yang tidak mudah menyerah, akhirnya Hyun Sun sedikit demi sedikit memaafkannya. Walaupun bukan berarti Hyun Sun akan membuka hatinya untuk Ryeowook.

“Oppa... lusa, aku akan pulang ke Busan. Apa kau mau ikut?” tanya Hyun Sun ketika dia dan Ryeowook sedang makan siang bersama. Ryeowook mendongak menatap gadis yang sudah tiga minggu lamanya selalu menemani hari-harinya. Lalu kembali menunduk, “Aku... orang tuamu pasti akan mengusirku lagi” ucapnya kemudian

Hyun Sun menatap Ryeowook nanar, dia memang masih ingat dengan jelas bagaimana sikap ayahnya saat dia masih bekerja dengan Ryeowook. Namun itu semua sudah sangat lama, sudah setengah tahun berlalu. Dia selalu mencoba untuk meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa Ryeowook sudah berubah.

Mungkin Ryeowook dulu adalah seorang anak laki-laki yang labil, namun lihatlah dia sekarang. Dia sudah menjadi seorang laki-laki yang hebat dan sukses.

“Ahh~ bagaimana kabar perusahaanmu? Aku dengan kau sudah menggantikan posisi aboniem,” ucap Hyun Sun mengalihkan pembicaraan mereka.  Ryeowook kembali mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum. “Baik, meskipun awalnya aku menolak namun aku tetap menggantikannya. Hotel dan restoran-ku diurus oleh Xiumin,” jawab Ryeowook cepat.

“Jinjja? Chukhahaeyo!” seru Hyun Sun ikut bangga. “Kalau begitu, aku akan memberikan sesuatu untukmu.” Sambungnya lagi

“Jinjja? Mwoya?” tanya Ryeowook penasaran

“Rahasia, tapi kalau oppa ikut denganku untuk ke Busan. Maka aku akan memberitahumu,”

“Apa kau baru saja mencoba membuatku ikut?” Hyun Sun mengangguk mantap. Ryeowook tertawa melihat tingkah gadis itu. “Ne, baiklah. Aku ikut”

Dua hari kemudian....

Mobil audy A5 milik Ryeowook terparkir dengan manis didepan rumah keluarga Kang sejak sepuluh menit yang lalu. Sang pemilik mobil lebih memilih untuk tetap didalam mobilnya mengindari kemungkinan terburuk jika hal seperti dulu terjadi lagi padanya.

Tok.. tok.. tok...

Ryeowook menurunkan kaca mobilnya begitu Hyun Sun sudah kembali keluar dari rumahnya.

“Kajja!” ajaknya

“Kau... yakin jika orang tuamu...” Hyun Sun hanya tersenyum lalu membuka pintu mobil Ryeowook dan menyeretnya masuk setelah Ryeowook keluar dari mobilnya.

Dengan perasaan was-was, Ryeowook akhirnya masuk ke dalam rumah Hyun Sun. Matanya menelisik setiap sudut dari rumah yang baru pertama kali dimasukinya itu. Sejujurnya, aura dari rumah itu membuatnya tidak nyaman. Entah karena pengaruh penghuninya atau karena pengaruh dari rasa gugupnya sendiri.

“Ekhem...” refleks Ryeowook berdiri dan membungkuk hormat kepada kedua orang tua Hyun Sun yang sudah ikut duduk bersama dengannya.

Hyun Sun POV
Mataku tidak berhenti menatap Ryeowook oppa yang sejak tadi duduk dengan gelisah dan tidak tenang. Apakah dia memang benar-benar takut bertemu dengan appa dan eomma?, batinku.

“Ada perlu apa kedatangan anda kemari, Ryeowook~ssi?” tanya appa to the point.

“Saya... kedatangan saya kemari untuk.... melamar putri anda, aboniem.” Mataku membulat sempurna ketika mendengar perkataan Ryeowook oppa yang membuatku terkejut, benarkah yang ku dengar? Atau dia hanya bercanda?.

Appa mendengus pelan, lalu tersenyum sinis. “Ya! Apa sebenarnya kau tidak tau malu, eoh? Kau sudah membuat anakku menderita dan sekarang kau ingin melamarnya?! Apa kau gila?!” aku berjengkit ngeri mendengar suara appa yang sedikit tinggi.

“Annimida, kedatanganku kemari memang sungguh-sungguh ingin melamar putri anda. Saya ingin memperbaiki segalanya.”

“Memangnya sepenting itu putriku bagimu?” Ryeowook oppa menatapku sekilas lalu tersenyum penuh arti. “Tentu saja..” jawabnya lalu kembali menatap wajah appa.

“Sudahlah, yeobo... berikan dia kesempatan. Kita tidak bisa seperti ini terus, ini membuat anakmu tidak nyaman.” Eomma mencoba menenangkan appa, sesekali dia menatapku perihatin.

“Apa yang membuatmu yakin untuk membahagiakannya, nak?” tanya eomma.

Ryeowook oppa kembali menatapku, tangannya terulur dan menggenggam tangan kananku erat. “Bukankah dia masih mengenakan gelang pemberianku meskipun dia hilang ingatan? Itu berarti dia masih mengingatku bukan? Meskipun yang teringat awalnya adalah kenangan yang menyakitkan, tapi aku berjanji akan mengubahnya menjadi kenangan yang indah.” Jelasnya panjang lebar membuat kedua bola mataku berkaca.

Sesaat suasana menjadi hening, Ryeowook oppa semakin erat menggenggam tanganku entah dia mencoba menyalurkan kekuatannya, atau dia yang sedang berbagi rasa gugupnya.

“Kami tidak akan langsung mengizinkan kalian untuk pacaran....” sontak aku dan Ryeowook oppa menatap appa tidak percaya.

“Tapi kami mengizinkan kalian untuk menikah,” sambungnya membuatku dan Ryeowook oppa bernafas lega. Kami saling berpandangan lalu refleks dia memelukku erat. Entah sudah berapa lama aku menjauhinya dan itu membuatku tersiksa, tapi sekarang... bahkan dihadapan kedua orang tuaku, dia kembali.

“Gomawo...” ucapku parau karena tidak percaya dia kembali lagi.

“Tapi, jika kau menyakitinya lagi. Jangan harap kau bisa bertemu dengannya lagi, meskipun kami sudah meninggal.” Ucap appa membuat kami melepaskan pelukan dan menatap kearahnya.

“Itu tidak akan terjadi lagi....” ucap kami bersamaan dengan kedua dahi kami yang saling menempel.

Ryeowook POV
Setelah menghadapi kedua orang tua Hyun Sun yang cukup membuatku gugup, aku keluar menikmati pemandangan Busan yang sangat menyejukkan. Jarang-jarang bukan aku bisa melakukan ini.

Sudut bibirku tertarik ke atas membuat senyum simpulku terbentuk sempurna. Bukankah ini hebat? Aku sudah melakukan hal-hal yang tidak biasanya aku lakukan. Bahkan, perkataan yang terlontar saat aku melamar Hyun Sun tadi pun.... itu hanya refleks saja. Meskipun aku sudah mempersiapkannya sejak lama jika hal ini terjadi.

“Oppa...” aku menoleh ketika Hyun Sun berjalan mendekat ke arahku. “Ini...” aku menatap bingkisan yang diberikannya sejenak.

“Apa ini?”

“Buka saja,”

Aku tersenyum sekilas padanya lalu membuka bingkisan tersebut yang ternyata adalah sebuah boneka jerapah berukuran sedang. Mulutku refleks menganga karena terkejut akan hadiah yang diberikan olehnya.

“Bukankah kau menyukai jerapah? Bahkan ketika kita berkunjung ke kebun binatang bersama, kau selalu betah jika sudah melihat jerapah.” Aku tersenyum simpul lalu memainkan boneka tersebut. “Gomawo... tapi, bagaimana kau tau?”

Dia terkejut sejenak lalu menggaruk tengkuknya kikuk, “Ahh... itu... aku tau dari Xiumin oppa. Awalnya aku tidak yakin, karena saat itu aku masih membencimu. Tapi... ketika saat aku pulang bekerja dan tidak sengaja melewati toko boneka, tiba-tiba saja aku langsung masuk dan membeli boneka jerapah yang dipajang di etalase.” Jelasnya panjang lebar. Aku tersenyum lalu mengusap kepalanya sekilas.

“Boleh aku tanya sesuatu padamu, oppa?”

“Mwoya?” tanyaku sambil memandangi boneka jerapah

“Sejak kapan kau menyukaiku?”

Sejenak aku terdiam dan menerawan menatap lurus. “Molla... bukankah rasa suka itu muncul tiba-tiba, aku bukan sekedar suka. Tapi, aku juga jatuh cinta padamu. Sosokmu yang tiba-tiba menghilang saat itu, membuatku merasa kesepian. Saat itu aku sadar, bahwa sosokmu begitu berharga untukku. You is so special....” jawabku tanpa menatap kearahnya.

“Tsk, dasar... jadi karena kau menghilang kau baru menyadari perasaanmu padaku? Aigoo... kalau aku tau, maka sudah sejak lama aku akan menghilang. Bahkan sebelum aku mendengar penolakanmu,”

“Bisa tidak, kau tidak perlu membahasnya sekarang.” Aku menoleh dan menatapnya tajam. Namun, tatapan ku lenyap ketika melihatnya menangis. Aku mendekatinya dan langsung memeluknya erat.

“Mianhae... aku janji hal itu tidak akan terjadi lagi. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Kim?” Hyun Sun mendongak dan tersenyum. Aku juga tersenyum untuk membalasnya.

Drrrtt... drrrttt....

“Yeoboseyo,”
“....”
“Ya! Tapi... aku...”
“Aish! Jinjja, ne! Aku akan segera datang..”

Klik...

Dengan berat hati, aku menoleh kearah Hyun Sun dan menangkup wajahnya. “Aku harus pergi... karena ada rapat mendadak. Kau bisa mengerti?” dia mengangguk.

CHU~

Ku kecup kilat bibirnya dan membawanya pulang ke rumahnya lalu setelah itu aku kembali ke Seoul.
.
.
.
Kedua insan yang baru beberapa jam yang lalu sudah resmi menyandang status sebagai suami istri itu langsung berlari menuju kedai es krim.

“Ahjussi...” panggil mereka berdua kompak

Pria tua yang merasa dipanggil itu menoleh, “Oh... kalian? Tuan Kim dan tentu saja... nyonya Kim?” goda Han ahjussi itu kepada sang gadis. Sontak kedua pipi gadis itu merona.

“Ahh.... ini aku buatkan khusus untuk kalian,” ucap Han ahjussi sambil menyodorkan sebuah cake yang berisi es krim didalamnya.

Dengan senang hati, kedua pasangan itu menerimanya dan membawanya ke sudut toko es krim tersebut. Lalu memotongnya bersama. Canda tawa terlihat jelas dikedua wajah mereka. Han ahjussi tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.

“Ya! Kenapa kau mengambil kue ku?!” sentak Ryeowook ketika kue yang baru saja dipotongnya yang niatnya akan diberikan pada Hyun Sun direbut oleh Xiumin.

Xiumin hanya menjulurkan lidahnya tidak peduli, “Hyun Sun~ah.. bolehkah?” Hyun Sun terkekeh pelan lalu mengangguk. Xiumin yang merasa puas langsung memasukkan satu sendok cake es krim tersebut kedalam mulutnya. Sementara Ryeowook hanya mendengus pelan.

Detik berikutnya, mereka bertiga pun hanyut dengan kegembiraan yang baru saja tercipta diantara mereka.


THE END


Eotte???
Mian ya, jika memang tidak sebagus ff sebelumnya. Ff ini aku buat disela-sela persiapan kembali masuk kuliah, jadi... aku mau minta maaf sebesar-besarnya jika menjadi gaje (?) tidak menarik or anything.

Oke deh, mungkin cukup segitu aja. Sampai jumpa di ff ku berikutnya...
       *bow*
       Author : Rina Chan
       Cast : Kim Ryeowook
                 Kang Hyun Sun
       Other cast : cari sendiri.. ^^
       Genre : hurt/comfort, romance, oneshoot

Disclaimers : karya ini murni karya ku, jika ada kesamaan judul atau yang lainnya, semuanya karena unsur KETIDAKSENGAJAAN. FF ini terinspirasi dari lagu Kyungsoo feat Ryeowook yang judulnya missing you. Well, mungkin ini bisa disebut songfict kali ya?. Entahlah, hehe...
oke deh! Selamat membaca & enjoy it, ^^

>>>> beware Typo <<<<

Backsong : kim ryeowook with do kyungsoo – missing you

Kita tidak akan pernah tau seberapa penting sosok orang lain sebelum kita kehilangan sosok tersebut – Kim Ryeowook
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah, dikediaman keluarga Kim. Semua anggota keluarga sedang sarapan bersama, tidak jarang juga mereka sedikit banyak mengobrol tentang kehidupan mereka yang akan dihadapi mereka pada hari itu.

“Bagaimana kabar restaurant dan hotelmu, nak?” tanya seorang wanita paruh baya yang sudah menginjak kepala empat tersebut. Seorang pria yang duduk dihadapannya mendongak. Merasa sang ibu sedang bertanya, membalas tatapan ibunya lalu tersenyum. “Baik, akhir-akhir ini pelanggan yang datang berkunjung semakin meningkat” jawabnya masih sambil tersenyum

“Sampai kapan kau terus sibuk dengan restaurant dan hotelmu. Kapan kau akan menggantikan posisi appa-mu ini?” tanya seorang pria yang sudah nyaris mendekati kepala enam. “Molla....” jawab pria itu singkat.

“Kim Ryewook! Bisa kau lebih sopan saat berbicara padaku?” sentak pria tersebut yang bernama Kim Hyun-ki

“Sudahlah yeobo, biarkan dia memilih jalannya sendiri” ucap sang istri menenangkan.

Suasana pagi saat itu yang semula tenang, menjadi sedikit buruk karena percakapan ayah dan anak yang selalu berakhir dengan percekcokan kecil. Tanpa memperdulikan pertengkaran tersebut, Ryeowook –nama pria tersebut- lekas memakai jaketnya dan menuju ke garasi untuk membawa mobilnya pergi dari kediamannya tersebut.

Mobil audy A5 milik Ryeowook melaju membelah jalan kota Seoul yang masih sepi, sesaat dia melirik jam dipergelangan tangannya. Masih jam setengah tujuh, pantas masih sepi pikirnya. Pikirannya sempat memikirkan perkataan ayahnya, entah kenapa dia belum siap untuk menggantikan jabatan itu meskipun umurnya saat ini sudah cukup layak untuk mendapatkan posisi tersebut.

Tiiinnnn....!

Ryeowook terkesiap ketika mendengar suara klakson dari mobil yang berada dibelakangnya. Karena dia melamun, dia bahkan tidak mengetahui bahwa lampu sudah berubah jadi hijau.

Hyun Sun POV
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja disebuah hotel mewah. Ani... lebih tepatnya, aku bekerja menjadi seorang pelayan disalah satu restaurant yang berada didalam Stars hotel.

“Heh! Anak baru, kau jangan membuat kesalahan dihari pertama kerja ya, nanti bisa-bisa kau sudah dipecat sebelum genap seminggu kau bekerja disini” nasehat Ki Jeong –seniorku- ketika aku keluar dari kamar ganti.

“Ye, sunbaenim” dia menepuk pundakku pelan lalu pergi meninggalkanku sendiri.

Pukul delapan tepat, para karyawan lain sibuk membersihkan restoran tersebut. Sedangkan aku juga sudah sibuk untuk menghidangkan makanan ke beberapa meja yang sudah diisi oleh para tamu yang akan sarapan. Sejauh ini aku bekerja dengan baik, bahkan kepala pelayan memuji hasil kerjaku saat aku kembali ke dapur untuk membawa piring kotor.

“Terima kasih bantuannya...” ucapku sambil membungkuk kepada semua para rekan kerjaku yang sudah membantuku hari ini.

Langkahku tiba-tiba berhenti ketika melihat dapur yang masih menyala, para karyawan lain sempat bilang jika tuan Kim –pemilik hotel- sering terlihat berada didapur jika sudah jam setengah sebelas malam. Ku beranikan langkahku mendekati dapur, membuka pintunya perlahan dan melihat kesekeliling.

“Hallo... apakah ada orang?” tidak ada jawaban, dan langkahku semakin berani hingga berhenti disalah satu meja. Mataku berbinar ketika melihat sebuah sorbet coklat favoriteku tersaji dihadapanku. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan bahwa tidak ada orang selain diriku, aku pun memasukkan sesendok sorbet cokelat tersebut kedalam mulutku.

“Ya! Kenapa kau memakannya?!” aku tersedak ketika seseorang menegurku. Tanganku memukul dadaku pelan mencoba mencari nafas. Langsung saja ku sambar segelas air yang disodorkan oleh orang yang menegurku.

“Hahh~ gomawo” ucapku lega

Aku menoleh ke orang yang baru saja memberiku segelas air, “Nuguya?”

“Ya! Seharunya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau orang baru?” aku mengangguk. “Ahh~ pantas kau tidak mengenalku, naneun Kim Min Seok imnida. Tapi aku biasa dipanggil Xiumin,” aku mengangguk paham.

“Ah~ naneun Kang Hyun Sun imnida,” ucapku cepat menyadari tatapannya yang seolah bertanya.

“Ck! Aigoo... bagaimana ini, aku pasti akan dimarahi olehnya.” Keluhnya sambil menatap nanar sorbet coklat yang ku makan. Merasa bersalah, aku pun mulai mengambil beberapa alat masak dan mulai membuat sorbet untuk menggantikan makanan tersebut.

“Ini..” dia menatap makanan yang ku buat, ragu. “Aku tidak meletakkan apapun, bukankah sejak tadi kau melihat apa saja yang ku masukkan untuk membuatnya?” lanjutku menjawab tatapan curiga matanya.

Dia menerima makanan tersebut dan tersenyum, “Gomawo...” ucapnya sambil berlalu pergi.

Ryeowook POV
Mataku berbinar melihat laporan tentang jumlah tamu yang hari ini datang berkunjung ke restoranku. Ada satu hal yang mengganjal hatiku, karena tidak biasanya restoran milikku seramai ini. Meskipun restoran miliknku sudah dipastikan akan selalu ramai, namun aku tetap penasaran siapa yang telah menjadikan retoranku seramai sekarang.

Tok.. tok... tok....

“Masuk...” seseorang masuk dengan membawa sebuah nampan. Aku tersenyum kearahnya lalu berjalan menuju kesebuah meja dan menarik salah satu kursinya. Orang tersebut membuka penutup nampannya dan memberikan isinya padaku.

“Kau sudah bekerja sangat keras, apa kau senang dengan persentase tamu yang datang?” aku tersenyum lalu mengangguk. Tanganku mengambil cangkir kopi dan menyesapnya pelan.

“Tentu saja, semua pengusaha tentu sangat senang jika usahanya laris.” Dia ikut tersenyum dan mengangguk setuju. “Tumben sekali, kau sedikit telat saat mengantarkan jamuannya. Itu bukan gaya seorang Kim Min Seok, bukan?” dia tersenyum kuda menerima sindiranku.

“Hanya sedikit gangguan,” aku mengangguk tidak penasaran apa alasan detailnya kenapa dia terlambat mengantar jamuan.

Dia, Kim Min Seok atau biasa ku panggi Xiumin. Sudah menjadi sekertaris ku yang sangat serba guna. Dia sangat bisa ku andalkan dalam bidang apapun, bisa juga sebagai teman disaat aku butuh teman ngobrol. Dan aku sangat senang bisa mengenal orang sepertinya.

“Hemmm.... mashita! Tidak biasanya sorbet ini terasa berbeda, emm...” pujiku sambil melihatnya sedikit terkejut. “Wae? Apa sorbet ini bukan kau yang membuat?” dia menggeleng pelan.

“Nuguya?” dia terdiam sejenak, berfikir. “Kang Hyun Sun” jawabnya singkat

Alisku menyatu mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh Xiumin. “Apa dia salah satu karyawanku?” dia mengangguk mantap. Aku terdiam dan kembali menikmati sorbetku setelah Xiumin meninggalkan ku sendiri.

Dua minggu kemudian....

Sekarang aku sudah mengetahui siapa orang yang sukses membuat resoran ku ramai oleh pengunjung. Ku akui dia memang seorang pelayan, tapi dia pandai dalam melayani para pelanggan. Sedikit info yang ku ketahui tentangnya dia adalah lulusan sebuah institut perhotelan yang terkenal di Busan.

Tok... tok.. tok....

“Apa anda memanggil saya sajangnim?” tanya orang yang baru saja ku pikirkan. Aku mengangguk lalu menyuruhnya duduk dihadapanku.
.
.
.
Tubuhnya sedikit tidak nyaman, tangan kanannya mencengkram keras pergelangan tangan kirinya hingga membuatnya memerah. “Kau tidak perlu gugup seperti itu, lihat itu.” Pandangannya menatap kearah pergelangan tangan kirinya yang ku tunjuk, dia sedikit terkejut karena pergelangannya memerah.

Author POV
Ryeowook berdiri lalu mengambil sebuah kotak P3K yang berada disebuah nakas tidak jauh dari meja kerjanya.

“Kemarikan...” Hyun Sun menatap Ryeowook terkejut begitu melihat atasannya itu duduk berlutut didepannya dengan mengulurkan tangannya. “Tanganmu,” lanjutnya membuat Hyun Sun semakin menggenggam pergelangan tangannya yang sudah memerah. Ryewook menarik paksa tangan kiri Hyun Sun lalu mengoleskan sebuah krim dipergelangan tangan itu, dengan telaten dia membalut luka memar tersebut dengan perban tipis.

“Sudah selesai.” Ucap Ryeowook yang kembali ke tempatnya semula setelah meletakkan kotak P3K ke nakas.

“Kamsahmnida sajangnim,” balas Hyun Sun sedikit membungkuk dalam duduknya.

“Aku yang harus berterima kasih padamu”

“Ne?”

“Berkat pelayananmu yang baik, pelanggan ku jadi semakin meningkat. Bahkan para pelayan lain, mengikuti caramu.” Hyun Sun menunduk malu mendengar pujian atasannya itu. Ryeowook tersenyum melihat respon pujiannya tersebut, lalu matanya menatap pergelangan tangan kanan Hyun Sun yang menggunakan sebuah gelang.

“Apa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?” tanya Hyun Sun membuat Ryeowook sedikit tergagap. Sejenak dia memikirkan suatu hal setelah melihat gelang tersebut. “Jadilah asisten pribadiku,”

“Mwo?”

“Ne, aku mengangakatmu menjadi asisten pribadiku. Bisa? Jika kau tidak ingin aku tidak memaksa. Jika kau mau, kau bisa kemari lagi untuk memberi jawabannya.” Hyun Sun berdiri membungkuk memberi hormat lalu berjalan keluar dengan penawaran atasannya yang tiba-tiba itu.

“Kau akan menjadikannya asisten pribadimu?” Ryeowook menutup telinganya sejenak ketika mendengar suara Xiumin.

“Ya! Pelankan suaramu, hanya karena saat diluar kantor kita menjadi teman bukan berarti kau bisa membentakku sesukamu.” Sahut Ryeowook tidak suka.

Saat ini mereka berdua, sedang berada diapartement milik Ryeowook. Xiumin juga ikut tinggal diapartement itu, karena jika Ryeowook pulang kerumah apartement itu diurus oleh Xiumin. Mereka berdua sedang asyik menikmati salad buah butan Ryeowook dan membicarakan perbincangan Ryeowook dengan Hyun Sun tadi pagi.

“Tapi tetap saja, dia... yang berawal dari pelayan biasa langsung kau angkat jadi asisten pribadi. Apa yang menyebabkanmu menjadikannya seperti itu, aku tau itu bukan gaya Kim Ryeowook” Ryeowook terkekeh mendengar kalimat terakhir yang Xiumin ucapkan.

“Molla... gelang itu... sepertinya tidak asing untukku,”

“Gelang?”

“Ne, gelang kayu... sama seperti...” Ryeowook berjalan memasuki kamarnya dan membuka setiap laci diruangan tersebut.

Sudah ku duga, batin Ryeowook ketika sudah menemukan apa yang dicarinya.

Hyun Sun POV
Langkahku berhenti tepat saat didepan sebuah toko es krim. Mataku menelisik kedalam toko tersebut dan melihat bahwa toko sedang tidak ramai dikunjungi orang.

“Annyeong ahjussi....”

“Oh, kau sunie~ah. Ingin memesan apa kali ini? Atau kau ingin memesan semua rasa?” tawarnya dengan senyum renyah khas seorang Han ahjussi.

Mataku melihat setiap tulisan yang terpasang didepan mangkuk-mangkuk es krim yang berjejer dietalase. Pandanganku berhenti pada sebuah es krim rasa chery, pikiranku kembali melayang mengingat bahwa dulu ada seseorang yang juga suka rasa itu. Tapi siapa? Aku tidak ingat.

“Sudah menentukan ingin pesan apa?” tanya Han ahjussi membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, “Aku pesan rasa strawberry dan coklat”. Han ahjussi tersenyum lalu mengambil sebuah gelas untuk meletakkan es krim pesananku. Aku sudah duduk manis dihadapannya sambil melihat orang-orang yang juga sedang menikmati es krim.

“Ini pesanannya, selamat menikmati” aku tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.

Setelah puas menikmati es krim kesukaanku, ku lanjutkan perjalananku menuju ke sebuah taman yang sedang dipenuhi oleh anak-anak kecil yang sedang bermain.

Tiba-tiba sebuah bola plastik menggelinding padaku dan aku mengambilnya, seorang anak laki-laki mendekatiku sambil tersenyum kikuk. Seperti mengerti akan tatapannya, aku memberikan bola tersebut.

“Kamsahamnida, noona” serunya sambil kembali ke teman-temannya.

Setelah puas menikmati mereka semua bermain, langkahku kembali dilanjutkan menuju apartementku.

Setibanya diapartement, aku langsung mengganti bajuku dan menyiapkan makan malam. Orang tuaku tinggal di Busan, jadi aku berada di Seoul sendirian. Sebenarnya, orang tuaku melarangku untuk bekerja dan berpisah dengan mereka. Namun setelah meyakinkan mereka berdua, supaya tidak perlu terlalu khawatir, akhirnya mereka berdua rela melepaskanku.

Alasan yang mereka gunakan adalah, karena mereka tidak ingin aku kembali mengalami kecelakaan yang ku alami dulu saat aku masih dikelas satu senior high school (SHS).

Kecelakaan? Ya, kecelakaan yang membuatku tertidur selama tiga bulan lamanya. Batinku sambil memejamkan mata ketika mengingat kejadian itu.

_flashback ON_
Aku berjalan dengan riang menuju ke sebuah taman yang berada disekolahku. Tepat seperti dugaanku, seseorang telah menungguku disana. Dia tersenyum dan menganyunkan tangannya menyuruhku mendekat. Saat itu yang ku rasakan adalah gugup, karena sejujurnya aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya.

“Aku tidak bisa menerimamu” jawabnya cepat setelah lima detik aku menyatakan perasaanku.

“Ke.. kenapa?”

“Karena bagiku, kau sudah ku anggap sebagai teman. Bukankah kau tau, bahwa aku sudah menyukai seseorang yang bernama Park Haera?” ungkapnya membuatku menunduk sambil menggenggam gelang pemberiannya.

“Dan... kalaupun aku selama ini dekat denganmu, karena kita sudah dekat sejak kecil. Aku sangat senang bisa berteman denganmu, tapi kau sudah merusaknya dengan pengakuanmu barusan. Aku pergi,”

Setelah dia mengatakan itu, aku berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Saat menyebrang jalan, tiba-tiba saja gelangku terlepas. Ketika aku akan mengambilnya kembali, ternyata lampu sudah berubah menjadi merah dan detik berikutnya setelah berhasil mengambil gelang tersebut, tubuhku melayang. Dan semuanya menjadi gelap.

_flashback OFF_

KLONTANG...!

Pisau yang ku pegang jatuh ke lantai karena pikiranku tidak fokus ketika ingatan itu kembali teringat. Sayangnya... aku tidak ingat siapa namja itu!

Ryeowook POV
Mataku menyisir menatap setiap fotoku dengannya. Yeoja yang sempat menghilang dari kehidupanku, aku tidak pernah sekalipun melupakannya karena dia sudah sangat dekat denganku.

Sejak dia mengungkapkan perasaannya, dia menghilang. Sedih rasanya tidak bertemu dengannya saat itu, bahkan saat aku mengunjungi rumahnya, dia dikabarkan sudah pindah bersama keluarganya.

Tanganku kembali meraba gelang kayu yang saat ini sudah kembali ku pakai, entah kenapa sejak melihatnya tadi pagi, aku menjadi semakin yakin bahwa itu adalah dirinya. Tapi kenapa dia bersikap biasa saja? Apa dia sudah melupakan perkataanku saat itu?. Ataukah... arkh! Kenapa perasaan rindu itu kembali menguak.

“Hyung... kau kenapa, eoh? Tidak biasanya kau seperti ini. Kau frustasi, karena apa?” tanya Xiumin bertubi membuatku menatapnya tajam hingga kata maaf terucap lirih darinya.

“Gadis itu.... aku kacau sejak bertemu langsung dengannya tadi pagi, kenapa hatiku selalu mengatakan bahwa itu ‘dia’?!”

Xiumin menggumam tidak jelas melihat ekspresi sahabat sekaligus atasannya itu, “Kenapa kau tidak mencari tahunya saja?” tubuhku menegap mendengar sarannya dan menatapnya penuh harap. Dia mengehembuskan nafas perlahan, “Arra.. arra... aku akan membantumu” dengus Xiumin sangat hafal dengan ekspresi yang diberikan olehku.

Selama bekerja, aku sedikit-sedikit mencuri pandang untuk menatap sosoknya. Bahkan aku sering makan di restoranku, demi untuk menatapnya meyakinkan diriku bahwa itu memang yeoja yang selama ini membuatku tersiksa dalam rindu.

“Ahh... tumben sekali sajangnim makan disini” ucapnya sambil menghidangkan makanan yang ku pesan. Aku melipat koran yang ku baca dan menatapnya menata makanan dimeja.

Dia membungkuk hormat sebelum kembali mendorong trolly yang baru saja membawa makananku. Tanpa menunggu lama aku melahap semua makanan yang sudah tersaji sambil sesekali melihatnya yang juga sedikit bercengkrama, seketika kedua tanganku semakin mencengkram garpu dan pisau yang saat ini ku pegang ketika melihat seorang pria meraba lengannya halus.

Brakk..!!!

“Omo! Ya! Kau membuatku jantungan!” tidak ku pedulikan pekikan Xiumin, langkahku berjalan menuju kulkas mini dan mengambil sebuah bir lalu meminumnya hingga setengah.

“Apa yang terjadi dibawah sehingga kau menjadi kacau setelah bertemu dengannya?”

Aku mendengus pelan sambil menyilangkan kedua tanganku didada setelah menyenderkan tubuhku disofa. “Aku harus memilikinya, secepatnya!” tekanku pada kata terakhir.

Xiumin mendesis pelan lalu menggaruk kepalanya dengan jari telunjuknya. “Aku membawa info yang ingin kau tau” aku menoleh kearahnya merasa tertarik dengan yang baru saja dikatakan olehnya.

“Apa yang ingin kau tau?”

“Sialan, kau Kim Min Seok! Cepat ceritakan semuanya!” paksaku membuatnya mendengus sebal.

Dia mulai bercerita semua perihal yang bersangkutan dari orang yang selama ini ku cari. Ku tekankan lagi, SEMUANYA. Dari sekolahnya, orang tuanya, dan alamat rumah kedua orang tuanya. Aku menyimak semua yang dikatakan oleh Xiumin dengan cermat.
.
.
.
Seorang yeoja sedang berdiri didepan sebuah SHS yang dulu ditempatinya. Ya, dulu. Dulu sekali sebelum dia hilang tanpa jejak. Matanya menatap sendu ke arah anak-anak sekolah yang berjalan keluar gerbang dengan berbagai macam ekspresi. Bukankah dulu aku pernah menjadi posisi mereka?, gumamnya lirih.

Entah apa yang mendorongnya hingga dia memberanikan dirinya untuk memasuki gedung sekolah yang saat ini sudah sepi. Hanya terlihat beberapa mobil milik sang guru yang lembur. Tubuhnya memutar menatap suasana sekitar.

“Benar-benar tidak berubah” ucapnya tersenyum.

Sejujurnya yeoja itu sudah dilarang keras masuk ke area tersebut oleh orang tuanya. Hanya saja, entah kenapa saat dia berjalan-jalan kemari dan melihat sekolah ini. Hatinya berdesir, menyuruhnya untuk masuk kedalamnya.

Pandangannya kosong ketika langkahnya berhenti disebuah taman yang milik sekolah tersebut, tiba-tiba sekelebat bayangan masa lalunya kembali memaksa keluar.

“Aku tidak bisa menerimamu...”

“Aku sudah menyukai gadis lain, bukankah kau tau itu?”

Yeoja itu mencengkram rambutnya keras. Menggerang menahan rasa nyeri yang tidak tertahankan saat kenangan itu muncul. Semua kenangan tersebut muncul saat dia mulai bekerja di Stars hotel, namun dia selalu tidak menganggap rasa sakit itu.

“Tidak... aku mohon, jangan usik aku lagi. Aku tidak ingin ingat, aku tidak bisa mengingatnya... jangan paksa aku lagi.” Ujarnya parau sambil terjatuh dengan kedua lututnya yang menjadi penopang tubuhnya.

Tangannya bergetar mengambil obatnya dan meminumnya langsung tanpa air. Dia bernafas lega ketika rasa nyeri itu sudah berangsur menghilang. Ekspresinya kembali seperti semula, dan dia bangkit berlari meninggalkan tempat yang menakutkan itu baginya.

“Aigoo... hey, nona Kang. Kenapa wajahmu berubah kusut sekali hari ini?” tanya Xiumin sambil menatap wajah Hyun Sun yang sedikit terlihat pucat.

“Kau sakit?” Hyun Sun menggeleng pelan lalu menerima segelas coklat hangat pemberian Xiumin.

“Sepertinya ada yang mengganggumu, apa itu?” Hyun Sun mendengus pelan sambil meletakkan mug-nya. Matanya menatap Xiumin yang selalu setia menjadi temannya berbagi, sejak insiden malam itu. “Oppa... kenangan itu selalu memaksa keluar,”

Xiumin mengangguk mengerti, karena sejujurnya dia mengetahui masa lalu gadis itu. “Lantas kenapa tidak kau biarkan keluar?” Hyun Sun kembali menggeleng. “Tidak bisa, terlalu sakit” jawabnya sambil menangis, bahkan dia sendiri tidak mengerti kenapa air matanya sampai keluar.

“Arraso... tenangkanlah dirimu, jangan terlalu memaksakan jika itu membuatmu terluka. Aku akan pulang, apa kau masih ingin disini?” Hyun Sun mengangguk sambil mengusap air matanya. Xiumin tersenyum lalu mengusap rambut Hyun Sun lembut, “Jangan terlalu lama disini.” Hyun Sun mengangguk menatap kepergian Xiumin yang sudah menghilang dibalik pintu dapur.

Ryeowook POV
Ku hempaskan tubuhku yang pegal ke kasurku yang nyaman dan hangat. Pikiranku masih tidak bisa melepaskan bayangannya yang menangis ditambah lagi dengan perkataan Xiumin tentang penyebab kenapa gadis itu bisa menangis.

“Apa kalian dulu saling mengenal?” tanya Xiumin membuatku membuka kembali mataku yang sempat terpejam. Lalu mengangguk.

“Tapi kenapa dia seperti tidak mengenalmu?” aku bangkit dan duduk bersila menatap Xiumin yang sudah duduk dikursi kerjaku dengan posisi dagunya menopang disenderan kursi. “Molla... yang aku tau, setelah aku menolaknya dia dan keluarganya lenyap.”

Xiumin mendongakkan wajahnya merasa tertarik dengan ceritaku, “Lalu?”

“Aku tidak tau, dia dan keluarganya berada dimana. Bahkan hubungannya dengan keluargaku pun sudah tidak ada, dan sejak saat itu aku sadar bahwa aku menyukainya. Ani! Aku mencintainya, aku merasa sangat kehilangan sosoknya saat dia tiba-tiba menghilang seperti itu.” Jelasku panjang lebar

“Memangnya kenapa kau menolaknya? Dia baik, perhatian dan periang.”

Aku membuang mukaku sejenak dan kembali menatap Xiumin sendu, “Karena saat itu aku sudah menyukai gadis lain. Aku menolaknya karena aku tidak ingin merusak pertemanan kami yang sudah terjalin sejak kami kecil,”

Xiumin mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak dari duduknya. “Tidurlah... jangan terlalu dipikirkan, jika memang kalian berjodoh maka akan bersatu.” Ucapnya sambil berlalu keluar dari kamarku.

Mataku beralih menatap jendela yang sedang menampakkan bulan yang bersinar dengan cerah. Entah kenapa mengingat bahwa dia sudah tidak ingat apapun tentangku lagi, membuat dadaku sesak. Mungkin aku harus datang berkunjung ke rumahnya. Ya! Aku harus.

Mobilku berjalan perlahan memasuki kawasan pedesaan yang dihiasi oleh hamparan sawah dan perkebunan disekelilingku. Mata dan mulutku tidak berhenti bergumam mengagumi keindahan alam yang tidak ku temui di Seoul. Sesekali aku menghentikan laju kendaraanku untuk berfoto ria mengabadikan moment tersebut.

Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa rumah yang ada dihadapanku kini adalah rumah keluarga Kang. Mataku menelisik halaman rumah tersebut, rumah yang berinterior tradisonal tapi terkesan elegan. *bayangin rumahnya Jihu di BBF*

Setelah mengumpulkan keberanianku, kakiku akhirnya berpijak pada  halaman rumah tersebut dan sudah berhenti didepan pintu utama rumah tersebut.

Ting nong... ting nong....

“Nuguseyo?” tanya sebuah suara dari intercom yang tidak jauh dari tempat ku berdiri.

“Annyeong haseyo, naneun Kim Ryeowook. Apa benar ini kediaman keluarga Kang?” tanyaku sopan detik berikutnya tidak terdengar jawaban apapun hanya derap langkah kaki yang berjalan menuju pintu.

Aku membungkuk hormat ketika dua orang yang sudah sangat ku kenal sedang berdiri dihadapanku kini. “Annyeong haseyo, ahjumma... ahjussi... neomu bogo....”

PLAKKK...!!

“Untuk apa kau datang kemari, aku sudah tidak mau melihat wajahmu lagi!” bentak Kang ahjussi. Aku menatapnya sambil memegangi pipi kananku, perih.

“Yeobo, tenanglah... tidak baik membentaknya seperti itu.”

“Memangnya kenapa jika aku mebentaknya? Dia pantas diperlakukan seperti itu, gara-gara dia.... apa kau lupa bahwa anak kita kecelakaan karena dia!” tunjuk Kang ahjussi padaku

“Tapi itu sudah lama, yeobo. Tidakkah kau sudah berjanji untuk melupakannya?”

“Ye, kau benar. Aku sudah melupakannya, saat dia tidak dihadapanku. Tapi sekarang, dia kembali membuatku mengingat kembali masa dimana anak kita kecelakaan dan koma!”

Koma? Kecelakaan? Apa yang sebenarnya mereka katakan? Aku benar-benar tidak mengerti.

“Ya! Pergi dari rumahku sekarang juga, sebelum kau pulang dalam keadaan babak belur!!”

“Ta.. tapi...”

“NA KARAGO!!”

Tanpa pikir panjang, ku putar tubuhku cepat dan menuju tempat mobilku diparkir.

Hyun Sun POV
Hari ini aku sangat senang karena aku sedang pulang kerumah. Alangkah senangnya bertemu dengan appa dan eomma yang sudah tidak ku temui selama tiga bulan.

Langkahku ku ayun riang menyusuri jalan menuju rumahku, namun pandanganku tiba-tiba menangkap sebuah mobil yang sudah tidak asing bagiku dari kejauhan. Ku hentikan langkahku begitu mobil itu semakin dekat dengan ku. Mataku membulat sempurna ketika melihat bahwa pengemudi mobil itu adalah Kim Ryeowook, atasanku.

“Dia... habis dari mana? Apa dari rumahku? Mungkinkah, tapi...” aku menggeleng cepat lalu melanjutkan perjalananku kerumah sambil menenteng beberapa kantong belanjaan yang ku beli dipasar.

“Apa benar Kim sajangnim kemari?” tanyaku ketika kami sedang makan malam, seketika itu reaksi appa berubah dan menatapku tajam.

“Kim sajangnim? Apa kau bekerja ditempatnya?” aku mengangguk.

“Bukankah sudah ku katakan bahwa aku bekerja menjadi pelayan disebuah hotel terkenal?” cibirku sambil kembali memasukkan lauk kedalam mulutku tidak memperdulikan tatapan tajam appa.

“Keluar dari pekerjaanmu”

“Mwo?!”

“Aku bilang keluar dari pekerjaanmu, aku tidak suka kau bekerja diperusahaan atau apapun milik keluarga Kim.”

Tubuhku berdiri dan membalas tatapan tajam appa, “Shireo! Aku sudah mendapatkan pekerjaan itu dengan usahaku. Dan aku tidak mungkin keluar begitu saja, jangan kau paksa aku. biarkan kali ini aku yang menentukan sendiri jalanku,” balasku sambil berlalu menuju kamarku dilantai dua.

Mataku sembap karena semalaman menangis, lihatlah... bahkan kini ekspresiku sangat kacau karena perkataan appa. Ku telusuri wajahku yang terpampang dicermin sambil mengusap bagian disekitar mata. Kenapa appa melarangku? Memangnya apa salahnya jika bekerja di salah satu usaha milik keluarga Kim?, gumamku lirih.

“Sunie~ah, lebih baik kau menuruti perkataan appa, nak.” Aku menggeleng cepat ketika eomma meletakkan nampan berisi sarapan pagiku. Sejak malam dimana appa menyuruhku keluar, aku tidak ingin bertemu dengannya.

“Dia melakukan ini demi kebaikanmu,” aku menoleh menatap eomma meminta penjelasan. “Dia tidak ingin kau mengalami kecelakaan lagi,” dahiku berkerut semakin tidak mengerti. “Kau kecelakaan dan koma, itu karena.... menyelamatkan gelang itu,” tunjuk eomma pada gelangku.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang eomma katakan, kenapa tidak kau jelaskan secara langsung?” keluhku jengkel mendengar perkataan eomma yang setengah-setengah.

“Kau... berteman dekat dengan wookie, Kim Ryeowook.” Aku tersentak ketika mendengar nama Kim sajangnim disebut.

“Saat kalian duduk dikelas satu SHS, kau mengungkapkan perasaanmu padanya karena kalian sudah saling kenal sejak kecil. Namun, dia menolakmu. Menurut saksi yang melihat kejadiannya, saat itu kau berjalan dengan sempoyongan dan saat menyebrang jalan gelangmu itu terlepas...” eomma berhenti sejenak mengambil nafas.

“Kau mengambil gelang itu tanpa tau bahwa lampu sudah berubah menjadi merah, dan.. dan... tubuhmu terlempar setelah sebuah sedan menabrakmu nak...” eomma terisak. Tubuhku refleks memeluknya dan menenangkannya. “Bahkan kau koma selama tiga bulan karena kecelakaan itu, maka dari itu appa dan eomma memutuskan untuk pindah dan menghapus semua kenanganmu tentang namja itu.”

“Jadi aku sempat amnesia?” eomma mengangguk dalam pelukanku. “Dan, amnesiaku dimanfaatkan oleh kalian berdua untuk menghapus jejaknya?” eomma mengangguk lagi sambil mengucapkan kata maaf dengan sangat lirih namun masih bisa ku dengar. Ku eratkan pelukanku pada tubuhnya.

Aku mengerti, eomma. sekarang aku mengerti semuanya. Baiklah, aku akan menuruti permintaan appa. Aku tau kalian ingin melindungiku.
.
.
.
Hyun Sun berjalan menyusuri setiap meja dan berhenti dimeja yang memiliki nomer dua belas itu. Dia sudah keluar dari restoran milik Ryeowook, dan dia memutuskan untuk menjadi salah satu pelayan di toko es krim milik Han ahjussi.

“Dua skup es krim chery, dan satu skup es krim coklat. Selamat menikmati,” ucapnya sambil tersenyum setelah meletakkan pesanan milik pelanggan tersebut.

“Chakkaman” Hyun Sun menoleh ketika si pelanggan menahannya. “Ada yang bisa saya bantu lagi tuan?”

“Duduklah, temani aku”

“Nde?” awalnya Hyun Sun bingung, namun akhirnya dia menuruti permintaan si pelanggan.

Pelanggan tersebut membuka topi dan kaca matanya. Hyun Sun langsung membulatkan matanya tidak percaya, bahwa pelanggan yang sering datang itu adalah mantan bos-nya, Kim Ryeowook.

Ryeowook tersenyum melihat Hyun Sun yang terkejut, “Bagaimana kabarmu?”

“Sedang apa anda kemari, bukankah restoran anda sedang sibuk?” Ryeowook tidak memperdulikan pertanyaan Hyun Sun, dia asyik menyuapkan sesendok es krim coklat ke mulutnya dengan santai.

“Apa kau sudah ingat?” Hyun Sun mendengus mendengar pertanyaan Ryeowook. “Kalau iya, kenapa?”

“Kalau begitu, maukah kau....”

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, tidakkah kau sadar bahwa perkataanmu itu selalu menyakitiku. Bahkan disaat aku amnesia pun, perkataanmu yang selalu ter.. ani! Bukan hanya perkataanmu. Tapi bayanganmu saat mengucapkan kata-kata itu,” potong Hyun Sun cepat

“Tapi itu sudah sangat lama. Aku sadar bahwa saat itu aku sudah salah, dan aku ingin memperbaikinya sekarang.”

“Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi, Ryeowook~ssi. Urusan kita selesai, dan aku harus kembali bekerja.” Ucap Hyun Sun beranjak dari duduknya.

“Ahh~ dan jangan sekali-kali kau memperlihatkan wajahmu itu, kau sudah sangat membuatku menderita. Tidakkah kau merasakan rasa sakit yang ku rasakan?” Sambung Hyun Sun dan mulai melangkah meninggalkan Ryeowook yang mematung dengan perkataan Hyun Sun.


THE END