it's my new world

follow your heart

Latest Posts



Author : Rina Chan
Cast : Cho Kyuhyun
           Kim Shin Yeong
Other cast : silahkan dicari, ^^
Genre : hurt/ comfort, romance, fantasy, meried life, twoshoot.

Ini bagian terakhir dari sequel  BECAUSE, I ALWAYS BESIDE YOU. Gomawo untuk respon kalian semua di ff cerita inti ataupun sequel-nya *bow*

Semoga kalian menyukainya, dan sampai jumpa di karyaku yang lain... ^^ *wink*

Have enjot it and don’t forget to RCL....

Backsong : Super Junior M – After a minute & Super Junior – This is love

>>>> beware Typo <<<<

Seorang wanita berumur sekitar dua puluh tiga tahun sedang memandangi sebuah makam yang masih terlihat segar. Aroma dupa masih sangat tercium meskipun sudah beberapa hari berlalu sejak upacara kematian.

Wanita itu membuka kaca mata hitamnya dan menyeka tetesan-tetesan air bening yang jatuh dari kedua mata cantiknya. Dia berjalan mendekati makam tersebut dan meletakkan buket bunga yang dibawanya. Sejenak dia terdiam karena mendo’akan si mendiang yang sangat berarti bagi hidupnya selama ini.

Setelah selesai melaksanakan ritualnya, dia kembali berdiri dan mengusap batu nisan itu. Jari-jari lentiknya mengikuti ukiran nama yang ada dibatu nisan itu, jemarinya berhenti ketika selesai mengikuti ukiran nama yang bertuliskan.... KIM DONG GOO.

Wanita itu kembali memakai kaca mata hitamnya lalu melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.

“Maafkan aku kek, bahkan disaat-saat terakhirmu aku tidak berada disampingmu. Maafkan aku,” ucapnya sambil membungkuk.

“Kakek tidak akan memarahiku? Aku sudah bertingkah menyebalkan, dan kenapa kakek diam saja?” tegurnya pada sebuah foto yang ada didepan nisan tersebut. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum getir.

“Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik kakek. Kau tidak perlu khawatir karena aku akan sering mengunjungimu,” ucapnya lalu mulai melangkah sambil menarik kopernya menjauh keluar area pemakaman tersebut.

Wanita itu, Kim Shin Yeong. dia kembali setelah delapan bulan lamanya dia pergi. Lebih tepatnya menghilang. Dia kembali lagi setelah semua... anni! Setelah menyelesaikan dua permintaan yang mengharuskannya pergi dari rumah yang ditempatinya.

Bukan tanpa alasan saat itu dia pergi. Saat itu dia....

__flashback ON__

Setelah menutup pintu rumahnya, dia berjalan menuju garasi mobilnya dan menyalakan mesin mobil lalu membawanya pergi.

“Kau yakin meninggalkan mereka berdua?” tanya  Hyun Wi yang tidak lain adalah ibu dari Shin Yeong. wanita itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan sang ibu dan lebih fokus menyetir.

“Kau bahkan mematikan handphone-mu, tidakkah kau pikir nanti suamimu khawatir padamu?” timpal Dae Suk, suami sekaligus ayah bagi Shin Yeong.

“Lantas apa yang kalian inginkan? Bukankah kalian ingin segera kembali ke surga, tidakkah kalian menghargai usahaku untuk lebih mementingkan kalian dari pada keluarga kecilku itu?” balas Shin Yeong yang tidak tahan akan ucapan kedua orang tuanya yang saling memojokkan dirinya.

Shin Yeong menepikan mobilnya dan mencoba mengatur emosi yang saat ini kembali menyerang pikirannya.

“Tapi, nak....”

“Aku tau, keinginan eomma. eomma ingin berkeliling Eropa bukan?” potongnya cepat. Hyun Wi hanya mengatupkan mulutnya. Shin Yeong melihat ekspresi kedua orang tuanya lewat kaca spion. “Lalu, keinginan appa adalah berkunjung ke New Zealend kan?” Dae Suk hanya memalingkan wajahnya tidak berani membalas tatapan mata anaknya itu.

“Kalau begitu, aku akan mewujudkannya. Meskipun aku mengorbankan keluarga kecilku,” Shin Yeong kembali melajukan mobilnya menuju bandara untuk mewujudkan permintaan kedua orang tuanya itu.

__flashback OFF__

__oOo__

Shin Yeong POV
Berkali-kali ku atur nafasku yang tidak beraturan ketika mobilku sudah masuk ke garasi rumah kami. Ku tatap daun pintu yang terlihat dari dalam mobilku. Setelah dirasa cukup, akhirnya ku langkahkan kakiku menuju teras dan membuka pintu utama rumah kami dengan perlahan.

Tenang dan sunyi, itulah suasana yang saat ini terlintas dipikiranku ketika berhasil masuk.

Kedua kakiku berjalan menuju kamar kami –kamarku dan Kyuhyun oppa-. Masih seperti dulu, gumamku pelan ketika melihat kamar kami tidak berubah sedikitpun meski delapan bulan telah berlalu.

“Ahh~ aku merindukan suasana ini,” ucapku ketika membaringkan tubuh letihku keatas ranjang. Sejenak ku hirup aroma maskulin yang menguar dari bantal yang digunakan oleh Kyuhyun oppa. Aku merindukannya, sangat.

Setelah merapikan semua baju-bajuku, aku putuskan untuk mandi lalu berniat melihat baby Yoon.

“Hai, baby Yoon... eomma, kem.....” perkataanku berhenti ketika tidak menemukan sosok mungil itu. Ahh~ aku merindukannya.

Ku langkahkan kakiku mendekati dinding yang terdapat foto-foto miliknya yang memperlihatkan pertumbuhannya sepanjang bulan. Pandanganku berakhir pada sebuah foto yang terakhir diambil  sebulan yang lalu. Tepat saat umurnya satu tahun lebih lima bulan.

Ku kecup foto itu berkali-kali. “Eomma merindukanmu, nak. Maafkan eomma,” ucapku pilu.

“Mamm... ma...” kepalaku menoleh ketika melihat kedua orang yang sangat ku rindukan. Tanpa aba-aba, aku langsung menghambur memeluk mereka.

“Kau sudah kembali?” tanya Kyuhyun oppa lembut. Oh, astaga... aku merindukan suaramu oppa. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Beri salam pada eomma, sayang.” Ucap Kyuhyun oppa sambil memberikan Yoon Bi kepadaku. Langsung ku peluk tubuh mungilnya.

Raut wajah mungilnya berkerut melihatku menangis. Lalu dapat ku rasakan kedua tangan mungilnya mengusap air mata yang jatuh.

“Bisa kau mandikan dia? Setelah itu...”

“Aku mengerti,” jawabku cepat lalu mulai kembali mengerjakan tugasku sebagai seorang ibu.

Setelah semua tugasku selesai, aku keluar kamar Yoon Bi dan bergabung dengan Kyuhyun oppa yang sedang menonton Tv diruang tengah.

“Oppa....” aku menoleh padanya ketika merasakan tangan kanannnya merangkul pundakku erat lalu menarikku untuk mendekat padanya. “Bogoshipo....” ucapnya sambil mengecup lama puncak kepalaku.

Kyuhyun POV
Dia kembali, akhirnya setelah delapan bulan lamanya aku menunggu akhirnya dia kembali juga. Awalnya memang aku jengkel karena dia pergi begitu saja meninggalkan Yoon Bi yang sedang sangat membutuhkannya. Tapi, begitu tau alasannya kenapa dia pergi maka aku memakluminya.

Apa kalian penasaran aku tau dari mana alasan istriku itu pergi begitu saja? Tidak perlu ku jelaskan kalian sudah tau bukan? Anni????

Geure... aku mengetahui alasannya pergi dari Ryeowook hyung. Saat aku sedang berusaha menenangkan Yoon Bi yang sedang menangis dan beberapa kali aku menggerutu karena sikap istriku itu, Ryeowook hyung memberikanku sebuah buku.

‘Kyun~ah, maafkan adikku. Dia punya alasan tersendiri kenapa seperti itu, dia meninggalkan kalian karena ingin mewujudkan permintaan eomma dan appa. Bisakah kau memahaminya? Kau tau bukan, bahwa ini sulit baginya?’

Aku termenung lalu mengangguk paham.

‘Gomawo...’

“Oppa...” aku menunduk menatap wajahnya. “Nado...” ucapnya lirih nyaris berbisik.

__oOo__

Saat ini aku sedang menatap kedua malaikatku yang sedang asyik bercengkrama riang. Istriku sedang berkali-kali mencoba berbicara dengan buah hati kami, dan dibalas beberapa gumaman ringan dan pekikan dari buah hati kami tersebut.

Senyumku mengembang seiring dengan langkahku yang mendekati mereka berdua. Pekikan Yoon Bi membuat istriku menoleh kearahku.

“Eoh, kau sudah pulang? Dan.... kenapa kau mengendap-endap?” tanyanya ketika melihatku. Awalnya aku memang berniat mengagetkannya, namun niat itu sirna ketika baby Yoon melihatku.

Aku mendesah pelan, “Awalnya aku berniat memberi kejutan. Tapi baby Yoon melihatku,” jelasku sambil menggaruk tengkukku kikuk. Sesaat suasana hening. “Hahahaha....”

“Tidak ada yang lucu,” gerutuku sambil cemberut. Dia menutup mulutnya berusaha meredam tawanya, namun tetap saja aku masih bisa mendengar kekehannya.

Ku putar balik tubuhku lalu menghentakkan kakiku ketika melangkah menuju kamar kami.

“Oppa...” aku membuka kedua mataku dan tersenyum ketika melihat  kedua mata bulatnya. Kedua sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman yang sempurna.

“Mwo?” tanyaku serak

Tangannya terulur mengusap wajahku, refleks kedua mataku terpejam merasakan sentuhannya. “Aku merindukanmu,” ucapku yang sudah mulai tersulut gairah. Kedua mata bulatnya mengerjap sempurna. Tanpa menunggu lama langsung ku cium bibirnya.

__oOo__

Author POV
Hari berganti hari, dan tidak terasa mereka sudah mengarungi bahtera pernikahan selama 4 tahun. Kebahagiaan mereka bertambah sempurna ketika sang anak sudah bisa mengucapkan beberapa kata yang terkadang membuat kedua orang tuanya merasa gemas.

Saat ini, keluarga kecil itu sedang menikmati waktu sore mereka bersama-sama. Sang ayah sedang menggoda anaknya yang berusaha mengejar tubuhnya dengan susah payah. Sedangkan sang ibu, memperhatikan tingkah laku mereka berdua sambil sesekali mengusap perutnya yang sudah sedikit besar, karena sudah menginjak enam bulan.

“Eomma...” Shin Yeong –sang ibu- mendongak dan tersenyum ketika Yoon Bi berusaha menggapai wajah ibunya ketika dia berada digendongan Kyuhyun –sang ayah-. “Ne, sayang” jawab Shin Yeong sambil mengulurkan tangannya untuk menerima tubuh mungil Yoon Bi. Namun dengan cepat, Kyuhyun mundur beberapa langkah dari tempat Shin Yeong duduk.

Yoon Bi menoleh dan menatap Kyuhyun tidak suka. “Kau sudah berjanji untuk tidak meminta gendong pada eomma, bukan?” ucap Kyuhyun mengerti. “Hanya sebentar saja tidak boleh?” tanyanya sambil memasang wajah aegyo. Kyuhyun menggeleng tegas.

“Arraso, tapi nanti aku boleh digendong lagi?”

“Ne, nanti setelah adikmu lahir, sayang.” Ucap Shin Yeong lembut ketika sudah berdiri dihadapan mereka berdua.  “Berapa lama?”

Kyuhyun mengecup pipi anaknya gemas, “Wae? Kau suka sekali meminta gendong pada eomma.” tanya Kyuhyun dengan nada cemburu

“Karena appa kan selalu bekerja, dan pasti badan appa pegal-pegal. Jadi, aku tidak ingin membuat badan appa sakit,” jelasnya dengan mimik wajah yang menggemaskan

Kyuhyun menghujani wajah putrinya dengan ciuman. Dia senang sekaligus bahagia mendengar ucapan anaknya yang pengertian.

(( at night, Kyu-Shin room... ))

“Oppa...” panggil Shin Yeong ketika akhirnya dia memutuskan untuk memanggil suaminya itu. Hening... tidak ada respon dari suaminya. Shin Yeong menoleh dan menatap wajah suaminya yang ternyata sudah tertidur pulas.

Sebenarnya dia tidak sedang dalam kondisi ngidam, hanya saja... dia masih penasaran apakah Ryeowook masih ada atau tidak.

Akhirnya, setelah beberapa menit dia terdiam. Shin Yeong turun dari ranjang untuk mencari sesuatu.

“Kau sedang apa?” tanya Kyuhyun yang terbangun karena merasakan bahwa istrinya tidak berada disampingnya.

Shin Yeong menoleh dan menggeleng pelan, “Apa aku mengganggumu, oppa?” tanyanya polos dan kembali menuju ranjang untuk berbaring.

“Kau sedang hamil, dan tidak boleh terlalu lelah.” Ucap Kyuhyun sambil mengusap-usap punggung istrinya, supaya dia bisa tidur. Shin Yeong mengangguk patuh.

Shin Yeong POV
Dugaanku benar, Ryeowook oppa sudah pergi. Tapi, kenapa dia sama sekali tidak memberi tahuku? Jahat sekali!

Pandanganku menatap nanar lantai rumah yang saat ini ku pijak. Akhir-akhir ini aku harus sering melakukan jalan karena kandunganku yang sudah menginjak sembilan bulan. Aigoo... senang sekali rasanya sudah mempunyai anak kedua. Tidak terasa, padahal seperti baru kemarin aku mengandung Yoon Bi.

Tanganku terulur mengusap perut besarku, sesekali menyanyikan lagu lullaby. Dapat ku rasakan beberapa kali gerakan kecil darinya.

“Kau sudah tidak sabar ingin keluar, eoh?” tanyaku sambil tersenyum simpul.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Kyuhyun oppa ketika kami sedang makan malam bersama tanpa Yoon Bi, karena dia menginap dirumah eomoniem.

“Baik, akhir-akhir ini dia selalu bergerak dan terkadang membuatku kewalahan.”

“Jinjja?!” aku mengangguk mantap. Kyuhyun oppa berdiri dari duduknya dan memutar kursiku. Dia langsung menempelkan telinganya diperutku sambil sesekali mengajaknya berbicara.

“Arkh...!” erangku.

“Gwaenchana?” aku menggeleng setelah melihat cairan bening merembes keluar. “Oppa... akh.... ak.. aku...”

“Arrasso, kita pergi sekarang.”

__oOo__

‘Chukhahaeyo...! kau sudah memberikanku keponakan lagi, yeongie...’

‘Eonnie...!! kau memiliki dua anak yang sangat tampan dan cantik’

‘Maafkan eomma nak, eomma tidak bisa membantumu lagi sekarang...’

‘Kau sudah melahirkan putra yang tampan sepertiku, kekeke....’

Ku paksakan mataku untuk terbuka setelah untuk beberapa saat aku bermimpi bertemu dengan mereka –lagi-. Ahh~ kali ini mereka tidak bisa melihat anakku yang kedua, tapi tidak apa, toh mereka pun bisa tetap melihatnya meskipun mereka sudah berada disurga.

“EOMMA...!” pekik putri kecilku yang langsung menaiki kursi yang ada disamping ranjangku. Aku tersenyum tipis melihat tingkahnya.

“Sssstt...! jangan berteriak, nanti kau membangunkan adikmu.” Ucapku menasehati sambil mengusap rambut tebalnya. Dia hanya nyegir kuda sambil melirik box bayi tempat adiknya berbaring.

“Gomawo... akhirnya kau memberikanku patner bermain game juga,” ucap Kyuhyun oppa sambil mengecup keningku lama dan ku balas dengan memukul dadanya pelan hingga membuatnya terkekeh.

“Appa.... siapa namanya?”

“Cho Yoong Ji,” jawab Kyuhyun oppa setelah melihat anak kami.

Kyuhyun POV

“Berhentilah berlari-lari seperti itu, Bie~ya...” ucapku sedikit berteriak. Sejak tadi aku mengikuti putri kecilku yang berlari seperti mengejar sesuatu.

“Appa... jebal, ayo kejar dia sebelum dia menghilang lagi seperti kemarin,” pintanya sambil berusaha menarik tanganku. Aku melihat kearahnya lalu melihat sekeliling. Siapa yang dia kejar?, batinku bertanya.

“Appa!” pekiknya karena dengan tiba-tiba aku menggendongnya kembali ke kamar inap Shin Yeong untuk membantunya membereskan benda-bendanya. Karena hari ini dia akan pulang.

“Oh, waeyo oppa? Wajahmu berkeringat sekali...” ucap Shin Yeong ketika aku sampai dikamar inapnya. Dia mendekatiku dan mengusap peluh yang menetes dengan tisue.

“Apa ini karena mengejar Yoon Bi lagi?” aku hanya menganggukkan kepalaku. “Dia selalu berkata ‘jangan sampai kita kehilangan dia lagi’. Aigoo, memang apa yang dia kejar sampai dia seperti itu?”

“Wae?” tanyaku ketika tiba-tiba Shin Yeong menatapku dalam lalu menoleh kearah Yoon Bi yang sedang mengajak Yoong Ji berbicara.

“Boleh eomma tau, apa yang kau kejar?” tanyanya. Aku hanya berdiri tidak jauh dari mereka namun masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Yoon Bi mengangguk cepat lalu mulai berceloteh tentang pertemuannya dengan seorang gadis yang berumur lebih tua darinya. Lalu.. bla bla bla...

“Jadi apakah dia ada disini, sekarang?” tanya Shin Yeong memastikan. Oh, astaga! Jangan bilang bahwa dia bisa melihat arwah, gumamku.

Shin Yeong berdiri dan menghampiriku, “Tidak usah kau beri tahu. Aku sudah tau kesimpulannya,” selaku cepat

“Tapi ini terlalu cepat, oppa.” Timpalnya tidak percaya.

“Tidak ada yang tidak mungkin,” balasku sambil memegang kedua bahunya.

Kami berdua sama-sama menghela nafas dalam dan panjang, tidak bisa membayangkan putri kami yang baru berumur lima tahun sudah bisa melihat arwah dan mungkin saja beberapa tahun lagi dia akan menjadi seorang catcher.

“Neo...” kami berdua menoleh ketika mendengar Yoon Bi menunjuk kearah pintu kamar yang terbuka. Kami berdua langsung melihat kearah pintu.

Aku tau Shin Yeong melarang Yoon Bi untuk mendekati arwah itu, karena bagi Shin Yeong, bisa saja arwah itu merasuki tubuh Yoon Bi dan akan menyakiti tubuhnya yang masih kecil.

“Neo, Nuguya?! Kenapa kau selalu mengikutiku???” tanya Yoon Bi ketika sudah berdiri diantara kami berdua.

Aku dan Shin Yeong saling bertatapan. Aku mengerti dan menggendong Yoon Bi untuk mendekat kearah ranjang.

“Oppa, sepertinya aku harus kembali bertugas...” ucapnya yang ku sambut dengan kecupan singkat lalu mengangguk.



THE END



        Author : Rina Chan
        Cast : Cho Kyuhyun
                   Kim Shin Yeong
         Other cast : silahkan dicari, ^^
         Genre : hurt/comfort, romance, fantasy, meried life, twoshoot.

         Annyeong readersdeul... ^^
Mian di ff sebelumnya endingnya buat kalian kecewa. Itu cerita aku buat sedikit buru-buru, mian... *bow*

Saya kembali dengan membawa sequel-nya, karena memang niat awalnya akan ada sequel nanti.

Have enjoy it and don’t forget to RCL....

Backsong : Super Junior M – After a minute & Super Junior – This is love

>>>> beware typo <<<<

Musim gugur sudah kembali datang. Daun-daun mulai berguguran dengan warna-warni yang sangat indah disepanjang jalan dan taman-taman kota. Beberapa anak kecil bahkan bermain dengan dedaunan yang gugur itu. Tidak sedikit dari para orang dewasa menasehati mereka agar tidak mengacak dedaunan yang sudah dikumpulkan.

Tidak jauh dari tempat anak-anak kecil itu bermain, seorang gadis sedang duduk sambil mengajak anaknya yang baru menginjak umur satu tahun itu berbicara. Sedikit banyak anak si gadis itu menggumam tidak jelas merespon pembicaraan ibunya.

Sesekali Shin Yeong -ibu si bayi- memainkan tangan Cho Yoon Bi –anaknya- gemas. Setelah dirasa cukup, Shin Yeong beranjak dari taman itu untuk pulang ke rumah mereka.

        Kyuhyun POV
Macet... itulah hal yang paling aku benci. Aku pulang terlambat dari biasanya karena harus menghadiri rapat mendadak karena kedatangan kolega dari Prancis. Dan sekarang... beginilah kondisiku, terjebak diantara mobil-mobil lainnya yang juga sedang dalam perjalanan pulang mereka.

“Aish! Jinjja, kenapa bisa terjadi kemacetan seperti ini? Tidak biasanya,” dengusku kesal sambil memukul kemudi.

Ku hempaskan punggungku ke senderan jok mobil begitu mengetahui bahwa penyebab kemacetan ini adalah kecelakaan beruntun. Berkali-kali ku lirik jam di pergelangan tanganku dan mendesah pelan karena aku sudah terlambat dua jam dari biasanya.

Drrrttt.... drrrtt....

Senyumku mengembang begitu melihat nama istriku di telfon.

“Yeoboseyo...”

“......”

“Ne, aku sedang dalam perjalanan. Dan sekarang aku terjebak macet karena terjadi kecelakaan beruntun,”

“......”

“Heum, arra. Ahh... chagiya, aku rindu dengan baby Yoon.” Senyumku merekah sempurna begitu mendengar suara yang membuatku ingin cepat-cepat sampai dirumah.

“Gomawo, setidaknya itu menghiburku.”

“.....”

“Ah! Chakkaman!”

“.....”

“Kisseu...” ucapku lirih

“.....” tawaku meledak begitu mendengar bentakannya. Haha... aku tau, pasti saat ini dia sedang mengomel tidak jelas karena godaanku.

“.....”

“Ye,”

Klik....!

Langsung ku nyalakan kembali mesin mobil begitu mobil yang ada dihadapanku sudah mulai bergerak.

(( 20 monutes later.... ))

Kepalaku menoleh kesana kemari mencari sosok yang sejak tadi ku rindukan. Namun, ternyata sosok yang ku cari tidak berada ditaman belakang seperti yang biasanya dia lakukan.

“Chagi...” teriakanku berhenti ketika sebuah jari telunjuk menempel dibibirku. “.....ya” sambungku lirih

“Ssssttt....! bisa tidak sih, tidak berteriak ketika memanggilku. Memangnya kau pikir kita masih berdua saja?” dengusnya jengkel sambil berkacak pinggang dan menatapku jengkel.

Ku tarik tubuhnya hingga menempel dengan tubuhku, “Aku merindukanmu...” ucapku jujur sambil mengecup kedua pipinya mesra. Dia memutar bola matanya malas lalu berusaha melepaskan rangkulanku.

“Ya! Lepaskan pelukanmu, aku harus menyiapkan makan malam....” protesnya masih dengan meronta.

__oOo__

Shin Yeong POV
Pria ini benar-benar menguji kesabaranku. Bahkan dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya, meskipun sejak tadi aku meronta. Aku menoleh dan menatapnya tajam dan dia hanya membalas tatapanku dengan senyumannya.

“Oppa, jebal.... mereka akan datang dan aku pasti malu,” pintaku lagi dan... binggo! Dia melepaskan pelukannya juga. “Arraso, kalau begitu pergilah. Aku akan mandi lalu kita makan malam bersama,” ucapnya lalu pergi ke kamar kami setelah mengecupku kilat.

Kedua tanganku masih sibuk dengan beberapa sayuran yang harus ku potong-potong. Sesekali aku menuju panci yang sedang merebus sup untuk mengecek rasa dan kematangannya.

“Aigoo.... apa boleh, eomma membantu?” aku menoleh dan tersenyum senang ketika melihat eomma sudah datang.

Well, terkadang aku selalu bertanya kenapa mereka belum menghilang meski ini sudah berjalan sekitar satu tahun? Tapi, terkadang aku tidak ingin berpisah dengan mereka semua. Bahkan sampai saat ini, setiap aku bertanya apa keinginan mereka, mereka akan menjawab dengan kompak seperti ini, ‘Kau tidak perlu memikirkannya. Cukup bersama kami saja itu sudah cukup’.

Oh, ayolah.... kenapa mereka tidak to the point saja? Bukan maksudku untuk menyuruh mereka cepat-cepat untuk pergi. Hanya saja, aku....

“Omo!” aku terkesiap ketika mendengar eomma memekik. “Ya! Jangan melamun ketika sedang masak. Bukankah eomma sudah sering memperingatkanmu?” ucapnya sambil memukul kepalaku. Aku hanya tersenyum kecut lalu mengangguk.

Disinilah kami sekarang, makan bersama. Baik bersama keluargaku ataupun keluarga kecilku. Aku senang melihat Kyuhyun oppa yang berusaha menyuapi Yoon Bi. Itu membuatku terharu, karena Kyuhyun oppa memperlihatkan sisinya sebagai sosok ayah.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” aku menoleh menatap ke arah mereka berempat lalu kembali menoleh kearah Kyuhyun oppa sambil tersenyum. “Mereka sedang melihatmu, oppa.”

“Jinjja?”  aku mengangguk cepat. “Ahh~ seandainya saja aku bisa berbicara dengan mereka,”

Aku termenung ketika mendengar perkataan Kyuhyun oppa. Dengan cepat aku mencari sebuah buku dan pulpen lalu meletakkannya didepan Ryeowook oppa. “Oppa, bisakah kau menulis sesuatu?” Ryeowook oppa mengangguk lalu mulai mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di buku.

“Y... yeong...” ku dengar suara Kyuhyun oppa yang bergetar karena ketakutan melihat pulpen yang baginya dapat bergerak sendiri. “Berikan ini padanya,” titah Ryeowook oppa padaku. Aku kembali ke tempatku semula dan memberikan buku itu pada Kyuhyun oppa.

‘Aku senang kau menjaga adikku dengan baik, bahkan kau sudah memberikanku seorang keponakan yang sangat lucu. Seandainya saja saat ini aku masih hidup, mungkin aku akan merasakan bagaimana berada diposisimu. Menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah’

Kyuhyun oppa mendongak menatapku sekilas lalu melihat kearah kursi yang diduduki oleh Ryeowook oppa. “Hyung, apa kau baru saja menyesali keadaanmu saat ini? Aigoo, seandainya waktu bisa diputar kembali pasti aku juga ingin melihatmu saat ini. Menjadi posisi yang sama seperti ku, dan... membiarkan anak ku bermain bersama anakmu.” Ucapnya membuatku terharu.

“Eonnie.... aku juga ingin menulis sesuatu” aku mengerti dan mengambil kembali buku itu membiarkan Nari, eomma dan juga appa menulis didalamnya. Satu hal yang baru ku ingat adalah, selain diistimewakan dalam hal kembali ke surga, arwah keluarga juga bisa menulis.

Author POV
Shin Yeong merebahkan dirinya dengan perlahan, tidak ingin membangunkan Kyuhyun yang sudah terlelap lebih dulu sejak tadi. Namun, dugaannya meleset ketika merasakan tangan suaminya itu ternyata melesat memeluk pinggang Shin Yeong dan menariknya mendekat, menghembuskan nafas perlahan di lekukan leher istrinya yang tidur memunggunginya.

“Kenapa kau bangun?” tanya Shin Yeong tanpa membalikkan tubuhnya. Kyuhyun hanya diam sambil membenamkan wajahnya dilekukan leher istrinya. “Kau tau bukan, bahwa aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu.” Sahutnya kemudian. Shin Yeong tersenyum lalu mengusap lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya, dan akhirnya dia juga terlelap.

Kim Dong Goo berjalan memasuki sebuah rumah minimalis milik sang cucu. Sesaat dia melihat kearah taman kecil yang berada di sudut halaman rumah itu, senyumnya mengembang begitu melihat beberapa sosok yang sangat dikenalnya sedang bercengkrama. Alasan kenapa dia bisa melihat sosok itu, ya karena di adalah mantan seorang catcher.

Meskipun dia sudah tidak menjadi seorang catcher, tapi dia tetap bisa melihat sosok arwah. Maka dari itu, dia harus lebih berhati-hati jika melihat salah satu dari mereka.

“Aigoo.... lihat itu, ada kakek.” Ucap Shin Yeong sambil memainkan tangan Yoon Bi, seolah-olah melambai pada kakek-nya.

Sang kakek tersenyum lalu memegang tangan mungil milik cicitnya itu.

__oOo__

‘Kau harus mencari tau keinginan mereka, yeong’

Kalimat itu masih terdengar jelas ketika sang kakek mengatakannya. Pandangan Shin Yeong menatap kosong halaman rumput dihadapannya dengan sedikit murung. Dia tau, kalau dia harus melakukannya cepat atau lambat. Lagipula.... dia ingin mereka semua bahagia di surga.

Tapi... dia tidak bisa jika melepas mereka semua. Meskipun dia sudah bersama dengan mereka, namun tetap saja satu tahun bersama tidak akan bisa menggantikan beberapa tahun yang sudah dia lewati sendirian. Batin Shin Yeong berkecamuk antara menuruti perintah sang kakek atau menuruti ego-nya sendiri.

“Arrkkkh! Eottok’e?!” erangnya frustasi dengan meremas rambutnya pelan.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun lembut. Shin Yeong terkejut begitu melihat Kyuhyun yang sudah duduk disampingnya. Sejak kapan dia pulang? Kenapa aku tidak mengetahuinya?, batinnya bingung.

“Apa yang sedang kau pikirkan, heum?” tanya Kyuhyun lagi sambil menangkup wajah istrinya.

“Kakek ingin aku mencari tau apa keinginan mereka,” jawab Shin Yeong lesu. Kyuhyun tersenyum lalu menarik istrinya, dan memeluknya erat. Sesekali tangannya mengusap punggung serta rambut istrinya agar dia lebih tenang.

“Kalau begitu, kenapa tidak kita cari tau saja? Lagipula.... kau tidak keberatan bukan jika mereka kembali?” Shin Yeong menegakkan tubuhnya menatap Kyuhyun, lalu menggeleng cepat.

Kyuhyun POV
Saat ini aku sedang memperhatikan pulpen yang bergerak dengan sendirinya tepat disamping tempatku duduk. Mungkin bagi sebagian orang tentu akan lari terbirit-birit jika melihat hal itu, namun tidak bagiku. Awalnya memang aku sempat terkejut dan sedikit takut, tapi... sekarang sudah tidak lagi.

Buku tersebut bergeser kehadapanku. “Ya! Hyung, yang benar saja. Memangnya kau tidak memiliki permintaan lain? Kau bahkan sudah tau, bahwa aku sudah menjaga adikmu dengan baik.” Protesku ketika selesai membaca tulisan yang tertulis di buku itu.

‘Anni,’

“Kau yakin?” tanyaku memastikan

‘Ye, permintaanku hanya itu.’

“Tapi....”

‘Ingat, kyu! Hanya kau yang tau, itulah alasannya kenapa aku tidak ingin memberi tahu yeongi apa permintaanku’

Ku hembuskan nafasku perlahan lalu mengangguk pelan.

Tugasku menanyakan apa permintaan Ryeowook hyung dan Nari sudah selesai. Sementara istriku terus membujuk eommoniem dan aboniem untuk memberi tahu apa keinginan mereka.

Tanganku terulur mengangkat tubuh mungil putriku yang ternyata sudah bangun.

“Aigoo... kau sudah bangun, heum? Kenapa kau tidak memanggil appa?” tanyaku padanya dan hanya dibalas gumaman pelan.

Ku langkahkakn kakiku keluar kamar dan berjalan menuju taman belakang untuk sekedar berjemur sambil menunggu Shin Yeong kembali berbelanja bahan makanan yang ternyata sudah habis.

“Bie~ya, jika kau memiliki adik.... apa salah satu dari kalian akan menjadi seorang catcher?” tanyaku padanya dan hanya dibalas pekikan ringan darinya. Ku angkat tubuhnya hingga perutnya sejajar dengan wajahku, ku benamkan kepalaku ke perutnya sambil menggelitiknya gemas.

“Ahh~ apa kau sedang menggoda anakku?” aku menoleh dan tersenyum ketika melihat istriku berdiri disampingku.

“Kau cemburu?” balasku menggodanya. Dia hanya menggendikkan bahunya pelan lalu mengambil Yoon Bi dan duduk disampingku.

“Kau sudah tau apa permintaan eomoniem dan aboniem?” tanyaku memecah kesunyian. Dia mendongakkan kepalanya menatapku setelah beberapa saat yang lalu memperhatikan Yoon Bi yang sedang menyusu padanya.

Ku dengar dia menghembuskan nafasnya pelan lalu menggeleng. “Eomma dan appa selalu berkelit dan menghindar jika aku bertanya hal itu,” keluhnya sambil membenarkan tubuh Yoon Bi.

__oOo__

Shin Yeong POV
Ku tatap wajahnya yang saat ini sudah terbaring dengan lelap. Jujur, aku tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan kakek.

Seluruh jiwaku menolak melepas mereka, meskipun aku selalu berbicara bahwa aku rela untuk melepas mereka. Tapi, itu semua hanya kebohongan belaka.

Setelah puas menatap wajahnya, ku putar tubuhku untuk menatap langit-langit kamar yang berwarna baby blue. Dan akhirnya ku putuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.

“Kenapa kau belum tidur?” tanya Ryeowook oppa

“Oppa sendiri kenapa tidak tidur?” pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja ketika aku menoleh padanya. Dia berdecak sesaat lalu mencubit kedua pipiku gemas. “Memang sejak kapan, arwah bisa tidur?”

“Aakh! Appoyo...” keluhku sambil melepaskan cubitannya dikedua pipiku. “Aku kan lupa, oppa” cibirku sambil mengelus kedua pipiku yang masih perih.

Detik berikutnya, kami berdua terdiam dalam keheningan. Hanya detikan jarum jam yang terdengar mengisi kesunyian diantara kami. Tidak ada aktifitas apapun dirumah ini, karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

“Oppa...”

“Heum?”

“Apa permintaanmu?” Ryeowook oppa mendesah pelan lalu tersenyum tipis. “Jangan bilang kau akan berkata ‘tidak usah memikirkannya, cukup bersama denganku saja’. Ck!” dengusku jengkel.

Ryeowook oppa terkekeh pelan, “Sudahlah. Lebih baik kau kembali tidur, besok kau akan kembali sibuk bukan?” aku memutar bola mataku malas lalu mengangguk dan kembali menuju kamar.

(( three days later.... ))

Aku tidak bisa... aku tidak bisa... sekeras apapun aku berusaha untuk merelakan mereka, tapi tetap saja aku tidak bisa.

Air mataku jatuh menetes membasahi kedua telapak tanganku yang mengepal. Akhir-akhir ini batin dan logika ku terus berdebat untuk merelakan mereka atau tidak. Tapi... sekeras apapun aku berusaha tetap saja sulit.

“Eonnie....” aku mendongak menatap Nari yang berdiri dengan memeluk boneka kelincinya.  “Uljimma....” ucapnya sambil mengusap air mataku yang jatuh.

“Aku tau eonnie sedang kacau karena tidak rela untuk melepaskan kami. Boleh aku tau apa alasannya?” tanyanya sambil sesekali menegrjapkan kedua mata bulatnya.

“Kau cantik, kau pasti lebih cantik dariku. Jika saja....”

“Eonnie!” pekiknya sambil berkacak pinggang. “Apa kau baru saja menyesali takdir? Ahh~ sekarang aku tau, eonnie tidak rela karena eonnie tidak ingin kehilangan kami lagi kan?” aku mengangguk lemah, mengiyakan.

“Eonnie~ya, apa kau lupa jika seseorang yang sudah mati pasti akan bereinkarnasi?” tanyanya sambil memasang senyum manis. “Gwaenchana... aku pasti akan selalu dihatimu, emm... bisa juga baby Yoon akan memiliki sifat sepertiku? Hehe...” aku ikut tertawa kikuk. Semoga saja begitu, batinku.

Dia menoleh ke arah pintu sejenak, lalu kembali menoleh kepadaku. “Aku pergi dulu, ingat! Jangan menangis lagi, arra? Aku tidak ingin melihat eonnie menangis,” ucapnya sambil memelukku erat lalu mengecup kedua pipiku dan mulai berjalan keluar. “Eonnie...” dia kembali menoleh dan menatapku. “Neomu saranghae....” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Author POV
Tidak terasa sudah sebulan lebih Shin Yeong bertarung dengan batinnya sendiri. Antara merelakan mereka atau tidak. Meskipun kemungkinan besar dia akan merelakan mereka –dengan terpaksa- .

Semakin hari tubuh Shin Yeong pun semakin kurus. Pola makannya tidak teratur, bahkan dia menjadi kurang memperhatikan keadaan anaknya sendiri. Begitupun dengan Kyuhyun, sikap Shin Yeong yang berubah drastis membuatnya kewalahan untuk mengurus Yoon Bi dan juga istrinya yang nyaris seperti mayat hidup.

“Apa sudah berhasil?” tanya Dong Goo –kakek Shin Yeong- ketika dia menemui menantu cucunya itu dikantor. Kyuhyun hanya mendesah pelan sambil memijat keningnya. “Sepertinya tidak berhasil,” sahut Kyuhyun

“Bagaimana bisa?”

“Ya! Kakek tua, kau juga mantan seorang catcher kan? Lantas kenapa kau tidak membantunya?” keluh Kyuhyun dengan mata terpejam. “Mianhae, seandainya saja aku bisa. Meskipun aku mantan seorang catcher, aku hanya bisa melihat mereka. Tidak akan bisa berbicara atau apapun meskipun mereka juga melihatku,”

Kyuhyun hanya mendesah dan kembali menyenderkan kepalanya yang semakin terasa pening karena urusan istrinya.

“Tsk, kalau begitu nasehatilah dia. Aku sudah kehabisan akal untuk membujuknya, bahkan baby Yoon pun sampai terlupakan. Dan itu semua karena perkataanmu itu, kakek tua.” Desis Kyuhyun sambil mencoba untuk tidur sejenak. Karena selama dirumah dia sibuk mengurusi Yoon Bi, yang terlupakan oleh Shin Yeong.

__oOo__

Dong Goo berdiri diantara keempat makam milik anak dan juga cucunya itu. Sudah lama dia tidak mengunjugi mereka karena kesibukannya saat ini.

Tangannya terulur meraba sebuah batu nisan yang terukir nama anak-nya disitu. Sekujur tubuhnya bergetar ketika mengingat bagaimana nasib tragis yang menimpa anak-nya dan keluarganya itu.

“Ji Kook~ah.... appa merindukanmu nak, kita akan bertemu sebentar lagi di surga. Semua permintaanku sudah terwujud. Termasuk merawat anakmu, lekaslah pergi dan jemput aku.” ucapnya lirih meskipun air mata berjatuhan dari kedua matanya yang sudah mulai merabun.

Tangannya bergetar membaca kembali hasil check up kesehatannya tiga hari yang lalu. Dia positif terkena liver dan tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, tinggal menghitung waktu yang akan menjemputnya sebentar lagi.

(( at Kyu-Shin house... ))

Kyuhyun baru saja sampai dirumahnya ketika mendengar tangisan anaknya yang sangat keras. Langkah kakinya berderap menuju kamarnya dan menemukan anaknya yang sedang menangis dengan sangat keras. Dengan perlahan dia memeluk anaknya itu dan mencoba menenangkannya sambil sesekali matanya mencari dimana istrinya berada.

Setelah Yoon Bi kembali tenang, Kyuhyun melangkahkan kakinya untuk membuatkan susu bayi untuknya. Sejak Shin Yeong sibuk dengan pikirannya, dia jarang sekali memberi Yoon Bi ASI. Dan itu juga mempengaruhi sistem pertumbuhan Yoon Bi.

“Dia sudah tenang kembali?” tanya Shin Yeong dengan tenang. Kyuhyun langsung menatap tajam istrinya yang sudah duduk dihadapannya dengan santai dan tanpa ada rasa bersalah sama sekali.

“Wae? Sejak tadi aku pergi karena berisik,” sahutnya ketika mendapat tatapan tajam dari Kyuhyun. Kyuhyun menggertakan giginya mencoba menahan emosi yang saat ini sudah mencapai ubun-ubun.

“Ahh~ bisakah kau mandikan dia juga?” pinta Shin Yeong datar saat Kyuhyun beranjak mengembalikan Yoon Bi ke kamar mereka.

Kyuhyun POV
Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa dia menjadi berubah drastis seperti ini? Aku tau Shin Yeong sangat sayang pada Yoon Bi, tapi sekarang?

Setelah selesai memandikan Yoon Bi, dengan hati-hati ku baringkan tubuh mungilnya kembali kedalam box. Ku tatap wajahnya yang sedang tidur terlelap. Mata... hidung... dan juga bibirnya mirip sepertiku, sedangkan alis dan pipinya mirip dengan istriku.

Ahh~ ngomong-ngomong  tentang istri, sepertinya aku butuh penjelasan tentang sikapnya tadi.

Sejak tadi, aku tidak menemukannya dimanapun. Dimana dia?, batinku bertanya.

“Kau dari mana saja?” tanyaku ketika melihatnya masuk sambil membawa sebuah boneka kelinci dan beberapa atribut lainnya yang berbentuk kelinci.

Benda-benda itu... bukankah semua benda itu adalah benda yang diinginkan oleh Nari. Maksudku... Nari ingin memberikan semua atribut yang menyangkut tentang hewan bertelinga panjang itu pada sang kakak yang tidak lain adalah Shin Yeong.

“Apa kau yang memberikan ini semua pada Nari?” tanyanya tajam. Aku hanya menatapnya datar. “Aku bertanya padamu, Cho Kyuhyun!” bentaknya membuatku tersentak karena sejujurnya baru kali ini aku mendengarnya membentak seperti itu.

“Kalau iya, memangnya kenapa?” balasku ringan. Ku lihat raut wajahnya berubah tegang menahan semua amarah dan rasa benci yang sebentar lagi akan meledak.

“Wae? Kenapa kau malah mengabulkan permintaannya?” tanyanya parau

“Dia yang memintaku,” sahutku sambil menunjukkan buku yang berisi tulisan tangan Nari.

‘Kyunie oppa.... bisakah oppa mengabulkan permintaanku? Aku ingin.... oppa mencarikan semua benda-benda yang berbentuk kelinci, berikan itu pada eonnie supaya dia bisa tersenyum lagi. Katakan padanya, aku mencintainya.... gomawo, ^_^’

Tubuhnya merosot jatuh dan dengan sigap aku memapahnya untuk berjalan menuju sofa. Kedua tangannya bergetar memegang buku tersebut.

“Paboya... harusnya kau jangan menuruti permintaannya.”

“Tapi...”

“ITU URUSANKU!!” bentaknya dan berlalu pergi meninggalkanku sendiri. Maafkan aku, yeong...

__oOo__

Shin Yeong POV
Kedua kakiku bergerak perlahan didalam kolam renang. Pikiranku menerawang menatap riak air yang terjadi karena ulah kedua kakiku. Sejujurnya aku masih sangat kesal dengan tingkah Kyuhyun oppa. Tapi... yang dia lakukan memang benar.

Cepat atau lambat pasti akan datang waktu dimana mereka akan kembali. Siap tidak siap, aku harus bisa melepaskan mereka semua.

Tidakkah kalian mengerti perasaanku? Apa kalian merasakan bagai mana rasanya ditinggalkan selama empat belas tahun lamanya tanpa orang tua dan siapapun?

(( one weeks later.... ))

Baby Yoon jatuh sakit, menurut dokter yang memeriksanya dia sakit karena stress. Apa mungkin karena aku? tapi... bagaimana bisa?

Entahlah... saat ini aku sangat butuh ketenangan, Nari sudah kembali lebih dulu tanpa ku ketahui. Dan bodohnya kenapa aku tidak sadar akan ucapannya saat itu?

“Chagiya.... sudahlah, jangan merenung seperti itu. Bukankah, kau juga sudah merelakannya?” aku menoleh dan menatapnya tajam.

“Berhentilah berkata seperti itu, seolah-olah kau merasakan bagaimana berada diposisiku.” Sahutku dingin lalu berdiri dan melangkah meninggalkannya

“Aku tau itu, tapi... bisakah kau jangan egois? Apa kau tidak kasian kepada Yoon Bi?” perkataannya sukses membuatku berhenti melangkah.

“Untuk saat ini.... biarkan aku untuk pergi. Semua ini membuatku tertekan...” balasku tanpa menoleh padanya dan mulai menarik koperku pergi meninggalkan rumah.

“Ya! Cho Shin Yeong!!” panggilnya sedikit berteriak. Namun sama sekali tidak menghentikan langkahku.

Sebelum benar-benar keluar dapat ku dengar bahwa Yoon Bi menangis dengan keras. Kyuhyun oppa yang awalnya berniat mengejarku langsung berbalik arah menuju kamar kami, hingga siluet tubuhnya hilang dibalik pintu kamar kami.

Mianhae oppa.... aku bukan istri yang baik, berikan aku waktu karena aku tidak ingin menyusahkanmu lagi. Mianhae baby yoon.... eomma sudah membuatmu merasakan apa yang eomma rasakan, bersabarlah... eomma hanya pergi sebentar saja. Menyelesaikan urusan eomma.... eomma janji, setelah semuanya selesai, eomma akan kembali bersama kalian.

“Aku pergi....” ucapku sambil menutup pintu.


TBC