it's my new world

follow your heart

Latest Posts
 



Author : Rina Chan
Cast : 
-         Cho Kyuhyun
-         Kim Shin Yeong
-         Lee Donghae
-         Kim Taehyung (V)
-         Lee Mikki
-         Kim Seok Jin

Genre : hurt/comfort, romance, merried life, chapter

Ost : SHINee – An Encore

=========

“Apa?!” Mike meringis ketika Jin berteriak tepat dihadapannya. Beberapa pengunjung restaurant menoleh kearah mereka dengan pandangan bertanya, bahkan tak sedikit yang memberi tatapan menusuk.

Jin yang tersadar segera meminta maaf dan kembali duduk dengan tenang. Mengambil lemon punch dan meminumnya dengan sekali teguk.

“Sial!” Jin mengumpat sambil meletakkan gelas yang sudah kosong dengan cukup kasar.

“Kenapa kau diam saja?” bentaknya pada Mike yang sejak tadi belum bersuara kembali.

Mike menggendikkan bahunya, “Menunggumu tenang.” Ia meraih espresso-nya dan menyesapnya pelan.

“Lagipula belum ada ancaman serius. Dia hanya mengawasi adikmu tanpa bertindak apapun,”

“Dia meneror adikku.” Menatap Mike tajam sedang yang ditatap hanya mendengus pelan.

“Baiklah, aku akan meningkatkan pengawalan. Saat ini aku sedang sibuk untuk menyelidiki apa motifnya meneror adikmu. Aku pergi,” Mike berdiri setelah membereskan berkas-berkasnya. Menepuk pundak Jin sebelum menghilang dari restaurant tersebut.

**

Shin Yeong berjalan tenang menyusuri lorong rumah sakit tersebut. Sesekali ia tersenyum menyapa beberapa suster yang dikenalnya. Langkahnya berhenti disebuah ruangan yang sudah sangat akrab untuknya.

“Tidak ada orang,” gumamnya ketika melihat ruangan tersebut kosong.

“Oh, kau datang, Eonnie? Dokter Lee bilang kau masuk saja, dia akan segera kembali.” Shin Yeong sedikit bergeser masuk ketika Haerin--asisten Donghae tersenyum sambil membawa beberapa berkas hasil pemeriksaan pasien di meja Donghae.

“Aku segera kembali,” ucapnya ketika Shin Yeong sudah duduk disalah satu sofa yang disediakan disana.

Donghae menggumam sambil menuliskan resep yang harus Shin Yeong tebus di apotek. Selagi menunggu, Shin Yeong menelusuri ruangan milik dokter tampan tersebut. Pandangannya berhenti ke sebuah pigura foto yang diletakkan di atas rak buku bersama deretan foto lainnya.

Sudut bibirnya tertarik menampilkan senyuman tipis namun menyimpan kesedihan yang mendalam.

“Ku akui kau merawat mata itu dengan baik, Yeong—“ Shin Yeong tidak mendengarkan rentetan kalimat yang dikatakan oleh Donghae. Tangannya terulur mengusap sosok pria kecil yang berdiri merangkul disisi kanan. Sosok pria yang sudah tidak asing baginya. Suaminya.

“Astaga, kau tidak mendengarkanku?! Kau—“ Shin Yeong terkejut ketika Donghae merebut pigura tersebut dan meletakkannya kembali diatas rak buku dengan posisi tertutup.

“Mereka tampak serasi,” kalimat tersebut keluar dengan suara yang sangat lirih nyaris sama seperti bisikan. Donghae menatap intens wanita yang masih berdiri dihadapannya.

“Ku antar kau pulang,” tanpa berkata apapun Donghae langsung menarik tangan Shin Yeong. bahkan ia mendesah pelan ketika mengetahui tangan yang digenggamnya sangat dingin. Setelah menebus obat di apotek.

&&&

==Kyuhyun==
Aku mendongak ketika Hana—sekertarisku masuk lalu memberikan berkas-berkas yang baru, mengganti beberapa berkas yang sudah ku selesaikan. Ia mengangguk sopan kemudian pergi berlalu.

Dering ponsel yang sudah tidak asing bagiku menyapa masuk gendang telingaku. Ibu jariku bergerak mengusap layar.

Mataku membulat ketika mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang sangat penting. Hari dimana aku harus mengunjunginya karena itu adalah kegiatan rutinku setiap tiga hari sekali.

“Hana-ssi, tolong cancel semua jadwalku sore ini.” Ucapku ketika sudah keluar ruangan dan dengan segera menuju lift khusus yang akan membawaku ke basemant.

**

Angin berhembus cukup lembut sore ini, menerbangkan beberapa dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh para pembersih makam.

Aku tersenyum dan berlutut dihadapan sebuah nisan setelah meletakkan buket bunga lily di depan nisan tersebut. Kedua tanganku saling bertautan, mataku terpejam ketika memanjatkan do’a untuknya.

“Seandainya saat ini kau masih ada, pasti kau akan menjadi wanita yang cantik. Tapi itu hanya ‘seandainya’. Sampai kapan pun aku berharap, semua itu tidak akan terjadi.”

“Kau tau, gadis itu sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Aku mencoba menyayanginya. Tapi sekeras apapun aku mencoba...” jeda sesaat karena aku menarik nafas dalam. “Hanya kau yang ada dihatiku,” kalimat itu meluncur dengan mulus. Tanpa suara bersamaan dengan hembusan angin.

&&&

Pukul 14.00

Mikki berjalan cepat ke salah satu meja dan duduk di bangku kosong yang ada dihadapan pria itu.

Pria itu terkekeh melihat tingkah gadisnya ketika mengetahui kedatangannya ditempat gadis itu bekerja. Tangannya mengacak rambut gadis itu membuat bibir gadisnya mengerucut.

“Kenapa kau kemari?” Mikki bertanya setelah memesankan minuman untuk kekasihnya.

“Hanya ingin mengunjungimu.”

Mikki mendengus dengan alasan tak masuk akal yang diucapkan kekasihnya.

“Tapi ini masih jam kantor. Jangan bilang kau membolos!” jari telunjuknya menunjuk tepat dihadapan wajah pria-nya.

“Tidak akan ada yang memecatku jika aku membolos sekalipun.”

Mikki mencibir pelan sambil mengucapkan terima kasih pada pelayan ketika selesai meletakkan pesanannya.

“Dimana bos-mu?”

Seolah teringat sesuatu, Mikki bergegas menuju ruangan bos-nya. Ia sudah janji akan memperkenalkan kekasihnya pada sang bos.

“Oppa, kenalkan, dia bosku.”

Pria itu mendongak dan tersenyum manis pada wanita yang berdiri tepat disamping kekasihnya.

“Kim Taehyung.”

“Kim Shin Yeong.”

Mereka saling berjabat tangan kemudian melepasnya.

“Ku harap kau tidak melalaikan pekerjaanmu hanya karena kekasimu kemari nona Lee.” Mikki membulatkan matanya akan ucapan Shin Yeong yang terang-terangan menyindirinya.

“Eonnie!”

Shin Yeong tertawa kemudian berlalu pergi.

**

Langkah Shin Yeong berhenti ketika ia menemukan sebuah kotak tepat disisi pagar rumahnya. Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri memastikan bahwa kotak tersebut memang untuknya.

Rasa penasarannya yang cukup tinggi membuatnya membuka kotak tersebut ditempat.

“Ya Tuhan!” pekiknya bersamaan dengan jatuhnya kotak tersebut ke tanah. Wajahnya memucat dengan sekujur tubuh bergetar hebat.

“Tidak.. tidak.. tidak..” gumamnya dengan suara bergetar.

Dengan langkah cepat dia berbalik segera masuk ke dalam rumahnya. Tidak ia perdulikan tatapan bertanya dari dua orang satpam yang menjaga rumahnya.

==Shin Yeong==

Pukul 21.30

Aku mendesah pelan sambil menggonta-ganti channel Tv. Setelah makan malam, aku putuskan untuk menonton Tv sambil menunggunya pulang.

Tanpa ku tanyakan pada siapapun aku sudah tau kemana dia pergi.

Tentu saja mengunjunginya, bukankah hari ini jadwalnya berkunjung? Dewi batinku melipat dada dan menatap kasian padaku.

Aku memang menyedihkan.

Merasa tingkat kebosananku sudah tidak bisa dibendung lagi, akhirnya ku putuskan menuju ke halaman belakang rumah. Menuju kandang kelinci yang sengaja ku buat disudut halaman.

Brukkk...

Keranjang wortel yang ku pegang jatuh ke tanah dengan cukup keras.

“Kyaaaaa....!!”

Sekujur tubuhku bergetar meski saat ini tubuhku terbalut selimut tebal. Bibi Ahn mengusap punggungku lembut, menenangkanku yang masih syok akan apa yang baru saja ku lihat.

Suara-suara di halaman belakang menandakan bahwa telah terjadi sesuatu disana.

Air mataku mengalir keluar ketika ingatan beberapa menit yang lalu kembali terlihat.

“Kita bisa membelinya lagi,” bibi Ahn bersuara dengan tangan yang masih setia menenangkanku.

“T-tidak, b-bukan itu masalahnya...” ucapku tersendat

“Tidak masalah mereka pergi dengan kematian yang wajar. Tapi ini?” aku kembali bersuara meski cukup lirih.

“Ma-mata mereka...” aku masih menceracau tidak jelas ketika mengingat semua kelinciku mati dengan sangat tidak wajar. Mereka mati dengan kelopak mata yang berlubang. Catat itu, berlubang. Menandakan bahwa semua mata kelinciku dicongkel paksa.

“Hiks... tega sekali yang sudah melakukannya,”

**

Donghae menatapku dalam. Saat ini aku sedang berada dipelukannya. Bibi Ahn menelfonnya karena dia tidak bisa menelfon Kyuhyun. Tidak masalah bagiku jika Kyuhyun lebih betah bersama dengan Jeong Yeon. Kejadian seperti ini bukan hal pertama atau kedua bagiku, maka dari itu aku sangat maklum kenapa Kyuhyun begitu.

“Jika kau merasa takut, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menjagamu 24 jam. Bagaimana?”

Aku melepaskan pelukannya dan menggeleng pelan.

“Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendiri!” ucapnya frustasi sambil meremas rambutnya.

“Aku tidak apa-apa,”

Donghae berdiri dan pergi entah kemana kemudian kembali dan melemparkan sebuah kotak yang tadi sore ku tinggalkan di gerbang.

“Kedua satpammu yang memberikannya. Mereka berniat memberikannya pada Kyuhyun, hanya saja SUAMIMU belum kembali.” Dia menekankan suaranya pada kata ‘suamimu’.

“Beginikah sikapnya sebagai suami? Tsk, mengecewakan.”

“Oppa,”

“Jika aku menjadi suami maka aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.”

“Oppa,”

“Menyia-nyiakan orang yang—“

“OPPA!” aku berteriak karena ia tak menghiraukan panggilanku.

Donghae mengusap wajahnya kemudian kembali duduk disampingku dan mengucapkan kata maaf berkali-kali.

&&&

Jin memejamkan matanya mendengar dan mencerna kalimat yang dikatakan Donghae tentang keadaan adiknya. Kedua tangannya terkepal. Rahangnya mengetat menahan emosi.

“Aku harus menemui adikku,”

“Bukankah belum saatnya?”

Jin berdiri dan menyambar kunci mobilnya tanpa memperdulikan teriakan Donghae.

Nafasnya memburu dengan mata berkilat memancarkan kemarahan yang siap meledak. Beberapa karyawan langsung menyingkir mengetahui suasana hati sang bos sedang dalam kondisi tidak baik. Bahkan sangat buruk.

Langkahnya yang lebar dengan cepat membawanya segera sampai di lobby kantor dan dia berhenti tepat ketika pintu mobil sudah terbuka untuknya.

Jin memejamkan matanya mencoba mengatur emosinya.

“Tuan?” Jason menegur.

“Antarkan aku pulang.”

Jason segera menutup pintu mobil ketika tuannya sudah masuk dan bergegas pergi ke balik kemudi.

Belum saatnya aku bertemu dengannya, pikir Jin.

TBC


 



Author : Rina Chan
Cast : 
-         Cho Kyuhyun
-         Kim Shin Yeong
-         Lee Donghae
-         Kim Taehyung (V)
-         Lee Mikki
-         Kim Seok Jin

Genre : hurt/comfort, romance, merried life, chapter

Ost : SHINee – An Encore

=========

Mikki bangkit dari duduknya ketika melihat seorang pria berjalan kearahnya dengan mendorong trolley miliknya. Gadis itu langsung berlari menghambur ke pelukan sang pria yang sudah melebarkan kedua tangannya.

“Aku merindukanmu,” Mikki berbisik sambil menahan desakan air mata yang akan keluar karena rindu yang selama ini menyerangnya sudah terobati.

“Aku lebih merindukanmu, Babygirl,” pria tersebut menggoyangkan Mikki yang masih memeluknya kekiri dan kekanan.

“Emmm apa kita akan terus berada dalam situasi seperti ini, Babygirl?” seolah tersadar Mikki langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya merona ketika beberapa pasang mata mengerling padanya, bahkan ada beberapa orang yang terang-terangan mengulum senyum.

“Wajahmu merah, apa kau demam?”

Blush...

Wajah Mikki semakin memerah karena wajah pria yang menjadi kekasihnya itu mendekat, memperhatikan wajahnya. Dengan gerakan cepat Mikki mendorong trolly yang berisi tas milik kekasihnya menjauh dari tempat itu menuju foodcourt terdekat, meninggalkan kekasihnya yang memandangnya bingung.

&&&

Shin Yeong berdiri dari duduknya ketika Kyuhyun berjalan mendekat. Dengan cekatan wanita itu melepas jas dan membawa tas suaminya lalu membawa kedua benda itu ke kamar mereka. Shin Yeong segera menuju kamar mandi untuk menyiapkan air panas yang akan digunakan suaminya untuk berendam.

Gerakannya berhenti sejenak ketika merasakan tangan kekar yang melingkar dipinggangnya.

“Aku merindukanmu,” Shin Yeong berjengkit ketika hidung suaminya mengendus lehernya dan menghirup aroma yang menguar dari tubuhnya dengan kuat.

“Oppa,” Shin Yeong melepaskan pelukan suaminya lalu berputar. Menangkup wajah lelah suaminya dan mengusap rahang  yang terasa kasar karena bekas bercukur itu. Kyuhyun memejamkan matanya merasakan usapan lembut dari istrinya.

“Mandilah, setelah itu kita sarapan.” Shin Yeong berjinjit dan mengecup pipi Kyuhyun sebelum meninggalkannya sendiri di kamar mandi.

**

“Oppa, kau berbohong!” Kyuhyun menoleh ketika suara istrinya terdengar. Shin Yeong mendengus dengan kedua tangan terlipat didada. Kyuhyun mengambil salah satu tangan istrinya yang terlipat kemudian menariknya lembut untuk duduk disisinya.

“Berbohong? hey, jangan menuduhku tanpa bukti Nyonya Cho.” Kyuhyun mencubit gemas hidung kecil istrinya.

“Bukankah bibi Ahn sudah melarangmu untuk bekerja?”

Kyuhyun mengangguk. “Kau juga tau aku tidak suka dilarang bukan?” Shin Yeong memutar matanya malas. Dia paham betul bahwa salah satu watak suaminya yang menjengkelkan adalah tidak suka dilarang. Garis bawahi itu.

“Ku jamin Donghae Oppa akan mengoceh jika dia tahu kau memaksa masuk untuk bekerja.”

“Aku bukan anak kecil, sayang,” kali ini Kyuhyun yang memutar bola matanya mendengar ancaman yang keluar dari bibir tipis istrinya.

Shin Yeong tertawa pelan melihat ekspresi wajah suaminya. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak dibelikan permen oleh ibunya.

“Tidak ada yang lucu!”

Tawa Shin Yeong semakin keras mendengar Kyuhyun memprotes sikapnya.

“Kau lucu, Oppa, ekspresimu membuatku gemas.” Kyuhyun meringis ketika istrinya mencubit pipinya dengan cukup keras.

&&&

Shin Yeong mengernyit ketika melihat Mikki yang tidak seperti biasanya. Memang gadis itu terkenal dengan watak cerianya dan selalu memasang wajah ramah, hanya saja saat ini senyum itu terasa melebar beberapa senti dari biasanya.

“Apa ada hal yang ku lewatkan?” tanya Shin Yeong pada salah satu petugas kasir yang bernama Nami.

“Tidak ada hal yang kau lewatkan Eonnie, hanya saja ku dengar kemarin kekasih gadis itu kembali,” jawab Nami

Shin Yeong membulatkan mulutnya seraya mengangguk, namun detik berikutnya dia menoleh dan membuat Nami terkejut.

“Kekasih?!!”

“I-iya, kekasih.”

“Sejak kapan? Apa kalian semua tau?” Nami menggeleng kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Shin Yeong dengan isyarat.

“Apa hanya aku yang tidak tau disini? Menyebalkan,” Shin Yeong mendecakkan lidahnya kesal.

“Memangnya kau tidak tau? Bukankah kalian berdua sangat dekat?” Nami kembali bertanya setelah melayani pembeli yang membayar pesanannya. Shin Yeong menggeleng sebagai jawaban.

Lee Mikki, kau berhutang cerita padaku!

**

==Shin Yeong==

Mataku mengerjap ketika ku rasakan sebuah tangan bergerak tepat dihadapn wajahku.

“Kenapa hanya aku yang tidak tau?” protesku sambil melipat kedua tangan didada dan memandangnya sengit.

Saat ini aku dan Mikki sedang berada disalah satu private room cafe-ku. Beberapa menit yang lalu ku putuskan untuk mengintrogasinya tentang kabar yang baru saja ku dapatkan dari Nami.

Mikki memutar bola matanya, “Haruskah ku jawab lagi?”

“Kau keberatan?” tanyaku balik.

“Tentu saja! Aku sudah memberi jawaban sebanyak tiga kali atas pertanyaan yang sama,”

“Benarkah?” aku mengerutkan dahiku. Ku akui dalam hal pikiran aku sedikit lemah dan butuh waktu bagiku untuk mencerna suatu hal.

“Iya.” Mikki menjawab singkat dengan memasang ekspresi gemas karena sikapku itu.

“Baiklah, aku minta maaf dan kali ini aku tidak akan memintamu untuk mengulang jawaban lagi,” aku tersenyum lebar hingga menampakkan gigiku.

“Karena kau tidak bertanya. Sudah ku jawab dan selamat tinggal, shift ku sudah habis.” Dia berdiri dan meninggalkanku yang terkejut setelah selesai mengatakaan rentetan kalimat yang sejak tadi ku tunggu dengan cukup cepat.

“Ya! Kau mengatakannya terlalu cepat! Lee Mikki!” seruku sambil mengejarnya.

**

Langkahku berhenti ketika mataku tak sengaja melihat sebuah boneka yang terpajang disalah satu etalase toko boneka.

“Waahhh... boneka yang lucu!” seruku tanpa sadar sambil memegang kaca etalase. Mataku berbinar melihat boneka panda yang cukup besar, mungkin tingginya hampir menyamai tinggi badanku dilihat dari ukurannya.

“Mahal sekali,” desahku kecewa ketika mataku melihat harga yang tertera dihadapan boneka tersebut. “Tapi aku ingin...”

Masih dengan posisi yang sama, tiba-tiba saja aku melihat siluet seseorang yang sedang mengacungkan sebuah pisau. Aku menoleh dan mendesah lega ketika tak menemukan pemilik siluet tersebut.

“Mungkin hanya halusinasiku saja,”

Ku pijat pangkal hidungku sambil kembali menatap pada boneka yang sudah membuatku jatuh cinta sejak kecil.

“Siapa disana?!” lagi-lagi aku melihat siluet seseorang yang sedang mengangkat pisaunya bersiap menghujamkannya padaku.

Seketika bulu roma ku meremang dan membuatku kembali melanjutkan langkah menuju halte terdekat.
Aneh sekali, tidak mungkin hanya halusinasi, aku bahkan merasakannya tepat berdiri dibelakangku. Tidak mungkin jika dia berniat membunuhku, ditambah lagi jalan yang ku lalui tadi cukup ramai. Berbagai pikiran terus berputar dikepalaku mengingat kejadian yang beberapa menit lalu terjadi.

&&&

Jin terdiam sambil memandang pintu ruangannya. Jari panjangnya sejak tadi tidak berhenti mengetuk meja lebar yang kini sudah rapi. Sesekali ia mengusap rambutnya dan memejamkan matanya.

“Apa kau sedang memikirkan cara untuk memisahkan mereka berdua?” ketukan jari Jin berhenti. Dia mendongak melihat Donghae yang sedang menyandar disisi meja dengan kedua tangan yang berada dalam saku.

“Tidak bukan itu.”

Donghae mengangkat sebelah alisnya kemudian berjalan menuju kaca besar yang ada disana. Memandang langit keemasan yang tercipta karena matahari yang sudah akan kembali ke tempat peraduannya.

“Perasaanku tidak enak. Sejak tadi pikiranku tertuju padanya,”

Donghae memutar tubuhnya dan melihat Jin yang sudah memutar kursinya menghadapnya.

“Adikmu?” Jin mengangguk tanpa menjawab.

“Karena Kyuhyun?”

“Bukan, hal lain yang akan membahayakannya.” Jin mengusap wajahnya pelan berusaha mengusir kegelisahan yang sejak tadi membuatnya tidak tenang.

“Jika kau mengkhawatirkan adikmu, tambah saja anak buahmu untuk mengawasinya.”

Jin mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk. Dengan gerakan cepat dia mengambil benda persegi yang berada disaku jas-nya.

“Mike! Aku ingin ekstra pengawasan.” Ucapnya dengan nada bossy.

Donghae menggelengkan kepalanya lalu kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela.

Ternyata bukan hanya kau saja yang merasa khawatir akan keadaannya, gumam Donghae sambil mengernyit silau.

**

Shin Yeong bergerak gelisah. Sejak tadi dia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Matanya terbuka dan melihat jam yang ada dinakas samping tempat tidur. Mendesah pelan kemudian kembali menarik selimut.

Sejak sampai di rumah, pikiran wanita tersebut dipenuhi oleh berbagai hal yang sejak tadi dipikirkannya. Perasaannya yang selalu tenang perlahan hilang oleh rasa khawatir akan sesuatu hal yang akan menimpanya.

“Tidak.. tidak..” Shin Yeong mengucapkan kata tersebut secara berulang demi mengusir rasa paranoid-nya.

Tangannya kembali terulur meraih jam digital. Mendesah pelan ketika waktu berjalan lambat. Masih sekitar lima jam lagi sebelum matahari datang dan itu membuat rasa cemasnya semakin bertambah.

Shin Yeong kembali tertidur kemudian memiringkan tubuhnya menatap keluar jendela yang hanya tertutupi oleh gorden tipis yang sedikit bergoyang karena getaran pada kaca akibat petir yang sejak tadi tak kunjung berhenti.

Matanya membulat dan tanpa ia sadari sudah terjatuh dari ranjang. Shin Yeong langsung keluar kamar dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Sesekali dia menoleh ke belakang hingga tidak melihat langkah didepannya.

Brukk...!

Pats..

“Aduuuhh, sakit.” Shin Yeong mengusap bokongnya yang baru saja sukses mendarat di lantai karena dia menabrak tubuh seseorang.

“Kenapa kau berlari di dalam rumah?” Shin Yeong mengernyit ketika melihat seseorang yang membelakangi cahaya berdiri dihadapannya.

“Sayang,” Kyuhyun berlutut tepat dihadapan istrinya dan mengusap pipi istrinya itu. Shin Yeong mengerjap merasakan usapan Kyuhyun. “Ada apa?” Kyuhyun kembali bertanya karena menatap wajah pucat istrinya.

“O-oppa..” seolah sudah tersadar kembali, Shin Yeong langsung menubruk tubuh suaminya hingga membuat Kyuhyun terduduk dilantai dengan posisi Shin Yeong berada dipangkuannya dan memeluknya erat.

“Ssstt, sayang tenanglah.” Kyuhyun mengusap lembut rambut istrinya. Pertanyaan yang masih belum terjawab ia urungkan melihat kondisi istrinya yang berubah aneh. Kyuhyun menghela nafas setelah Shin Yeong sudah tenang. Masih dalam posisi sama ia berusaha berdiri dan membawa istrinya kembali ke kamar untuk tidur.

Sementara itu, di luar rumah megah tersebut seseorang berdiri mengamati. Matanya yang sejak tadi hanya fokus kepada salah satu ruangan yang kini menyala kembali membuatnya tersenyum penuh arti.

“Well, sepertinya kau mulai ketakutan dan ku harap kita bisa bertemu secepatnya,” pria itu menyeringai kemudian merapatkan mantelnya dan membenarkan letak kaca matanya sebelum beranjak menuju mobil yang sudah menantinya. Bersiul tenang sambil memutar-mutar pedang pendek yang sejak tadi dipegangnya.



TBC