Author
: Rina Chan
Cast
: Cho Kyuhyun
Kim Shin Yeong
Cho Yoon Bi
Cho Yoong Ji
Other
cast : silahkan dicari, ^^
Genre
: fantasy, romance, family, oneshoot
Annyeong...
^^
Aku
kembali membawakan kelanjutan Kyu-Shin series.... meskipun cukup lama aku
menundanya karena mungkin aku sedikit bosan, (jujur loh!). jadi, aku harap
kalian menyukai ff ini meskipun mungkin sudah menghilang cukup lama?
Have
enjot it and don’t forget to RCL......
>>>>
beware typo <<<<
Seorang
gadis berumur lima belas tahun sedang berjalan ditrotoar dengan langkah santai
namun pasti. Sesekali mulut gadis itu menggumam menyanyikan lagu yang tengah
didengarnya melalui earphone yang terpasang dikedua telinganya. Kepalanya
menoleh kekanan dan ke kiri berharap orang yang sedang ditunggunya datang.
Dari
kejauhan tampak seorang pemuda berusia sekita dua tahun lebih tua dari gadis,
datang dan mendekati tempat dimana gadis itu berdiri. Keduanya sudah berada
disebuah halte dan sedang menunggu bis yang akan mengantar mereka ke sekolah.
Sang
gadis sesekali mencuri pandang ke arah pemuda yang saat ini sedang serius
membaca sebuah note kecil yang selalu dibawa pemuda itu kemanapun. Dan ketika
sang pemuda menatap balik ke arah gadis itu, dengan cepat gadis itu memalingkan
wajahnya ke arah lain hingga membuat pemuda itu tersenyum simpul melihat
tingkahnya.
Tanpa
gadis itu sadari, dua pasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya dengan
tatapan sinis dan tajam. Beruntungnya pemilik dua pasang mata itu duduk tidak
jauh dari tempat gadis itu berdiri.
“Jie~ya,
haruskah kau selalu membuntuti yonie noona?” tanya namja yang duduk tepat
disampingnya. Namja yang bernama lengkap Cho Yoong Ji itu hanya mengangguk
mantap membalas ucapan Oh Sehun, sahabatnya itu. “Kenapa kau selalu ingin tau
apa dan kemana kakakmu pergi? Meskipun sudah jelas, mereka akan pergi ke
sekolah.” Cibir Sehun sambil menyenderkan punggungnya dengan malas ke senderan
kursi.
“Karena
aku tidak ingin yonie noona dihukum lagi,” ucap Yoong Ji lesu dan ikut
menyenderkan punggungnya. Saat ini, anak kedua dari pasangan Cho Kyuhyun dan
Kim Shin Yeong itu sudah berumur sepuluh tahun dan sedang duduk kelas lima SD.
Sedangkan sang kakak, Cho Yoon Bi, gadis itu saat ini sudah berumur lima belas
tahun dan sedang duduk dijenjang pertama SMA.
Setelah
menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya gadis itu turun bersama
denga pemuda yang juga ikut turun bersamanya karena mereka satu sekolah. Kedua
anak berusia sepuluh tahun itu pun ikut turun dengan sedikit tergesa, takut
jika kehilangan jejak mangsanya.
“See?
Mereka sudah masuk, sekarang lebih baik kita kembali ke sekolah sebelum
akhirnya Lee saem menyadari kita sudah menghilang selama... setengah jam?!”
Sehun memekik kaget ketika melihat arlojinya.
“Tapi
aku harus....”
“Tidak
ada tapi-tapian...!!” potong Sehun cepat sambil menyeret paksa sahabatnya itu
untuk cepat kembali ke sekolah.
__oOo__
Yoon Bi POV
Aku
kembali melangkah ke arah gerbang sekolahku untuk memastikan bahwa bocah kecil
itu sudah tidak membuntutiku. Cih, dasar bocah tengik! Apa kau tidak lelah
selalu memata-mataiku, eoh? Awas saja, kau akan tau akibatnya nanti.
Setelah
yakin bahwa bocah tengik itu yang tidak lain adalah adikku yang bernama Cho
Yoong Ji, tidak ada, aku kembali kedalam halaman sekolah dan berjalan tergesa
sebelum bel masuk berbunyi.
Pelajaran
kali ini bisa dibilang sangat membosankan, terutama pelajaran sejarah bangsa
Korea. Tsk, membosankan dan membuatku ngantuk.
Kepalaku
menoleh keluar jendela dan mataku membulat sempurna begitu melihat sosok yang
tadi pagi berangkat bersama dan bahkan akhir-akhir ini menarik perhatianku.
Sunbaeku.... cinta pertamaku... Im Siwan.
“Yoon....
gwaenchana?” tanya Eunji sahabat yang duduk disampingku sambil mengibaskan
telapak tangannya tepat dihadapan wajahku. Aku tergagap sekilas dan menoleh
padanya. “Nde? N.. ne, nan gwaenchana.”
Eunji
ikut melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang membuatku terdiam selama
beberapa saat. Dia kembali ke tempatnya semula dan mendecakkan lidahnya setelah
melihat ke arahku. “Kau sudah tergila-gila padanya, eoh? Hingga tidak
memperdulikan pelajaranmu,” desisnya dan kembali memegang buku tebal pelajaran
yang sejak tadi ku acuhkan. Aku mendesah pelan dan mengikutinya memegang buku
pelajarana tersebut, meskipun sesekali pandanganku menatap keluar jendela.
(( at
Kyu – Shin home.... ))
Ku
rebahkan tubuhku yang sedikit pegal karena baru sampai di rumah. Tidak biasanya
aku pulang pukul lima sore.
Tok...
tok... tok...
“Nona
muda, anda ditunggu oleh tuan dan nyonya.” Ucap bibi Jung
Dengan
malas, aku turun ke lantai dasar, setelah sebelumnya berganti baju dengan
pakaian santai.
“Bagaimana
harimu, sayang?” tanya eomma begitu aku sudah duduk dihadapan mereka berdua. Ku
lihat, Yoong Ji juga ada dan duduk disamping appa. Apa dia sedang melaporkan
semua yang ku lakukan hari ini?
“Yonie?”
aku menoleh dan menatap eomma yang sedang menatap khawatir ke arahku. “Oh?
Eh... baik, sangat baik” ucapku disertai senyuman
“Tentu
saja sangat baik, dia bahkan rela terlambat agar bisa bersama pria itu,” timpal
Yoong Ji membuatku menatapnya tajam. “Mwo?” balasnya berani. “Neo....”
“Ada
yang ingin kau jelaskan pada kami, nona Cho?” tanya appa.
“Aaa...
itu...”
“Kau
sudah melewatkan tugasmu lagi, nona Cho” sahut Sungmin ahjussi ketika bergabung
bersama kami. Baiklah... sepertinya persidangan akan segera dimulai.
Shin Yeong POV
Sejujurnya
aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini Yoon Bi menjadi anak yang lalai
seperti sekarang. Meskipun aku tau apa penyebab yang menjadikannya menjadi
seperti itu, namun tetap saja itu membuatku kecewa dan khawatir. Oh dear, ada
apa denganmu nak?
“Eomma....”
aku menoleh ketika anak bungsuku, Yoong Ji memanggil.
“Ada
apa sayang?” tanyaku ketika melihatnya mendekatiku. “Apa noona akan dihukum?”
tanyanya. Aku mendesah pelan kemudian menggendikkan bahuku, tidak tau. “Kenapa
noona masih menyukai pria itu? Padahal... dia juga tau kematian pria itu
tinggal menghitung bulan.”
Aku
tersenyum mendengar penuturannya. Tanganku terulur merapikan beberapa anak
rambut yang sedikit acak-acakan. “Dia cinta pertama kakakmu, jadi wajar saja
jika dia sulit untuk melepaskannya.”
Yoong
Ji mendesis pelan. “Cih, jangan bilang jika nanti dia juga menghindar dari
tugasnya lagi gara-gara pria itu adalah cinta pertamanya.” Cibirnya sinis. Aku
terkekeh pelan dan mengacak rambutnya yang tadi sudah ku rapikan. “Jangan
seperti itu. Kau sendiri? Bagaimana dengan tugasmu?”
“Aku
sudah menyelesaikannya dengan baik. Eomma tau sendiri bukan, aku tidak ceroboh
seperti dirimu. Kekeke~” ucapnya bangga
“Aish!
Kau sombong sekali, seperti ayahmu. Ckck...”
“Aku
memang seperti appa, bahkan aku lebih tampan darinya.”
“Mworago?!”
kepala kami berdua menoleh ke sumber suara yang tiba-tiba muncul dari arah
pintu. Disana –diambang pintu- suamiku, sedang melipat kedua tangannya dan
menatap ke arah Yoong Ji.
“Mwoya?
Aku hanya bilang, jika aku lebih tampan dari appa.” Ulang Yoong Ji polos.
Kyuhyun
oppa berjalan mendekati kami. “Ckckck.... apa kau lupa siapa yang membuatmu
tampan?”
“Tuhan...”
jawab Yoong Ji polos membuat Kyuhyun oppa mengusap wajahnya kasar. “Tapi kau
berasal dari benihku!” pekik Kyuhyun oppa
“Benih?
Eomma... apa kau tau apa yang appa katakan?” aku menatap ke arah Kyuhyun oppa
dan mendorongnya keluar dari kamar kami sambil memberinya beberapa pukulan
ringan. “Kau gila!” desisku jengkel.
__oOo__
Kyuhyun POV
Aku
berjalan menuju kamar Yoon Bi setelah tadi diusir oleh istriku sendiri.
Memangnya perkataanku ada yang salah?
“Hei
sayang, kau sibuk?” tanyaku ketika membuka pintu kamarnya dan melihatnya sedang
tersenyum dan sesekali memekik sambil menatap layar Iphone-nya. Gadis gila,
gumamku
“Appa!
Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu, eoh?” pekiknya begitu menyadari aku ada
didalam kamarnya.
“Aku
sudah mengetuk pintu kamarmu lima kali, karena tidak ada jawaban makanya aku
langsung membukanya dan melihat kau sedang cekikikan tidak jelas dengan
Iphone-mu.” Jelasku dengan nada datar
Dia
mempoutkan pipinya jengkel karena ucapanku. Aku tidak memperdulikan ekspresinya
dan lebih memilih mendekati meja belajarnya. Ada seseuatu yang sejak tadi
membuatku tertarik ketika tadi masuk ke sini, yaitu... sebuah pigura dengan
foto seorang pemuda tampan didalamnya.
“Aigoo....
jadi dia yang membuatmu lalai dalam tugas?” tanyaku mengejek dengan
mengacungkan pigura tersebut ke arahnya. Sontak dia melompat turun berusaha
merebut pigura yang aku pegang.
“Appa!
Kembalikan... itu milikku,” rengeknya sambil sesekali melompat berusaha
menggapai lenganku.
Aku
hanya tersenyum evil melihat usahanya. Hingga akhirnya aku meletakkan kembali
pigura tersebut ke atas meja. “Jangan kecewakan orang lain, aku tau kau saat
ini sedang dalam masa pubertas. Tapi... kau harus bisa mengaturnya, hingga
tidak mengecewakan orang lain lagi. Arraso?”
“Arra...”
Ku
usap kepalanya pelan sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.
(( At
family room... ))
Sejak
tadi aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku karena suara kedua anakku
yang sedang bertengkar. Aish! Jinjja.... istriku dan Sungmin hyung sedang pergi
melakukan tugas mereka. Sedangkan Yoon Bi dan Yoong Ji libur sekolah dan sedang
tidak ingin melakukan tugas mereka.
Prakk...
Aku
langsung keluar dari ruang kerjaku dan melihat remote tv yang sudah hancur
tergeletak di lantai. Aku mendongak dan menatap mereka berdua meminta
penjelasan.
Mereka
saling pandang kemudian saling menunjuk satu sama lain. Aku mendesah pelan
kemudian mendekati Tv, mematikannya dan mencabut kabel powernya. Setelah itu
mengambil remote yang sudah rusak itu dan membuangnya.
“Kalian
berdua, kembalilah ke kamar kalian.” Titahku dingin tanpa menoleh pada mereka.
Aku kesal? Jelas, mereka bukan anak-anak lagi yang harus selalu diawasi 24 jam
bukan?
__oOo__
Yoon Bi POV
Ingin
rasanya aku meminta maaf pada appa, tapi aku takut jika appa tidak akan mudah
memaafkanku. Aku tau aku selalu tidak ingin mengalah pada Yoong Ji, tapi tidak
ada salahnya bukan, jika aku ingin mendapatkan jatah menonton Tv ku?
“Apa
kau akan meminta maaf pada appa, noona?” aku menoleh dan menatap Yoong Ji yang
menyender di salah satu pilar yang menempel di dinding. “Memangnya kau tidak
ingin meminta maaf?”
“Tentu
saja ingin, tapi tidak sekarang. Saat ini mungkin appa tidak ingin diganggu,”
“Tsk!
Bocah tengik, kau tidak tau apapun!” cibirku. Dia menggendikkan bahunya tidak
ingin ikut campur. “Kalau begitu, berhati-hatilah.” Serunya ketika dia
menjauhiku.
Tok...
tok... tok...
“Masuk...”
Setelah
mengumpulkan keberanianku, aku perlahan membuka kenop pintu ruang kerja appa.
Sejak tadi jantungku terus berdegup tak menentu memikirkan hal apa yang akan
terjadi.
“Jika
kau ingin meminta kabel power Tv, maka aku akan dengan tegas menolaknya.” Ucap
appa tanpa menoleh sedikitpun padaku.
“Appa....
mianhae, aku tau aku salah... aku...”
“Kau
bukan anak kecil lagi, yeon. Bahkan terkadang sikapmu lebih kekanakan
dibandingkan dengan Yoong Ji,” potong appa sambil menatap ke arahku.
Kedua
tanganku terkepal ketika appa membandingkan aku dengan Yoong Ji. Aku kesal jika
kami selalu dibandingkan meskipun aku tau pasti selalu Yoong Ji yang lebih
unggul.
“Apa
aku anak appa?”
“Kenapa
kau bertanya seperti itu?”
“Kenapa
appa selalu membandingkan aku dengan yoongie? Meskipun aku tau pasti dia yang
lebih unggul dariku. Dia mewarisi gen appa dan eomma, berbeda denganku.”
“Apa
kau sedang mencoba merendahkan dirimu?”
Kedua
mataku berair ketika mendengar perkataan appa. Dan memang benar apa yang
dikatakannya, aku memang sedang merendahkan diri. Aku iri pada appa dan eomma
yang selalu bangga terhadap yoongie.
Ku bungkukan
tubuhku sejenak meminta maaf sebelum akhirnya pergi meninggalkan appa kembali
bekerja.
(( At
night... ))
“Noona,
makan malam sudah siap. Aku disuruh eomma untuk mengajakmu masuk dan makan
malam bersama,” ucap Yoong Ji sedikit berteriak karena posisiku sedikit lebih
jauh dari tempatnya berdiri.
“Aku
sedang tidak ingin makan...” balasku cukup keras supaya dia bisa mendengarku.
“Arraso...!”
ucapnya dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Author POV
Yoon Bi memainkan kakinya yang dia celupkan ke dalam kolam
kecil yang berisi ikan-ikan kecil yang saat ini sedang mengerumuni kakinya.
Saat ini kedua kakinya sedang dibersihkan oleh ikan-ikan kecil (author gak tau
apa nama ikannya) berwarna hitam yang suka membersihkan kulit-kulit mati.
Sesekali bibirnya tersenyum ketika merasakan rasa geli yang
tiba-tiba dirasakannya.
“Butuh teman, nona Cho?” kepala gadis itu mendongak dan
tersenyum kemudian mengangguk. “Apa yang sedang kau pikirkan sampai kau tidak
makan?” tanya Sungmin sambil menawarkan sepiring pancake pada Yoon Bi.
“Gomawo. Molla, aku hanya merasa iri saja dengan yoongie.”
Ucapnya sambil memasukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.
“Mwo? Kau sedang iri dengannya? Aigoo... kau bukan anak
kecil lagi..”
“Dan itulah yang dikatakan oleh appa,” potong gadis itu
sambil kembali memasukkan pancake ke dalam mulutnya.
Sungmin terkekeh pelan. “Kau benar-benar gadis manja yang
sedang puber.”
Yoon Bi menoleh malas pada pamannya itu. “Jangan katakan
apapun jika menyangkut tentang pubertasku.” Ancam gadis itu
“Aku hanya ingin mengatakan padamu....” Sungmin
menggantungkan kalimatnya. Kepalanya mendongak menatap langit malam yang cerah
dan dipenuhi oleh bintang. “Jangan terlalu dalam menyukai pemuda itu sebelum
kau menyesal.”
“Aku tidak mengerti.” Sungmin menurunkan pandangannya
menatap kakinya yang juga dikerumuni oleh ikan-ikan kecil itu. “Kau tidak
merasakan bahwa akan ada jiwa yang akan mati?”
Yoon Bi terdiam sejenak dan menggumam tidak jelas. “Aku
merasakannya, dan kemungkinan besar dia masuk ke neraka. Tapi aku tidak tau
siapa itu,”
“Jika itu terjadi pada pemuda yang kau sukai... apa yang
akan kau lakukan?” tanya Sungmin sambil menatap keponakannya tersebut. Yoon Bi
berusaha terkejut sesaat kemudian kembali memasukkan sepotong pancake ke dalam
mulutnya. “Itu tidak mungkin. Dia anak yang baik dan aku sama sekali belum
pernah dengar kabar buruk tentangnya.”
“Jinjja? Kita lihat saja nanti. Aku pergi dulu, jangan
terlalu malam berada disini. Jika kau sakit, aku tidak akan memaafkanmu, nona
Cho.” Ucap Sungmin setelah mengacak rambut keponakannya itu.
__oOo__
Yoon
Bi berjalan dengan tergesa melalui beberapa koridor dan menaiki beberapa anak
tangga dengan nafas tersengal. Dia harus sampai dikelas pria itu sebelum
semuanya terlambat. Dia tau, seharusnya dia tidak mendekati pria itu sejak
awal. Namun dia juga tidak bisa membohongi hatinya, bahwa dia memang tulus
menyayangi pria itu.
Perkataan
kedua orang tua dan pamannya dua hari lalu selalu saja terngiang di kepalanya.
Hari ini adalah hari dimana pria itu harus pergi, dia tidak menyangka bahwa
harus dia yang harus mengantar pria itu ke neraka. Siapa sangka pria yang
selama ini dinilainya baik memiliki sifat seperti itu.
“Andwae....!!”
pekiknya begitu tubuhnya jatuh saat akan menaiki tangga terakhir yang menuju ke
kelas pria itu. Kepalanya mendongak menatap tangga yang sepertinya berbayang
baginya. Gadis itu tidak kuat menahan tugas itu, namun itu adalah kewajibannya.
__flashback
ON__
“Kau
harus melakukannya, sayang. Ini semua tahap menuju kenaikan tingkatmu,” ucap
Shin Yeong ibu gadis itu. Yoon Bi melihat ibunya sekilas dan kembali
memalingkan wajahnya ke arah lain. “Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan
mau,”
“Ya!
Neo... apa kau lupa jika kau sering tidak melakukan tugasmu hanya karena pria
itu. Apa salahnya jika saat ini kau yang mengantar pria itu ke neraka, heum?”
Yoon Bi menatap pamannya sinis dan tidak suka dengan apa yang baru saja
diucapkan olehnya. “Ahjussi!!”
“Wae?
Sebenarnya, kau juga sudah merasakan kapan kematian pria yang kau sukai itu
bukan? Ckckck.... kisah cinta yang berakhir tragis.”
“Hyung!”
pekik Kyuhyun begitu melihat putrinya berdiri dengan kedua tangan terkepal
disisi tubuhnya. Tubuh gadis itu bergetar dengan mata berkaca. “Ye, kau benar
ahjussi. Aku memang sudah merasakan itu, namun aku mencoba tidak merasakannya.
Wae? Disaat aku menyukai seseorang, selalu berakhir dengan kematiannya.” Ucap
gadis itu bergetar dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu.
“Oppa!
Kenapa kau tega mengatakan hal sekejam itu pada keponakanmu sendiri?” tanya
Shin Yeong heran
Sungmin
melirik ke arah sepupunya dengan tatapan datar. “Kau saja yang terlalu lembut
padanya, see? Dia menjadi gadis lemah. Itu resiko yang harus ditanggung oleh
seorang catcher neraka, yeong. kami tidak seperti catcher surga yang selalu
bisa berada dikedua sisi baik dan jahat, terkadang kami lebih dominan disisi
jahat meskipun itu sangat sulit.” Ucap Sungmin lalu beranjak dari ruangan itu.
__falshback
OFF__
Shin
Yeong POV
Aku tau ini mungkin akan membuat Yoon Bi sangat terluka,
tapi aku juga tidak ingin jika dia dihukum untuk ke sekian kalinya. Ya Tuhan...
apa yang harus aku lakukan?
“Oppa... aku harus menyusulnya,” ucapku namun belum sempat
aku melangkah Sungmin oppa sudah menarikku untuk duduk kembali di bangku taman.
“Diam dan tunggu saja. Anakmu sedang dalam masa yang sangat sulit, seperti aku
dulu.” Ucap Sungmin oppa sambil menerawang.
“Tapi ini berbeda! Saat itu oppa sudah bisa dibilang
sedikit remaja, tidak dalam posisi yoonie yang sedang dalam posisi labil dalam
hal emosional.” Belaku berharap Sungmin oppa mengijinkanku untuk masuk.
“Jika kau membantunya apa kau akan tega melihat kematian
pemuda itu? Ck, apa kau lupa, bahwa saat yoonie kecil seperti itu kau sudah
pucat?” aku terdiam mendengar rentetan pertanyaannya. Aku tau apa yang
dikatakannya memang benar, tapi... tetap saja aku tidak tega melihat anakku
kesulitan.
Berjuanglah nak, eomma selalu mendukungmu.
Yoon
Bi POV
Andwae... andwae... aku tidak kuat lagi, tapi aku harus
tetap maju sebelum semuanya terlambat.
“Arkh!” pekikku ketika merasakan pergelangan kakiku yang
mungkin terkilir. “Aish! Jinjja... kenapa harus terjadi hal seperti ini?”
“Ayo aku bantu,” aku mendongak ketika mendengar suara
seseorang yang sejak tadi aku cari. Aku mendongak dan terdiam beberapa saat melihatnya
tersenyum manis ke arahku. Dengan sigap, tangannya terulur dan menarik tangan
kananku untuk dikalungkaan ke bahunya.
Dia... Siwan, orang yang sejak tadi membuatku berlari
menaiki anak tangga agar bisa mencapai kelasnya.
“S-sunbae.... gomawo, aku pasti sudah menyusahkanmu.”
Ucapku ketika sudah sampai di ruang kesehatan. Dia tersenyum simpul kemudian
mendekati lemari obat untuk mencarikan obat untukku.
Aku menatap gerak-geriknya dari kejauhan. Menurut info yang
aku dapat, dia akan tewas karena terpeleset dan tertancap pisau yang saat itu
sedang dibawanya, diruangan ini. Satu hal yang membuatnya harus masuk ke neraka
adalah.... karena dia sudah membunuh ibu kandungnya sendiri, ada yang
mengatakan bahwa dia memiliki kelaianan, yang dimana dia akan membunuh
orang-orang yang dia sayangi. Ckckck... aneh sekali.
“Tahan sebentar, mungkin akan sedikit sakit.” Ucapnya
sambil memijat kakiku dengan lembut. Mungkinkah orang seperti dia melakukan hal
sesadis itu?
“Cha! Sudah selesai, kau merasa lebih baik?” aku mengangguk
membenarkan.
Dia kembali mendekatiku dengan membawa sebilah pisau.
Astaga! Kapan dia membawa benda tajam itu, dan kenapa aku tidak melihatnya
sejak tadi?
“Aku dengar... kau mencintaiku, apa itu benar?” aku
mengangguk membenarkan. “Kalau begitu, kau harus bernasib sama dengan ibu dan
adikku.”
“Mwo? Tapi kenapa?”
“Karena aku tidak suka melihat orang yang menyayangiku juga
menyayangi orang lain.”
Aku melongo mendengar ucapannya. Perlahan tapi pasti dia
mendekat ke arahku, dengan tertatih aku menuju pintu ruangan tersebut.
“Pintunya terkunci.” Ucapnya membuatku terkejut
“Buka pintunya sekarang!”
“Shireo! Aku tidak akan membukanya sebelum kau terbunuh.”
Tubuhku bergeser menuju jendela.
Dia semakin mendekat dan mendekat sedangkan aku hanya bisa
memejamkan mataku. Namun....
“Arrrrkkkhhh....!!”
Aku membuka mataku perlahan ketika merasakan sesuatu
mengenai wajahku. Mataku membulat sempurna ketika melihatnya sudah tewas dan...
cipratan darahnya mengenai wajahku. Tubuhku merosot dan bergetar ketika
melihatnya yang sudah tidak bernyawa lagi.
“Haruskah secepat ini? Astaga...”
Aku berdiri dan menatap sinis arwah Siwan yang sedang
tersenyum sinis ke arahku. “Ckckck... kau menangisiku?” cibirnya. Ku usap kasar
wajahku dari air mata yang tadi nyaris jatuh.
“Berhentilah berbicara, apa permintaanmu?”
Dia terdiam sejenak dan berfikir.”Permintaanku? bisakah kau
sering mengunjungi rumah ku, dan beri makan anjing kami Zero?”
“Hanya itu?” dia mengangguk kemudian berbalik dan
menghilang.
Setelah membersihkan sisa darah yang menempel ditubuhku,
aku langsung menyusul eomma, paman Sungmin dan yoongie. Eomma langsung
memelukku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.
“Kekeke~ ternyata usahaku tidak sia-sia,” ucap yoongie
ketika kami sudah berada didalam mobil. “Maksudmu?”
Dia menoleh dan menatapku. “Neo... apa kau tidak tau siapa
yang membuat lantai itu licin?” aku menggeleng cepat. “Memang ada yang membuat
lantai itu licin, hanya saja... wajah orang itu tidak terlalu jelas. Omo!
Jangan-jangan kau....”
“Memang aku,” sahutnya cepat sambil kembali fokus pada
PSP-nya. Kedua tanganku terangkat hendak mencekiknya, namun ku urungkan karena mendengar ucapannya. “Dia
bukan pria baik, maka dari itu aku melakukannya karena tidak ingin kau
terluka.”
Aku memandanganya haru, benarkah dia bocah tengik yang
menyebalkan itu?
“Cih, dasar cengeng!” cibirnya namun sama sekali tidak ku
pedulikan. Aku langsung memeluknya erat hingga membuatnya meronta.
“Ya! Noona, kau menggangguku. Lepaskan pelukanmu!!”
“Shireo!”
“Noona...!!”
“JIKA KALIAN BERDUA TIDAK DIAM, MAKA AKU TIDAK AKAN SEGAN
MENURUNKAN KALIAN BERDUA DI JALAN!!” bentak paman Sungmin yang sukses membuat
adikku terdiam.
Gomawo... bocah tengik,
THE END

